Thursday, 24 June 2010

Mencari Beasiswa Ke Luar Negeri

OK.. OK... Baiklah saya isi blog saya dengan hal yang bermanfaat. (Setelah mendapat "masukan" dari seorang teman karena isi blog kebanyakan menyampah).
Kamu tahu persis khan apa sebabnya, seperti yang saya katakan kemaren. Dan coba tengok sekali lagi di sub-title blog saya ini.  
"Hanya sekedar coretan, media penyalur isi kepala, sekaligus tempat sampah untuk membuang cerita.... "
Akan tetapi, saya pun tahu persis alangkah lebih baik jika bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Karena katanya, sebaik-baik orang adalah yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Dan saya pun 101% setuju dengan itu. 
Baiklah saya isi dengan pengalaman mencari beasiswa ke luar negeri. Siapa tahu bisa memberi manfaat bagi yang berminat melanjutkan sekolah ke luar negeri, lebih spesifik yaitu ke Korea, dan lebih lebih spesifik lagi ke Yeungnam University. 
Sering saya mendapat pertanyaan dari teman-teman, seperti ini : "Apa sih rahasianya bisa melanjutkan sekolah ke luar negeri?".... atau begini "Dham, caranya bisa dapet beasiswa ke luar negeri gimana?".... kalau gak, begini, "Dham, pengen juga dong sekolah ke luar negeri kayak kamu. Bagi-bagi tips dong caranya gimana!"
Saya jawab, "Tidak ada rahasia-rahasiaan, caranya cuma satu yaitu NIAT dan KEMAUAN." Tapi apakah sesederhana itu, hanya dengan ucapan "Saya sangat berniat dan mau sekali melanjutkan sekolah ke luar negeri dengan BEASISWA". Tentu tidak, pasti akan selalu ada effort untuk bisa mencapai sesuatu.
Berikut ini hal-hal penting ketika akan mencari beasiswa ke luar negeri (general case) berdasarkan pengalaman saya :
1. TOEFL/IELTS/TOEIC
Namanya juga sekolah ke LN, pasti yang namanya English Proficiency sangatlah diperlukan. Walaupun nantinya bahasa pengantarnya adalah bahasa negara setempat, tetap English Proficiency adalah sangat penting. Rata-rata persyaratan untuk TOEFL minimal 550, IELTS 6.0 atau TOEIC 800. Jika skore TOEFL belum sampai segitu, tidak ada cara lain selain meng-improve-nya. Saran saya jangan hanya belajar saat menjelang atau bahkan sehari sebelum test. Untung profesor saya menyarankan untuk mengambil TOEIC saja yang lebih murah (dan relatif lebih mudah). Dan ternyata persyaratan untuk TOEIC di sini, skor minimal cuma 700 (belakangan setelah sampai disini saya baru tahu kenapa bisa begitu)
2. IPK
IPK dalam hal ini "cukup" penting, karena biasanya beasiswa mensyaratkan IPK minimal 3.0. Jika IPK sudah di atas 3, minimal kesempatan mendapat beasiswa menjadi lebih besar. Tapi yang belum di atas 3 pun, jangan berkecil hati, mungkin ada celah-celah kalau persyaratan itu masih bisa ditawar.
3. Statement of Purpose
Statement of Purpose berisi tujuan dan motivasi kita melanjutkan studi ke universitas yang bersangkutan. Statement of Purpose ini sangat penting untuk meyakinkah profesor atau pihak universitas bahwa kita kandidat yang layak untuk dipilih. Biasanya terdiri dari satu atau 2 lembar. Tulislah dengan jelas, padat dan relevan serta memberikan kesan yang baik bagi pembacanya.
4. Autobiography atau CV
Penting untuk membuat autobiography yang sistematis. Profesor dan pihak universitas akan mengenal dan mengetahui tentang kita dari CV yang kita buat. 
Untuk Statement of Purpose dan Autobiography untuk case saya, ada di formulir pendaftaran dari pihak universitas dan saya mengisinya disitu.
5. Translate Document
Tidak mungkin khan kita mendaftar ke universitas luar negeri tapi dengan dokumen berbahasa Indonesia. Oleh karena itu, persyaratan dokumen harus di translate dalam bahasa Inggris (atau bahasa negara setempat). Dokumen dalam hal ini yaitu transkrip nilai dan ijazah, atau mungkin dokumen terkait lainnya. 
6. Surat Rekomendasi
Sebagian besar beasiswa mensyaratkan perlu adanya surat rekomendasi dari profesor atau dosen pengajar dari universitas sebelumnya (wajib). Biasanya sebanyak 2 atau 3 buah surat rekomendasi. Surat rekomendasi ini biasa nya berisi kesan dan evaluasi dari profesor selama kita menempuh studi, serta merekomendasikan bahwa kita kandidat yang laya untuk dipilih.
7. Passport
Yang belum punya passport, ada baiknya membuat passport terlebih dahulu. Karena biasanya aplikasi beasiswa LN mensyaratkan adanya passport.
8. Contact dengan Professor
Yang saya maksud disini adalah menghubungi dan mencari profesor yang bersedia menerima kita sebagai student-nya (dan tentunya professor yang sesuai dengan bidang kita). Menurut pengalaman saya, saya dulu contact-contactan via email dengan profesor saya yang sekarang terlebih dahulu. Setelah beliau bersedia menerima saya, baru kemudian saya mengajukan aplikasi beasiswa ke pihak universitas. Dan Alhamdulillah diterima dengan beasiswa penuh.

Mungkin itu yang bisa saya tulis disini... Semoga bermanfaat....

1 comments:

litna ginting said...

wah, nice post...
saya juga punya rencana melanjutkan S2 beasiswa luar negeri.
Btw, dulu dapat info dosennya dari mana?