Thursday, 25 March 2010

Lasem, I Miss You

Setiap hari merasakan udara dingin, jadi kangen dengan cuaca di tanah air... Terutama di kampung halaman saya, yaitu Lasem tercinta. Jarang melihat sinar matahari, jadi kangen dengan matahari yang menyengat disana, di Lasem, tanah di mana saya dilahirkan dan menghabiskan masa-masa kecil saya. Banyak kenangan terukir di kota kecil, di sebelah timur Kota Rembang itu. Tidak terasa sudah cukup lama saya meninggalkannya, 10 tahun lebih...

Baru menyadari bahwa terik matahari di Lasem itu adalah nikmat setelah berada ribuan kilo meter jauhnya dari sana. Dulu, terlalu banyak mengeluh kalau Lasem itu sangat panas, sumuk, gerah, dan sejenisnya. Bahkan sampai terakhir kalinya berkunjung kesana sebelum hijrah ke negeri ginseng ini. Dan sekarang, justru sangat merindukan bisa bermandi sinar matahari setelah selalu berhadapan dengan suhu dingin bahkan sampai di bawah nol derajat. Seandainya nanti bisa pulang kesana, akan saya puas-puasin "manas-manasnya".

Bicara soal Lasem, jadi seperti flash back mengingatkan saya kembali ke masa-masa kecil sampai saya SMP. Gunung Lasem, alun-alun Lasem, jalan Kajar, batik tulis, lontong Tuyuhan serasa berseliweran di depan mata saya. Ternyata saya merindukan semuanya, merindukan Lasem dengan segala isi dan suasananya serta keluarga saya yang berada disana. Masih ingat waktu masih SMP, pulang sekolah naik "dokar" bareng-bareng temen, atau kadang naik sepeda di siang yang terik melewati jalan Kajar dan jalan raya Lasem. Sebelum pulang ke rumah, kadang main dulu di alun-alun yang kala itu masih jadi tempat favorit nongkrongnya anak-anak Lasem, mencari makanan favorit, yaitu mie ayam. Jalan-jalan ke Kajar, kadang mendaki sampai ke gunung nya kalau hari minggu pagi. Main-main di sawah ikut menanam padi sambil bermain lumpur. Dan masih banyak lagi kenangan yang terukir disana, di Lasem tercinta.

 ( Salah satu sudut Lasem, indah bukan? Matur suwun buat yang ngasih foto ini ke saya untuk di upload disini )

Entah mengapa walaupun bukan daerah yang tergolong istimewa dengan kekayaan alam yang melimpah dan prestasi yang segudang, saya merasa bangga menjadi "orang Lasem". Kota yang dikenal juga dengan "Tiongkok Kecil" karena banyak terdapat perkampungan Tionghoa ini walau bagaimanapun adalah kampung halaman saya, tempat saya lahir dan dibesarkan. Memang sangat jauh apabila dibandingkan dengan daerah yang telah maju dan berkembang lainnya, apalagi dengan tempat dimana saya tinggal sekarang. Namun, Lasem juga banyak menyimpan "sesuatu" yang patut untuk dibanggakan. Batik Lasem terkenal dengan ciri khasnya yang merupakan perpaduan unsur kebudayaan Jawa dan Tionghoa, batik pesisir dengan pewarnaan  yang cukup berani tapi indah. Saya bangga dengan batik  tulis Lasem, sampai ke negeri ini pun saya membawanya sebagai cendera mata untuk profesor saya. Lasem juga punya pesisir pantai yang sangat menawan, pantai Caruban dan Bonang contohnya, saya sering kesana kalau pulang ke Lasem. Saya yakin jika ada investor yang berminat mengembangkannya, maka pantai-pantai ini bisa jadi objek wisata yang jauh lebih menarik. Lasem juga terkenal sebagai kota santri karena banyak pondok pesantren berdiri disini. Masih ingat dulu waktu pulang les sore-sore, banyak menjumpai para santri yang berangkat atau pulang dari mengaji. Belum lagi, daerah Bonang yang terkenal dengan sentra terasi dan ikan asinnya, semakin menambah  "value" dari kota di daerah pesisir ini. Dan satu lagi, hasil bumi dari Lasem yang jadi favorit saya, yaitu buah mangga. Dulu waktu jaman saya kecil, apabila musim mangga tiba, bisa dikatakan sampai muntah-muntah (agak lebay) karena saking banyaknya. Buah mangga dari Lasem enak dan manis menurut saya, terutama mangga "gadung" dan "golek". Sampai saya kuliah dan kerja di Jakarta pun, sering minta dikirimin mangga dari Lasem. Teman-teman kuliah sangat suka dengan mangganya, dan sering nanya oleh-oleh mangga kalau saya pulang. Tapi sayang khan adanya tergantung musim. 

Waaahhhh... semakin panjang lebar bicara tentang Lasem, semakin membuat saya tambah kangen ingin pulang kesana. Apalagi, di saat-saat seperti ini dimana suhu udara masih belum juga bersahabat. Rindu Lasem, pengen makan lontong Tuyuhan, pengen makan martabak manis, mie ayam dan es layar putih di alun-alun, pengen menikmati kue "dumbeg"... Soalnya disini tidak ada makanan seperti itu... (hiks... hiks...*lebay mode on). Rindu Lasem, pengen maen ke pantai Caruban, pantai Bonang dan gunung Kajar... Rindu Lasem, dengan suasana malamnya yang tenang... Rindu dengan kota yang selalu mengingatkan masa-masa susah sekaligus senang, dan mengajarkan bahwa hidup itu butuh perjuangan... Rindu Lasem dengan segala isi dan suasananya...
*Sambil membayangkan kira-kira bagaiamana ya keadaan kota Lasem kalau saya pulang nanti dan beberapa tahun yang akan datang. Apakah masih ada "batik Lasem", apakah masih dijuluki "kota santri", apakah akan semakin berkembang pesat... Ah, terlalu banyak apakah, padahal belum berbuat sesuatu untuknya...

Anyway,
Lasem, I Miss You

And,
I'm proud to be of yours...

Tetap semangat bagi para generasi muda Lasem!!! Hwaiting!!! Mari kita tunjukkan bahwa kita punya kemampuan dan tidak kalah dengan yang lainnya (untuk anak-anak Lasem yang kebetulan membaca tulisan ini dan untuk saya sendiri).

Gyeongsan, Maret 2010 
Di tengah menanti musim semi yang tak kunjung tiba

0 comments: