Tuesday, 16 June 2015

Resensi Buku : Garis Batas, Karya Agustinus Wibowo


Garis Batas, karya Agustinus Wibowo, buku ini mengisahkan perjalanan sang penulis di negeri-negeri Asia Tengah; negeri-negeri berakhiran -Stan pecahan Uni Soviet. Dimulai dari Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan, ditempuh melalui jalur darat. Melalui buku ini, penulis seperti mengajak pembaca berpetualang menjelajah negeri-negeri yang baru terbentuk kurang lebih 20 tahunan yang lalu. Mengamati refleksi berbagai hal, mulai dari bentang alam, bagaimana negara2 tsb bekerja, bagaimana roda2nya berputar, bagaimana pemikiran manusia2nya, bagaimana agama & kepercayaan dijalankan dst dst. Lebih menarik lagi, melihat bagaimana wajah Islam di negeri2 tsb, bagaimana dijalankan dan berasimilasi dengan kultur setempat. Setelah dilarang dan dibungkam selama berpuluh-puluh tahun oleh komunisme, Islam di Asia Tengah pun menunjukkan geliatnya setelah negara-negara ini menyatakan kemerdekaan. Pun, negeri Stan-Stan tersebut sebenarnya masih dalam proses pencarian jati diri masing-masing, yg masih tertatih dan mencoba untuk tetap mempertahankan eksistensi nya.

Garis batas, seperti yang dikisahkan dalam buku ini, telah memisahkan manusia satu dan yang lainnya, bangsa yg satu dan yg lainnya. Melalui garis batas, manusia telah dikotak-kotakkan; berdasarkan suku, bahasa, agama, daerah dst dst. Karena garis batas, manusia merasa superior di antara yang lainnya, bahkan sampai sampai saling merendahkan.

Tajikistan - Negeri orang Tajik, selain memiliki bentang alam yg cantik jg terkenal dg paras para wanita nya yg juga elok. Namun, orang asing yg masuk ke negeri ini akan dipusingkan dgn visa & diplomat yg korup serta birokrasi yg njlimet. Termasuk jg sang penulis. Ternyata kehidupan di negeri ini tidak lah mudah. Banyak penduduk kehilangan pekerjaan dan kemiskinan pun dimana-mana. Pun begitu, orang2 di negeri ini sangat menghormati tamu yg datang.

Kirgizstan - Negara orang Kirgiz, masih saudara dgn Tajikistan, dulunya adalah bangsa nomaden yg kmudian di-'rumah'-kan ketika pendudukan komunis. Di sini, bisa dikatakan 11-12 dengan Tajikistan. Namun pengaruh Uni Soviet masih mengakar dan terasa kuat. Di negeri yg tergolong miskin ini ternyata pendidikan sangat diutamakan. Namun ironisnya, lapangan pekerjaan bisa dikatakan tidak tersedia.

Kazakhstan - Negeri orang Kazakh, tiba-tiba menjadi negeri yg kaya mendadak diantara negeri2 Stan lainnya karena memiliki sumber minyak melimpah ruah. Namun biaya hidup sangatlah mahal di negeri ini seakan gaji tinggi pun tidak ada artinya.

Uzbekistan - Negeri orang Uzbek, disebutkan sebagai 'Bukan Negara Normal'. Nilai mata uang Sum sangat merosot. Hingga dikisahkan untuk membeli tiket pesawat pulang ke Indonesia, sang penulis harus membawa 2 kantung plastik penuh uang.

Turkmenistan - Negeri dimana patung Turkmenbashi tersebar diseluruh negeri dan Ruhnama menjadi 'kitab suci'. Kala itu, rakyat terkungkung dan terisolasi karena negara menarik diri dari luar.

Kisah perjalanan ini sebenarnya pernah saya ikuti dulu ketika masih di bangku kuliah. Dalam salah satu kolom di Kompas, seperti tersihir untuk terus membaca dan terus mengikuti kisah perjalanan Agustinus... Sangat menarik! Dan tidak hanya sekedar backpacker-ing... Lebih dari itu... Membuka pikiran & wawasan, belajar bersyukur dari hasil perjalanan tsb; mensyukuri hidup, pun di luar sana masih banyak negara2 yg tidak jauh lebih baik dari Indonesia, menyaksikan mahakarya dan ciptaan Allah SWT melalui bentang alam yg diciptakan; yang akan semakin menambah keimanan, merenungi arti perjalanan itu sendiri sebagai suatu proses, pencarian jati diri dst dst.

Setelah "Selimut Debu" & "Garis Batas", next adalah "Titik Nol", buku2 Avgustin sangat worthed untuk dikoleksi... Banyak hal yang ditemui dari membaca buku ini hingga terkadang membuat mata terpicing dan terbelalak seolah tidak percaya. Namun mungkin memang seperti itu lah adanya...


Spasibo...

Sunday, 17 May 2015

Jakarta oh Jekardah... #Catatan 'Ngantor' di Thamrin

Hampir seminggu terakhir ini saya "ngantor" di Jakarta, tepatnya di daerah Thamrin. Dulu sebelum pindah kantor ke Serpong, unit kerja dimana saya berada di dalamnya memang 'bermarkas' di sana, di jantung kota Jakarta sebelum akhirnya harus pindah ke wilayah pinggiran Tangerang Selatan. Serpong coret, lah ya dibilangnya....
Ketika saya masuk, kebetulan sudah pindah kemari. 

Hampir 2 bulan ini, sepertinya kerjaan saya lebih banyak mengurusi proposal, dari proposal satu ke proposal yang lainnya ceritanya. Sementara, jadi proposal engineer dulu. Ngurusin proposal terus, kapan di propose nya? #Eaaaa... Malah curcol!
Jadi, ngantor di Thamrin beberapa hari terakhir ini masih dalam rangka urusan propose mempropose. Eh, maksudnya proposal. Beneran proposal. Swueeerrrr!

Saya tak hendak membahas tentang proposal. Toh, Alhamdulillah sudah beres terkumpul semua. Walaupun, entah yang mana yang akan goal nantinya. Eh, entah ada yang lolos atau tidak. Yang penting, saya sudah menjalankan dan mengerjakan tugas sebaik-baiknya, semampu yang saya bisa. Yes?! Bukan begitu, seharusnya alibi seorang pegawai baru banget? :)




Yang ingin saya bicarakan adalah kemacetan Jakarta. Topik basi ya! Biarin... Basi, tapi seperti tidak ada habisnya. Salah satu hal yang paling tidak saya sukai dari Jakarta adalah, KEMACETAN! Dan ke-crowded-annya. Bagi saya yang seorang makhluk pecinta damai dan ketenangan ini (ditambah dengan seorang mepet-er) kemacetan dan ke-crowded-an Jakarta seperti horror tersendiri. Saya pernah merasakannya! Ya, walaupun cuma sempat 2 tahunan mencicipinya, cukup untuk memutuskan: sebaiknya tidak untuk terus berada di Kota Jekardah. Tapi boleh lah, untuk sesekali, dua kali, tiga kali atau berkali-kali main maupun berkunjung kesana. :D

Saya dulu sempat 'ngantor' di daerah Gatsu dan pernah juga di bilangan Sudirman. Kawasan perkantoran yang terbilang sibuk.
Seringnya, naik ojeg jadi pilihan kalau sudah kepepet. Baik kepepet waktu untuk absen kalau tidak mau menghadap atasan untuk mendapatkan tanda tangan maupun kepepet bis selalu penuh. Di kantor pertama saya, bagi yang telat melewati waktu toleransi, diharuskan mendapatkan surat ijin dan tanda tangan dari atasan. Dan sumpah, minta tanda tangan atasan karena telat itu bukan suatu hal yang menyenangkan. Sedangkan di kantor kedua saya yang di Sudirman, telat tidak terlalu menjadi permasalahan. Lha iya! Lha wong seringnya disuruh lembur tanpa ada insentif atau uang lembur. Tapi masih lumayan lah dapat makan malam, daripada lumanyun. Iya gak? 

Di kantor yang kedua ini, walaupun telat tidak terlalu menjadi soal, tetap saja ya gak enak aja rasanya gitu di mesin check clock isinya merah semua. Dan juga, kalau sudah kesiangan dikit, bisa dipastikan semakin muacet dan entah berapa lama sampai kantornya. Jadinya, tetap saja ojeg jadi langganan setia saya. Lumayan juga kalau dihitung-hitung, sekali jalan 25 ribu - 30 ribu. Kalau tiap hari sudah berapa. Belum lagi kalau PP ke kantor pakai ojeg. Habis deh gajinya untuk ngojyeg, haha...

Karena macet, jadi banyak waktu yang terbuang dan dihabiskan di jalan. Bagi saya, macet itu pemborosan! Pemborosan waktu, tenaga, energi dan bahan bakar. Bayangkan seandainya tidak ada macet, mungkin mereka-mereka yang terjebak kemacetan itu sudah sampai rumah dan sudah berada ditengah-tengah keluarga. Bisa mengerjakan hal-hal lainnya yang lebih bermanfaat. Memasak untuk keluarga, misalnya. Dan hal-hal lainnya, bahkan bisa istirahat dan bermimpi entah sampai mana, alih-alih stuck di jalan raya. Dan bayangkan juga berapa kilo liter bahan bakar yang terbakar percuma karena kemacetan...
Dua kata, sangat merugikan!

Saya pusing jika terlalu lama menghirup asap knalpot. Ini bukan gaya-gayaan, tapi memang suatu kenyataan. Saya merasa puyeng berada di jalan yang macet. Apalagi kalau misalnya habis hujan, dipastikan kemacetan luar biasa akan terjadi. Padahal, dulu saya kost di daerah Tebet  dan tidak terlalu jauh dari Sudirman. Tapi jangan tanya berapa jam saya sampai di kosan. Jika beruntung, setengah jam sudah bisa sampai. Jika tidak, bisa berjam-jam hanya untuk menempuh jarak yang tidak sampai belasan kilo. Alhasil, sesampai di kosan, saya seperti kehabisan energi. Badan terasa remuk redam dan kepala pusing kliyengan. Maklum, asalnya dari kampung sih ya. Rumah pinggir sawah pula. Mungkin tidak cocok dengan suasana metropolitan, barangkali. Memang, sayanya udik!

Bagi saya, saat-saat berangkat dan pulang kantor kala itu, saat-saat harus menembus kemacetan adalah hal yang paling tidak saya sukai.

Dan bisa dibilang beruntung, sekarang saya berkantor tidak lagi di Jakarta. Beruntung berangkat-pulang kantor terhindar dari kemacetan. Walaupun bisa jadi Serpong coret ini berpotensi macet, setidaknya sekarang masih aman. Walaupun keadaannya seperti 'ala kadar' tidak seperti di Jakarta, setidaknya saya masih bisa berangkat ke kantor pukul setengah 9 tanpa takut telat. Horeee...

Dan Jakarta, macetnya tetap sama. Justru semakin parah. 

Dari ngantor di Jakarta kemarin, baru tahu kalau ongkos Kopaja naik jadi 4 ribu. Terakhir kemarin masih 3 ribu. Eh, kemana aja?!

Pas pulang ke Serpong naik kereta sama saja ya, crowded-nya! Walaupun di gerbong kereta khusus wanita, justru berlaku hukum rimba: dorong-dorongan, yang kuat lah yang bisa masuk. Hahaha... 

Jakarta oh Jekardah....



Sunday, 26 April 2015

Tuhan itu Baik

Kapan hari, entah dimana pernah membaca kisah seorang suami yang setia merawat istri nya yang sakit selama bertahun-tahun. Dengan telaten dikisahkan beliau merawat, mengganti pakaian dan menyiapkan semua kebutuhan sang istri.

Dan kemarin, saya menyaksikan sendiri. Walaupun ceritanya belum 'sehebat' kisah yang pernah saya baca yaitu sudah bertahun-tahun, namun tetap saja, membuat saya terharu hingga meneteskan air mata. Adalah senior di kantor saya, satu bidang. Umur beliau sudah 65 tahun, mendekati pensiun. Karena kanker payudara, sang istri terbaring koma dan dirawat dirumah dengan seperangkat ICU. Sang istri baru berumur 56 tahun.

Tahun kemarin, sang istri masih segar dan kuat, beliau mengisahkan dan menunjukkan foto-foto ketika mereka mengunjungi anak dan cucu mereka di Belanda. Saya ikut membuka-buka album foto, dan benar sang istri masih sehat, segar dan cantik. Masih terpancar cahaya dari mata dan wajah beliau. Sangat jauh berbeda dengan sosok yang saya lihat terbaring lemah, muka pucat tirus mata terpejam dengan selang di hidung beliau. Walaupun saya belum pernah bertemu dengan beliau sebelumnya, namun ketika saya masuk ke ruangan dan melihat kondisi beliau, tanpa terasa air mata saya menetes. Saya pun menangis haru. Beliau masih bisa mendengar walaupun sudah tidak bisa lagi melihat karena kanker telah menyebar sampai ke mata.

Teringat, menjelang akhir tahun 2014 kemarin, saya dan senior saya tersebut pernah bersama-sama dalam suatu kesempatan perjalanan dinas. Dan ketika perjalanan pulang, beliau mencari pepes ikan pesanan sang istri sampai muter-muter kota Tasik. Sang istri masih sehat kala itu. Begitu cepat penyakit kanker telah membuat beliau jadi anval. Sebenarnya sudah semenjak lama beliau menjalani kemoterapi hingga harus memakai wig.

Disela-sela waktu kunjungan kami, senior saya mengisahkan saat-saat berat ketika harus merawat sang istri dan harus ke kantor juga. Sementara mereka hanya hidup berdua saja tanpa asisten dan putri mereka satu-satunya tinggal di Belanda. Setiap hari, beliau bangun pagi-pagi pukul setengah 4 lalu menyiapkan makanan dan berbagai jus untuk istri nya yang memang harus mengkonsumsi makanan dengan nilai gizi tertentu. Sementara senior saya tadi juga harus mengejar waktu agar tidak ketinggalan bis jemputan kantor. Bekasi-Serpong, bukan jarak yang dekat ditambah dengan kemacetan lalu lintas. Apalagi dengan usia beliau yang tidak lagi muda. Setelah sang istri sakit otomatis semua pekerjaan rumah beliau yang mengerjakan dari mulai memasak, menyapu, mengepel, mencuci dll dengan rumah yang tergolong sangat luas sekitar 500 meter persegi. Sebelum akhirnya terbaring koma, tiap 2 jam sekali sang istri harus ke kamar mandi dan beliau harus selalu siap siaga. Oleh karena begadang hampir tiap malam dengan banyak hal yang harus dikerjakan, beliau menuturkan betapa berat perjuangan kala itu. Pernah sampai ke titik dimana beliau mengeluh sama Tuhan (kebetulan beliau sekeluarga seorang Nasrani). Namun beliau mengisahkan justru sang istri marah, tidak seharusnya sebagai manusia mengeluh karena Tuhan itu baik. Dikisahkan juga sang istri tidak pernah sekalipun mengeluh atas penyakitnya. Dan betapa senior saya tadi salut atas keimanan sang istri.

Rumah mereka rapi, tertata dan terawat dengan baik. Walaupun tidak ada asisten karena mereka berdua bertekad semenjak masih muda dulu untuk tidak memiliki asisten rumah tangga. Semua dikerjakan oleh mereka sendiri.

Selepas dari kunjungan itu, banyak hal yang bisa saya dapatkan dan ambil hikmah nya. Selain rasa haru yang menyelimuti dada kala itu dan beberapa bulir-bulir air mata yang tak kuasa untuk ditahan, teriring rasa hormat dan salut dari saya. Terselip doa agar Ibu diberikan yang terbaik....

Terima kasih Ibu, telah memberikan pelajaran bahwa sesulit dan seberat apapun cobaan, jangan pernah meragukan dan menyalahkan Tuhan sedikitpun. 
Terima kasih Ibu, telah mengajarkan bahwa merasa sesakit apapun, untuk tidak (selalu) mengeluh...
Sementara, teringat beberapa saat yang lalu, malu jika hanya sakit nyeri karena arthritis, saya kemudian sampai menangis. 

Pun, sampai sekarang saya masih merinding dan terharu jika mengingat saat saya memasuki ruangan kamar ICU tersebut dan melihat wajah beliau... 
Karena menurut dokter, sepertinya sudah tidak ada jalan. Yang bisa diperbuat hanya menjaga beliau tetap nyaman dan tidak merasa kesakitan.

Wednesday, 15 April 2015

Catatan Galau

Dear Saphe, 

Ah lama sekali rasa nya tidak meng-update mu, ya! Life is very busy recently. Rasanya waktu 24 jam sehari serasa kurang dan tidak cukup untuk melakukan segala yang harus dikerjakan dan ingin dikerjakan. Apa kabar quiling project ku, ya?! Belum tersentuh sama sekali. Beli kertas quiling masih rapi dalam kotak penyimpanannya. Apa kabar cooking project ku ya?! Sepertinya semakin jarang menjamah dapur. Bento-ing ku apa kabar, sudah vakum beberapa saat lamanya.  Project buka toko bento tools juga. Sudah kulakan banyak bento tools, masih jadi tumpukkan saja. Bahkan niat untuk sering-sering menulisi halaman-mu pun ternyata jadi tidak konkrit deh, Saphe. Ingin melakukan ini, melakukan itu, ingin ini, ingin itu banyak sekali. Seandainya ada Doraemon dan kantong ajaib-nya...

Ngomong-ngomong, dalam bulan ini aku berulang tahun, lhoh, Saphe. Sudah lewat sih. Tidak terasa ya, umur semakin bertambah dan sudah tidak lagi muda. Ibu, memberikan ucapan selamat ulang tahun yang pertama kali. Dan seperti biasa, "cepetan nikah" masih menjadi jurus andalan. Aku jadi kelabakan. 

Ditambah, beliau mengabariku bahwa adik ku lamaran dan dalam beberapa bulan ke depan akan melangsungkan pernikahan. Adik lelaki ku, anak nomer 4. Sedangkan aku sendiri anak nomer 2. 

Antara mudah saja dan tidak mudah ya. Di umur ku yang sudah sekian, dimana teman-teman seusia nya sudah menikah dan punya anak, bahkan ada yang sudah 2 atau 3, sepupu-sepupu sudah pada menikah dan punya anak. Disitu kadang saya merasa sedih. Tapi sebenarnya juga tidak sedih-sedih amat sih. Yang Di Atas pasti punya rencana tersendiri dan aku sangat percaya akan hal itu. Mungkin juga Yang Di Atas masih memberiku waktu untuk lebih memperbaiki diri. Walaupun, sudah lewat 3 tahun dari waktu yang diimpikan. Dulu, aku bermimpi menikah di umur 25 tahun :)

Beberapa orang mengira aku terlalu banyak memilih. Mengira aku begini, aku begitu; terutama mengenai kriteria. Mungkin mereka belum begitu mengenalku... Simply, I'm so simple.

Teringat di salah satu halaman sebuah buku yang tidak sengaja aku temukan tempo hari, redaksi tepat nya aku tidak ingat tapi kurang lebih nya seperti ini : Mari serahkan urusan jodoh hanya kepada-Nya. Karena Dia lah yang menciptakan kita, maka sesungguhnya Dia lah juga yang paling mengetahui seseorang yang terbaik untuk disandingkan dengan kita...

Aku memilih percaya. Berdoa... Dan terus berdoa...

Thursday, 12 March 2015

Nyoba Bikin Oreo Digoreng

Hmm... Pengen bikin-bikin sesuatu gitu semacam kue-kue untuk mengisi waktu kala week end, tapi sayangnya oven belum ada. Udah ngiler-ngiler aja bawaannya pengen nyobain kalau liat resep-resep aneka kue kering, cake, biskuit dan sejenisnya. Sementara belum ada oven, nyari resep yang non-baked aja. Dan kebetulan nemu di Hipwee, salah satunya resep Oreo goreng. Ya udah deh dicobain aja. Kebetulan lagi ada promo Oreo di Ind*maret, beli 2 gratis 1, huehehe... Modis, alias modal diskon. Dan ini bikinnya mudah sekali...

Resep saya melihat dari sini, yang ternyata diolah dari sini. Kebetulan ada stok tepung pre-mixed pancake dari kapan tahun gak diolah-olah. Jadinya saya pakai saja tepung pancake pre-mixed, campur 1 butir telur dan air secukup nya. Gini kok masak, pake tepung pre-mixed tinggal campur-capur, huehehe...

Enak juga ternyata! Kapan-kapan bikin lagi ah.... :D






Friday, 6 March 2015

Bento dalam Sebulan (Februari) Kemarin


Wah, baru bisa update dirimu lagi, Saphe... Maafkeun.. maafkeun! Sebulan terakhir ini soalnya sering pulang malem terus. Ken dan Ra2, mereka pindah rumah yang agak lebih jauh. Jadinya perjalanan lebih lama dan sesampainya di rumah badan sudah capek. Walaupun ujung-ujungnya tetep baru bisa tidur di atas jam 11 juga sih. Sudah males mau nulis-nulis di blog, apalagi pake hp. Ditambah lagi, ada rikues untuk nge-les in sepupu mereka si Manda, 2 kali dalam seminggu. Ya sudah deh... Begitulah. Tapi Alhamdulillah semua harus disyukuri, masih ada yang memerlukan tenaga kita setidaknya kita masih menjadi orang yang berguna. Padahal sebenarnya banyak hal dan cerita yang ingin ditulis, tapi cuma sebatas sampai di kepala dan di awang-awang saja, tidak sampai kepadamu.

Hmm...

Ternyata dalam satu bulan kemarin, bulan Februari, saya lumayan banyak bikin bento box. Ada berbagai macam bentuk dan rupa mulai dari bunga-bunga, kelinci, pucca, hello kitty, rilakkuma, kelinci dan lope-lope. Hahaha... Padahal, Senin dan Kamis sudah dirancang tidak bikin. Bikin bento itu seperti nyandu, sekali bikin pengen bikin lagi dan lagi... Iya gak sih? Kalau saya begitu, atau memang cuma lagi "umat-umatan" saja. Jeleknya, mata jadi 'ijo' tiap ngelihat bento tools, bawaannya pengen cepet-cepet  'meminang', heuheuheu...

OK, begitu saja dulu. Dari sekian itu, mana yang paling disukai? Kalau saya, paling suka dengan yang tengah...

Nanti saya coba breakdown  satu-satu untuk di post di sini.... 
(*tsah, breakdown!)

Salam bento mania! Keep calm, make and eat bento :D

Friday, 6 February 2015

Lagi-Lagi, Flower Decoration Bento



Lagi seneng bikin bento dengan motif bunga-bunga. Tapi sayangnya punya cetakan motif bunga cuma 1 saja... 

Jadi isi bekal untuk ke kantor, kotak pertama adalah nasi putih dengan hiasan bunga-bunga di atas nya (wortel, jagung muda, okra, kacang polong) sama kyuri (timun Jepang). Sedangkan lauknya adalah kari ayam yang isinya tidak hanya ayam tapi bermacam-macam sayuran yang ada di kulkas dicemplungin; telur puyuh rebus, wortel, kentang, kacang polong, jagung muda dan buncis.

Sudah bikin bekel begini, setelah selesai rapat ternyata di kantor dapat makan siang dengan menu nasi gudeg. Mau makan yang mana ya enaknya? Atau mau makan yang mana dulu? @_@

Oiya, hari ini entah kenapa kedua ibu saya tiba-tiba telpon. Yang satu ngomong, "Kamu kapan mau nikah? Umur kamu sudah berapa sekarang?! Umur 30 harus sudah punya anak!", dan yang satunya lagi, "Cepatlah kamu segera menikah!!!!!! (pakai tanda seru banyak, serius)

Nikah niku syarate namung kalih, Buk.


................................................................. Kalih sinten? -_-

Minta doanya yang buanyaaakkk aja yaaa.....

*SemakinTertekan*



#Catatan04022015

Wednesday, 4 February 2015

Catatan 02022015

Bento untuk bekal makan siang di kantor hari ini, nasi putih dengan hiasan bunga-bunga di atasnya. Sayurnya oseng pare ditambah teri nasi. Sementara lauknya ada chicken nugget goreng, bakso dan rolade ayam saus teriyaki dan telur puyuh rebus.

Pare, dulunya saya tidak doyan sama sekali. Tapi sekarang jadi doyan banget dan jadi tahu cara memasaknya agar tidak terlalu pahit.

Semalem saya capek dan ngantuk sekali sehabis pulang ngajar les sekalian mampir Gramed dan belanja di S*perindo, sampai tidak sempat berbuka pakai nasi atau makanan berat lainnya. Saya ceritanya puasa; dan tidak sahur juga karena memang di luar puasa Ramadhan saya jarang hampir tidak pernah makan sahur. Hari minggu sebelumnya tidak makan nasi sama sekali, siang makan mie separuh dan sore nya pizza dua potong. Hari Sabtu nya juga sepertinya hanya makan siang saja. Saya khawatir maag saya kambuh seperti tahun kemarin yang lumayan parah serangannya. Saya sampai muntah-muntah terus dan itu sungguh menyiksa.

Ah, sepertinya penyakit "malas makan" belum ada tanda-tanda mereda...


#Catatan02022015


Monday, 2 February 2015

Nemu Bento Tools Murah Meriah


How happy I am today! Ke Carrefo*r dan menemukan bento tools dengan harga masing-masing hanya Rp 4.900 saja. Klo harga normal bisa sekitar 25-30 ribuan Rupiah per set bahkan lebih. Ini 30 ribu rupiah dapat 6 set booo'; 2 buah rice/sushi mold, 1 buah bread mold/cutter, 1 buah cookie cutter, 1 buah 'love' pattern mold dan 1 buah lunch box. Walaupun belum tahu juga dipakainya kapan. Walaupun cutter motif bunga-bunga dan lainnya yg dicari justru tidak ada... *Bahagia itu sederhana, versi Idham*




Tepatnya di Carrefo*r Pamulang. Kemarin mampir kesana sebentar setelah dari PH di bagian depannya. Awalnya emang gak niat nyari-nyari sih, cuma mau nge-cek aja ada gak Tokyo Corner di situ. Soalnya dulu pas pernah kesana enggak ada sama sekali. Pas ada dan ternyata barang-barangnya sedang diobral, seneng banget. Belum pernah nemu yang semurah itu di Indo selama ini. Masih lebih murah di Korea, yang kalau di Daiso 1000 won-an di Rupiahin jadi sekitar 10 ribuan.

Sering-sering aja diobral barang-barang ala Jepangnya. Biar cepet habis :D

#Catatan01022015

Sunday, 1 February 2015

Jumat Berkah Sehat Ceria Bahagia



Hari Jumat, adalah hari yang berkah, hari yang sehat dan bahagia. Selain hari libur untuk umat Muslim, pertama, karena hari Jumat adalah waktunya berolahraga. Kalau saya sih ikut senam aerobik nimbrung di kantor sebelah daripada main bulu tangkis. Yang kedua, biasanya jadwal kontrol gigi adalah hari Jumat. Jadi bersih dan seger banget mulut dan gigi rasanya. Walaupun rada ngilu-ngilu juga sih. Dan yang bikin bahagia karena besok nya adalah hari libur. Sehingga bisa seharian guling-guling di kasur. Ditambah malam hari nya ada acara Dunia Lain Live. Yang terakhir ini abaikan saja.

Jadi ya, mengawali hari Jumat ini, saya pagi-pagi sudah bikin bento untuk dibawa ke kantor. Itu bento nya seperti yang terlihat di atas. Temanya motif bunga-bunga dengan lauk chicken teriyaki bikinan sendiri. Ada sayur-sayuran yang dikukus dan ditambah buah-buahan biar lebih sehat. Moodbooster bagi saya, salah satunya adalah dengan bikin bento box. Lalu setibanya di kantor, ikut senam aerobik di kantor sebelah.

Sore harinya adalah jadwal ke dokter gigi. Pas kontrol terakhir dr. F*nny nanya ke saya;
"Mbak Idham, ini kalau makan pasti pakai sisi yang sebelah kiri ya?"
"Hehe, iya dok. Kenapa memang dok?"
"Pantesan lebih cepet pergerakannya. Besok-besok sisi sebelah kanan juga harus dipakai ngunyah ya!"

Dan dengan bangga nya sekarang saya laporan ke dokter F*nny;
"Sekarang kalau makan saya pakai sisi yang sebelah kanan terus dong dok!"
"Eh harus seimbang kanan dan kiri Mbak Idham! Gak boleh satu sisi saja. Dua-dua nya harus dipakai!"
"Oh begitu ya, dok!"
"Iya"

Aduh, salah maning deh.

"Dok, gigi taring kanan bawah kok belum gerak sama sekali ya?"
"Oh itu, memang belum ditarik kok Mbak!"

Oh begitu. Kirain. Pantesan gak ada pergerakan sama sekali.

Akhirnya sesi kontrol gigi diakhiri dengan pemasangan karet yang kembali seperti sedia kala, yaitu pakai warna silver lagi yang senada dengan warna brachet nya. Ketika ditanya;
"Lhoh kenapa Mbak? Ini warna tosca bagus kok"
"Hehe... saya gak pede dok" jawab saya.

Sebelum pulang, saya sempatkan untuk periksa kadar gula darah dan kolesterol. Awalnya lumayan ngeri karena saya pikir pakai jarum suntik dan diambil darahnya bertabung-tabung kayak periksa darah waktu itu. Ternyata cuma ditusuk pakai kayak jarum halus diujung jari dan diambil darahnya beberapa tetes. Alhamdulillah, baik kadar gula darah dan kolesterol saya masih normal. Berhubung saya penyuka yang manis-manis, baik makanan maupun minuman, takutnya kadar gula darah tinggi. Ternyata tidak...

Alhamdulillah...

Stay healthy and keep strong, ya my body! Anak kosan dirantau, gak ada yang jagain kalo sampai sakit... Dan gak ada tangan ibu yang bisa ngerokin kalo sampai masuk angin... :D

Okok?! 

Harus OK dong....

#Catatan30Januari2015