Tuesday, 4 May 2010

Ketika Malam Menyadarkan Saya

"Orang seperti kita, kalau tidak punya mimpi maka akan mati" -Andrea Hirata-

Masih segar dalam ingatan saya, kata-kata "sakti" yang tertuang dalam salah satu buku favorit saya, tidak lain adalah Tetralogi Laskar Pelangi. Sebuah novel cantik, yang didalamnya sarat akan motivasi dan pelajaran hidup (*terutama bagi saya). Berkisah tentang kegigihan anak manusia disebuah perkampungan di Pulau Belitong, melawan "keterbatasan" yang bernama keterbelakangan. Namun begitu mereka tetap memiliki semangat dan mimpi-mimpi yang tinggi. Hingga dua orang dari mereka, yaitu Arai dan Ikal, akhirnya bisa menggapai apa yang telah mereka gantungkan di langit tinggi sana, yaitu melanjutkan kuliah di Universitas Sorbone-Perancis dengan beasiswa dari Uni Eropa. Bahkan si Ikal, yang tidak lain adalah sosok si penulis novel sendiri, bisa memperoleh prestasi tertinggi. Suatu hal yang luar biasa bukan? Bukan suatu jalan yang mudah untuk menggapainya, begitu banyak karang-karang kehidupan yang harus mereka hadapi,  salah satu contohnya menjadi kuli "ngambat" waktu duduk di bangku sekolah. Tapi dengan semangat yang luar biasa, mereka mampu mengubah karang-karang tersebut menjadi batu pijakan untuk melangkah lebih tinggi. Keterbatasan dan keterbelakangan tidak membuat mereka lantas "tidak berani bermimpi", justru sebaliknya.

"Saya salut dengan mereka... Dengan para pejuang mimpi, bagi mereka yang berani bermimpi dan berusaha sekuat tenaga mewujudkannya..."

Terkadang saya malu dengan diri saya sendiri, pun begitu saya jauh lebih beruntung dibanding mereka, tapi kadang saya justru "menyia-nyiakan" keberuntungan itu. Bermalas-malasan, kurang belajar dengan maksimal, membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak produktif, dan sebagainya, dan sebagainya. Saya tidak perlu bekerja terlampau "amat" keras demi sekolah saya, tidak perlu menjadi kuli "ngambat" seperti si Arai dan Ikal. Cukup hanya jadi guru les privat bagi murid-murid saya, dengan sedikit pengorbanan pulang larut malam dan harus merelakan waktu dimana teman-teman bisa menikmati waktu-waktu senggang mereka, sedangkan saya harus bekerja. Berbagai macam fasilitas sebagian besar telah terpenuhi hingga tak perlu susah-susah memikirkannya. Sungguh saya merasa sangat beruntung. Tapi di lain pihak justru akan merasa sangat malu jika terlena dengan keberuntungan itu sendiri. Apalagi disaat-saat seperti ini, kala semangat saya menurun, tak tahu entah kenapa. 

Walau bagai manapun, apa yang telah saya raih dan capai selama ini (biar masih belum seberapa), sedikit banyak adalah karena keberanian saya untuk bermimpi. Saya percaya mimpi-mimpi itu punya kekuatan bagi orang yang benar-benar ingin mewujudkannya. Dan hal terbukti ada benarnya... Setidaknya itu terjadi di kehidupan saya... Akankah saya yang berkhianat pada impian itu sendiri, ataukah akan tetap setia terhadapnya? Sungguh, saya ingin sekali terus menggenggamnya... tapi terkadang isi otak saya terlampau bebal hingga kadang sering mengesampingkannya...

0 comments: