Sunday, 14 March 2010

Beginilah Jika....

Apa jadinya jika datang ke suatu negara tapi tidak menguasai bahasa dan tulisan setempat? Apalagi huruf yang digunakan di negara tersebut bukanlah huruf latin.... Bisa dibayangkan, seperti terasing dan sangat memusingkan... bahkan menyusahkan....
Sayangnya itu yang terjadi pada saya sekarang ini. Datang dan tinggal di Korea dalam jangka waktu yang tidak bisa dibilang sebentar tanpa bekal persiapan bahasa sedikitpun. Seandainya sebelum berangkat punya kesadaran untuk belajar bahasa terlebih dahulu, pasti akan sedikit mempermudah. Ah, tapi kenapa penyesalan selalu datang belakangan. But, it's fine. Life must go on. (Dan silahkan menikmati keterasingan anda dinegeri ini). 
Mari kita mulai ceritanya :
* Waktu itu saya beserta teman yang lain (sama-sama baru datang), kami bertiga berbelanja di minimarket dekat rumah, namanya Hom*rt (semacam Alfam*rt kalau di Indonesia). Biasanya jika ingin berbelanja, kami sama senior kami yang sudah lama tinggal disini, tapi kebetulan kami sendirian  waktu itu. Ada teman yang ingin mencari minyak goreng. Kami pun mencari kesana kemari, dan hasilnya kami menemukan beberapa jenis cairan kuning mirip minyak goreng. Tapi sayangnya, semua dalam huruf Hangul dan berbahasa Korea, tidak ada petunjuk dalam bahasa Inggris sama sekali. Ah, tidak.... bagaimana kami  bisa memastikan kalau itu benar-benar minyak goreng. Akhirnya, kami pun memberanikan diri bertanya pada seseorang yang sedang berbelanja disitu, seorang bapak-bapak, yang kebetulan siangnya salah seorang temanku bertemu dengan beliau di lab nya. Dan beliau pun membenarkan kalau itu adalah minyak goreng. So, what is the problem? Masalah terjadi setelahnya (keterkejutan kali ya lebih tepatnya, bukan masalah). Belakangan baru kami ketahui bahwa orang yang kami tanyai tentang minyak goreng itu ternyata adalah seorang profesor, dan dia mengajar kami untuk sebuah mata kuliah. Dengar-dengar beliau adalah seorang profesor yang jenius, lama tinggal di Amerika dengan pengalaman riset yang hebat. Waktu pertama masuk kelas, dalam hati aku tersenyum, "orang yang kemaren aku tanyain tentang minyak goreng ternyata adalah seorang profesor hebat, dan jadi dosenku sendiri". Jadi agak malu mengingat-ingatnya... Sampai sekarang pun masih suka senyum-senyum sendiri kalau ingat kejadian itu...
(Note : sebelumnya kami ingin mencari garam dapur, karena banyak bubuk putih yang mirip garam akhirnya kami bertanya kepada bapak-bapak petugas di minimarket tersebut. Kami bertanya dengan bahasa Inggris "where is the salt?" dengan agak-agak khawatir jika ia tidak mengerti maksud kami. Bersyukur  sekali ternyata dia mengerti dan menunjukkan dimana letak garam berada. Aaahhh, lagi-lagi seandainya jika kami telah menguasai bahasa Korea, tapi.... )

*  Ketidakbisaan mengenai huruf dan bahasa Korea juga cukup menyulitkan diri kami. Terutama dalam hal belanja makanan. Kami harus berhati-hati dalam memilih dan berbelanja makanan karena di negara yang hanya sangat amat sedikit penduduk yang beragama Islam ini (kebanyakan mereka adalah pendatang malah), tentu sangat banyak makanan dan minuman yang mengandung bahan-bahan tidak halal bagi kami. Tidak ada label halal untuk itu, kita yang melabeli sendiri. Jadi kalau ingin membeli makanan atau minuman, kami harus membacanya terlebih dahulu satu persatu, boleh kami makan asal tidak mengandung : daging babi, lesitin, gelatin dan shortening. Alhasil karena belum expert, kita lebih banyak bertanya pada senior kami, apakah makanan atau minuman tersebut boleh dimakan atau tidak. Sama halnya dengan menentukan toko penjual makanan dan menu apa saja yang halal buat kami. Pernah suatu hari kami berbelanja sendiri lagi di minimarket tersebut, dan untuk menemukan barang-barang yang ingin kami cari, itu membutuhkan waktu yang lumayan lama. Awwww... awwww.... awwww....

* Di atas masih tentang makanan, belum lagi tentang masalah lainnya. Misalnya urusan akademis kami, dimana website kampus dalam bahasa Korea dan huruf Hangul. Harus sering dan banyak-banyak bertanya pada teman kami yang orang Korea. Itulah konsekuensinya.... Seandainya jika bahasa Inggris dan tulisan latin digunakan disini (kalau bisa bahasa Indonesia, hahaha, mimpi kali ye....), tentu kami tak perlu terlalu banyak bertanya. Kebingungan dan keterasingan bertambah jika kami terdampar di kelas yang memakai bahasa Korea, mendengarkan teman-teman satu lab yang bercakap-cakap dalam bahasa Korea dan dalam lab meeting yang dalam bahasa Korea juga (oh tentu saja, ini negara mereka, saya yang menumpang hidup datang kesini, jadilah saya lah yang seharusnya menyesuaikan diri, bukan mereka). Semua-muanya in Hangul and Korea, sedikit pusing memang. Tapi lama-lama akan terbiasa dan bisa dengan hal itu kata salah senior saya. Semoga... Dan suatu saat nanti tidak perlu bingung lagi,,, (berharap pada kelas Korea yang saya ikuti).

Jadi, sedikit masukan dari saya, pelajari terlebih dahulu bahasa dan tulisan negara setempat jika ingin datang dan tinggal di suatu negara, makan urusan anda akan jauh lebih mudah.... :)

0 comments: