Sunday, 14 March 2010

21 Febuari 2010

===== Flashback ====

Hari itu adalah tanggal 21 bulan Febuari tahun 2010, bertepatan dengan hari Minggu. Satu hari dimana aku akan berangkat ke negeri baru, meninggalkan Jakarta, meninggalkan tanah air dengan segala kenangannya (untuk sementara ). Menggenapi mimpi seseorang yang sangat berjasa bagiku, yaitu ibuku dan tentu saja mimpiku sendiri "melanjutkan kuliah ke negeri seberang tapi dengan beasiswa penuh". Walau, negara tujuan berbeda dari apa yang sebelumnya sangat kami impikan, tetap bersyukur atas kesempatan yang Allah berikan... Bagaimanapun, diluar sana banyak orang yang ingin seperti kami tapi belum diberi kesempatan. Dengan bersyukur, segalanya akan terasa lebih indah dan lebih mudah. Untuk mendapatkan kesempatan itupun, bukan tanpa usaha dan jerih payah. Dan hari itu aku akan terbang ke Korea Selatan, 21 Febuari 2010, untuk melanjutkan studiku.

Langit pagi hari itu tampak cerah, tak nampak mendung seperti hari-hari sebelumnya, matahari bersinar terang, dan angin yang berhembus masih sama arahnya. Serasa ingin membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tak perlu risau untuk menghadapi sebabak adegan hidup yang sebentar lagi aku jalani, yaitu perpisahan.
"Ya, semua akan baik-baik saja.... Tak perlu kau sesakkan dada atau menggenangi pipimu dengan air mata kesedihan, karena kau telah memilih jalanmu", terdengar samar namun jelas terdengar.

Cukup merasa beruntung karena di hari terakhirku disana, masih diberi kesempatan bersama orang-orang yang aku kasihi dan mengasihiku. Ayah datang ke tempatku, dan menatakan koperku. Aku lihat kasih sayang dan perhatian yang besar di matanya, saat beliau memasukkan baju-baju dan barang-barang lainnya ke koperku. Walaupun kami jarang bertemu, dan beliau bukanlah seorang ayah yang bisa memberikan semua apa yang diinginkan oleh anak-anaknya, tapi aku merasa beruntung memilikinya sebagai ayahku. Tiap guratan di wajahnya menandakan betapa kerasnya kehidupan yang harus ia jalani, demi kami keluarganya, demi aku juga kala itu. Adik perempuanku datang juga untuk mengantarkanku ke bandara hari . Walaupun kami hanya berselisih umur 2 tahun, dia sangat menghormati aku sebagai kakaknya. Kami memang jarang bertemu semenjak aku SMA, terlebih ketika kuliah dimana aku harus pindah ke kota lain yang lumayan jauh. Sikap respect dan perhatiannya sangat terlihat ketika aku pulang ke rumah, dia akan memberikan waktu dan tenaganya untuk aku, untuk apa yang aku mau. Sms-sms nada perhatian sering datang darinya, kadang membuat aku malu kenapa bukan aku dahulu yang mengirimkannya, aku sebagai kakaknya. Walaupun kami tak sedekat kakak beradik si Ipin-Upin, tapi kami bersaudara dengan cara kami sendiri. Seperti bintang, biar dilangit manapun ia berada, kami akan tetap tahu tempatnya berada disitu.

Hari itu, tanggal 21 Febuari 2010, aku akan pergi meninggalkan seseorang, yang hanya dengan mendengar suaranya saja, aku akan diselimuti rasa hangat, mungkin itu yang namanya rasa bahagia. Serasa baru sebentar aku bisa bersamanya, hanya ada kami, dia sepenuhnya, dan kini aku harus pergi meninggalkannya. Hari itu adalah hari terakhir bersamanya, menghabiskan setiap detik kebersamaan kami dengan saling menguatkan. Dia mengantarkanku mencari barang-barang untuk melengkapi perbekalan. Kami ke money changer menukarkan rupiah ke mata uang won. Meskipun terjadi sedikit masalah, tapi bersamanya, semua seakan mudah untuk diatasi. Pukul 14.30, kami ke money changer di daerah Tebet (sebelumnya aku udah janjian dengan pemiliknya, jam 14.00 disuruh datang, dan aku udah menyerahkan uang muka di hari sebelumnya). Ternyata, tempatnya tutup. Aku pun agak panik. Aku telpon si pemilik money changer (namanya Ibu Farida), setelah beberapa kali telpon yang gak diangkat dan sms, akhirnya beliau menelepon balik. Ibu Farida menyuruh kami datang ke rumahnya dengan memberikan alamat dan ancer-ancer. Kamipun bergegas mencari alamat tersebut. Jalan Dewi Sartika telah kami susuri hingga ke ujung tapi tidak menemukan sebuah bank yang ia sebutkan untuk jadi patokan (belakangan baru diketahui bahwa rasa panik dan tergesa-gesa akan membuat segalanya jadi tidak lebih baik). Rasa panik melandaku lagi. Aku telpon Ibu Farida kembali. Setelah berkali-kali telpon tidak diangkat (mungkin karena sedang berada di jalan atau berada di acara yang tidak memungkinkan untuk menerima telpon), sangat lega ketika ada yang menjawab diujung sana. Beliau memastikan kalau bank itu ada dan menyuruhku mencari sekali lagi. Kami pun kembali lagi, berputar arah untuk mencarinya. Akhirnya kami temukan, dan kami ikuti petunjuk selanjutnya, kami pun sampai di rumah Ibu Farida. Aku lega setidaknya sudah menemukan rumahnya, sedangkan waktu sudah sangat sore ketika itu. Aku memencet bel rumah, keluarlah seorang gadis yang masih muda, sepertinya mbak yang membantu di rumah itu. Tidak ada siapa-siapa pun di rumah kecuali dirinya dan dia bilang Ibu Farida nya sedang pergi tak tahu kemana sekeluarga dari tadi pagi. Panik tahap ketiga melandaku. Aku pun sms dan telpon untuk kesekian kalinya. Tapi kali itu benar-benar tidak ada jawaban. Aku pikir dengan disuruh datang ke rumahnya, telah ada seseorang untuk di rumah yang akan melayani transaksi dan menyerahkan uang pesananku, ternyata tidak. Akhirnya kami pun menunggu dengan aku diliputi rasa galau. Setelah hampir setengah jam kami menunggu, Ibu Farida pulang dengan suami dan anak-anaknya. Kali ini aku benar-benar lega. Beliau meminta maaf kepadaku, aku pun meminta maaf karena telah mengganggu acaranya. Akhirnya kami bertransaksi, aku menukarkan uang rupiahku ke mata uang won. Dan terlihat bahwa Ibu Farida sebenarnya adalah seorang yang beriktikat baik (jadi merasa bersalah karena sempat memiliki pikiran yang buruk tentang beliau). Akhirnya kami pun segera pulang mengingat waktu waktu sudah menunjukkan jam 16.30, aku harus cepat pulang untuk siap-siap dan membereskan semuanya. Karena jam 20.30 janjian ketemu sama orang di bandara yang mau berangkat ke China jam 22.00, jadi aku harus berangkat lebih awal (walaupun pesawatku berangkat jam 23.25). Sampai di kosan, aku segera siap-siap, dia pun segera ke pulang dan ke tempat temannya. Lagi-lagi, aku saat itu merasa semua akan baik-baik saja jika bersamanya.

Pukul 18.30, dia menjemput untuk mengantarkanku ke bandara (Terima kasih sangat banyak hingga tak terhingga, untuk teman kami, redthundie, atas kebaikannya mengantarkanku untuk sampai ke negeri ini. Semoga segera dibukakan pintu kebahagiaan sejati atas dirinya, dan Tuhan berkenan memberikan semua yang terbaik baginya, Amien). Mobil terus melaju malam itu, seiring detak jantung yang tak menentu atas berbagai macam rasa yang bergemuruh di dadaku hingga sampai di bandara. Ya, malam itu sepertinya semua baik-baik saja. Tanpa seorang pun tahu seperti apa yang sebenarnya aku rasa. Bercampur aduk. Aku sedih sekaligus senang. Aku ingin segera pergi sekaligus ingin tetap tinggal. Aku risau, galau, aku tak menentu. Tapi selalu ingat, bukankah cinta mengajarkan kita untuk kuat? Bukan sebaliknya. Dan aku harus menahan air mata agar tak sampai jatuh di malam itu. Aku harus pergi dengan tersenyum untuk menguatkannya bahwa perpisahan bukan akhir dari segalanya. Teman-teman yang lain diantar keluarga mereka, papa mama, kakak dan adik. Suasana haru perpisahan menyelimuti walaupun tak tampak jelas terlihat.

Sms ucapan selamat jalan banyak masuk ke handphone ku. Walaupun tidak bisa mengantarkan, ibuku menelpon malam itu dan memastikan semuanya baik-baik saja. Tiba giliran aku harus check in, dia masih setia menungguiku, dan pukul 23.00 aku harus ke ruang tunggu penumpang. Saat itu terakhir kali aku melihatnya dari balik kaca. Akhirnya, pesawat Garuda membawaku terbang meninggalkan Jakarta, membawaku jauh darinya, dari keluargaku, dari teman-temanku dan semua yang ada di Indonesia. Dan aku akan merindukan waktu untuk bisa melihatnya kembali, merindukan waktu bertemu mereka semua.  Si burung besi semakin jauh terbang tinggi membawaku bersamanya, bersama gemuruh di dadaku, semakin jauh, jauh dan jauh di langit malam itu........

3 comments:

Nuna said...

salam..im from malaysia..may i ask u, what course did you take?

Idham 다미시 said...

Waalaikum salam wr. wb
Hai, nice to meet you, Nuna...
I take Material Science and Engineering... Yeungnam University...

Idham 다미시 said...

Do you want to come here too, Nuna?