Tuesday, 23 March 2010

-Pemulung-

Flash Back...

Pemulung adalah orang yang memungut barang-barang bekas atau sampah tertentu untuk proses daur ulang.
Di atas adalah arti dari pemulung menurut ensiklopedia bebas, wikipedia. Dan pekerjaan ini dianggap memiliki konotasi yang negatif, masih menurut si wiki, dan kebanyakan orang pada umumnya (of course). Terbayang, seorang pemulung dengan pakaian yang kumal, topi, karung besar serta batang besi yang ujungnya dibengkokkan untuk memungut "sesuatu".  

Dan, saya (kami) pernah jadi salah satu dari mereka... di suatu hari, di Korea. Ceritanya kami baru datang dari Indonesia, baru 2 hari sampai di Korea. Untuk tinggal di lingkungan baru tentu saja membutuhkan peralatan-peralatan penunjang, in this case, kami butuh lemari untuk menyimpan baju. Dalam kondisi belum stable dan dengan uang saku yang tidak bisa dibilang banyak, cukup merepotkan apabila harus membeli almari baru, yang pasti harganya akan sangat mahal. Ditambah dengan pertimbangan kami akan disini "hanya" 2 tahun, jadi tidak terlalu signifikan kalau harus membeli baru untuk jadi priority. Hanya butuh sekedar tempat untuk menyimpan baju-baju kami. Sewaktu pulang dari acara "pelepasan dan penyambutan" wisudawan dan mahasiswa baru dari Indonesia, kebetulan ada senior yang memberitahu kami bahwa di dekat rumahnya ada lemari yang masih bagus, dibuang. Dia bilang coba lihat kalau misalnya masih bisa digunakan. Memungut barang-barang yang masih bisa dimanfaatkan, merupakan hal yang umum bagi kami, mahasiswa dari Indonesia, India dan Pakistan. Mungkin dengan pertimbangan karena kami hanya tinggal sementara disini, tidak perlu membeli baru karena toh tidak bisa untuk dibawa pulang dan juga pertimbangan "money".  Pertama kali mendengarnya, saya juga merasa cukup aneh, tapi kemudian malah jadi terbiasa... haha...

Rata-rata orang Korea banyak membuang barang-barang mereka walaupun masih dalam kondisi bagus. Menurut analisa saya mungkin karena rumah mereka tidak terlalu luas, jadi akan sangat terasa sempit kalau terlalu banyak barang disana. Faktor kedua mungkin karena tingkat perekonomian mereka yang cukup tinggi, jadi tidak ada istilah sayang atau "mboh eman" dalam bahasa jawanya. Disudut-sudut tempat sering kali  banyak saya jumpai barang-barang yang dibuang dalam kondisi yang masih bagus, dari meja, lemari, rak buku, peralatan masak dsb. Biasanya orang-orang di sini membuang sampah dan barang-barang di tepi jalan, di bawah tiang, disudut-sudut, jadi cukup terlihat pandangan orang lewat. Sampah-sampah itu nantinya akan diambil oleh petugas sampah. Tapi jangan bayangkan tempat pembuangan yang kotor seperti di tanah air, disini bisa dikatakan bersih. Sampah harus di bungkus plastik yang rapi, kemudian baru dibuang. Dan plastiknya pun bukan plastik sembarangan, tapi plastik yang telah ditentukan oleh pemerintah. Kita harus membeli untuk mendapatkannya dan harganya lumayan mahal.

Kembali ke benang merah, akhirnya kami pun mengecek kondisi lemari tersebut, dan ternyata masih bagus dan masih layak untuk dipakai. Akhirnya kami berempat pun membawanya dari tempat pembuangan ke rumah sewa kami. Cukup berat dengan jarak yang lumayan jauh. Disepanjang jalan, orang-orang sekitar pada melihat kami dengan tatapan heran, mungkin apa yang kami lakukan terlihat aneh di mata mereka. But, we don't care, we don't know about them and otherwise. So, cuek is the best. Yang penting kami tidak mencuri. Dengan susah payah, berhenti tiap beberapa meter saking beratnya, naik tangga ke rumah kami di lantai 2 (untung cuma lantai 2), sampai juga di rumah. Kami membersihkannya dari debu yang banyak menempel karena cukup lama berada di tempat pembuangan. Dan jadilah tempat untuk menyimpan baju-baju kami. Walaupun hasil dari memungut, it's okay, yang penting manfaatnya dan bisa dibilang menyelamatkan lingkungan dari sampah juga ( hehe, sedikit ngeles ).

 ( Salah satu hasil dari "memulung" kami, masih cukup bagus untuk dipergunakan kembali )

Dan sejak itu "pungut memungut barang" di tempat pembuangan jadi hal yang lumrah bagi kami. Suatu hari kami menemukan sebuah meja kayu yang masih bagus, kami bawa pulang dan jadilah meja belajar yang saya pakai ini. Suatu hari kami juga pernah menemukan rak, dan jadilah rak buku disudut kamar ini... Entah suatu hari kami menemukan apa lagi untuk kami bawa pulang...
Tapi yang paling berkesan bagi saya adalah pengalaman yang pertama kali... Seru, aneh, lucu...

0 comments: