Wednesday, 28 July 2010

Profesor Marah

Glek...
Baru pertama kali melihat Profesor saya marah.
Beliau yang murah senyum dan sabar itu hari ini berbicara dengan nada tinggi...
Saya tidak tahu beliau bicara apa karena saya belum mengerti banyak bahasa Korea... Tapi dari ekspresi dan nada bicaranya jelas terlihat kemarahan beliau... Benar-benar marah besar.
Serem... Saya langsung diam di tempat... Merinding... *Orang Korea kalau marah lumayan meledak-ledak*
Walaupun kemarahan beliau bukan ditujukan untuk saya.

Kasihan teman lab saya... Conference nya di cancel...
Saya tahu bagaimana perasaannya... Dia sudah bekerja keras untuk itu... Sering bermalam di lab dan pulang pagi...
Tapi hasil eksperimennya masih kurang bagus karena topik yang sedang ia kerjakan adalah topik yang sulit.

*Berharap diberi kemudahan dan kelancaran...
*Berharap jangan sampai membuat Profesor marah...


God, hear for me, please... Hope You always stay with me... Amien...

Dalam Malam Purnama

Dalam malam purnama penuh
Kau panjat jendela kamar hati
Kau ketuk lembut kaca-kacanya 
Membisik getar menyusup sepi
"Malam ini bulan tampak indah"
 Serangkai kata...
Mencoba membahasakan hati...



Gyeongsan, penghabisan Juli
Purnama ke-6

Ultah Mbak Windu, Ke Gyeongsan Museum

Mbak Windu ulang tahun dan menyempatkan diri jauh-jauh dari Suwon ke Gyeongsan. Mbak Windu adalah senior saya, baik waktu di Indonesia maupun disini. Sekarang beliau bekerja di Samsung Korea. Keren. Semoga saya bisa seperti beliau.
Untuk merayakan ulang tahun Mbak Windu, kami masak soto ayam untuk makan bersama. Pengadaan kue ulang tahun adalah bagiannya para namja. Dan saya kebagian bikin molen pisang. Haha... first time bikin molen pisang adonan sendiri. Alhamdulillah rasanya tidak mengecewakan... Benar juga kalau disini saya bisa belajar banyak hal... Belajar bereksperimen, termasuk belajar  bereksperimen memasak dan membuat kue.
Setelah acara makan-makan, beberapa diantara kami kemudian pergi ke musium Gyeongsan. Kira-kira 15 menit jalan kaki dari rumah kami. Tiket masuk nya ternyata cuma 1000 won saja, murah sekali. Seperti layaknya musium pada umumnya, disana disimpan berbagai macam benda-benda peninggalan zaman peradaban dahulu kala di daerah Gyeongsan. Ada replika rumah tradisional Korea ketika zaman dahulu, replika makam beserta tulang belulang dan barang-barang bawaan penguburan, berbagai macam benda-benda kuno seperti periuk, perhiasan, patung-patung dll seperti dibuku-buku pelajaran sejarah. Kemudian ada juga tempat bermain anak-anak yang mengandung unsur pendidikan sejarah, puzzle bentuk periuk dan bangunan kuno serta cetak motif seperti sablon, kurang tahu namanya apa. Terlihat beberapa anak ditemani orang tua mereka sedang asyik bermain disana.Ada juga baju tradisional kaisar Korea yang bisa dipinjam untuk dipakai berfoto-foto.


Ke Gyeongsan Museum :




*Baru di post sekarang padahal sudah beberapa waktu yang lalu... Research oh research... kau membuatku sangat sibuk... :(

Monday, 26 July 2010

Enam Bulan

Enam bulan sudah menginjakkan kaki di negeri ginseng ini. Tak terasa dan terasa, kadang tak bisa dibedakan. Jika mengingat perpisahan ketika di bandara, seperti tak terasa, rasa-rasanya baru kemaren. Tapi jika mengingat tugas kuliah menumpuk, presentasi, lab meeting, sampel pecah, mesin rusak dan lain-lainnya yang sejenis itu, seolah-olah sudah bertahun-tahun berada di sini dan waktu berjalan sangat lambat. Entahlah... 6 bulan itu waktu yang sebentar atau lama. Terkaburkan...

Tak terasa 3 musim sudah terlewati, winter yang menggigilkan, spring saat musim berbunga-bunga dan summer yang panas dan gerah. Sedih, senang, tangis, tawa, marah, takut melebur menjadi satu dalam bingkai mewujudkan cita. Berjuang sendirian di lab sebagai mahasiswa asing, memulai belajar segala sesuatunya dari nol. Jam tidur yang kurang, pulang selalu malam bahkan kadang hampir pagi, kendala bahasa dan budaya, etc, saya akui, tidak bisa dibilang mudah untuk dijalani. Tapi bukankah segala sesuatu akan terasa lebih mudah jika kita menyederhanakannya dan menganggap itu mudah? Dan Allah benar-benar Maha Pengasih dan Penyayang dengan memberikan saya teman-teman yang hebat disamping saya.

Diliputi perasaan yang tak bisa dideskripsikan ketika di Soekarno-Hatta, menggigil kedinginan setibanya di Incheon, agak takjub waktu pertama kali melihat salju turun, mendapat kejutan pas ulang tahun ke-23, pertama kali melihat bunga sakura mekar, membuat gate valve mesin sputtering  jebol, panik setengah mati waktu sampel yang harganya selangit pecah, begadang dan berjuang keras belajar untuk ujian, makan odeng dan toppoki rame-rame, norebang bareng-bareng, gemerutuk pagi-pagi ke kelas Korea, kangen Indonesia dan orang-orang yang disana, sering ketiduran di depan komputer lab,....

Anyway, Korea telah membuat saya jatuh cinta walaupun kadangkala beberapa hal membuat saya kurang menyukainya. Kadang terbersit untuk menetap beberapa lama terlebih dahulu disini sebelum balik pulang ke tanah air. Setelah lulus S2, bekerja di Korea, menikah, kemudian melanjutkan S3... hahaha senangnya bisa sekolah didampingi sang suami.....   *mimpi mode ON*


Seoul, 27 Juli 2010
Ceritanya sedang kabur ke Seoul...

Sunday, 18 July 2010

Astrid - Cinta Itu

Acoustic performance version...
Love this song much...
Cooking theme song, recently... hahaha...



Lirik - Cinta Itu

Ingin kuakhiri cinta yang kau beri
Ingin ku akhiri sepi dan sendiri

*

Siapa yang mengerti perih dalam hati
Ingin ku akhiri pahit nya misteri
Hasrat untuk tepiskan semua kenyataan
Dan seribu bayangan hilang
Cinta itu menjauhlah
Tinggalkanlah aku sendiri
Cinta itu musnahkanlah
Karena kau satu-satunya
Yang kucintai

Back to *

*Missing Home

"Friends are like second family you make for yourself. Friendship makes you feel home though you’re not at home" 

*missing home... :(

 

Urinen katchi mogossoyo, gerigo norehessoyo.

 

 

Gyeongsan, July 18, 2010   

 

Friday, 16 July 2010

Saatnya Science Direct

Melihat ke kalender, sudah menunjukkan tanggal 16 bulan Juli, tiba-tiba perutku jadi mual. Teringat paper yang harus di submit buat conference bulan depan, tapi satu patah kata pun aku belum mulai menulisnya. Aahhh, entah apa saja yang aku kerjakan, waktu serasa berlalu dan berlari begitu cepat.

Akhir-akhir ini langit selalu diselimuti mendung, dan membuatku jadi ikut kelabu alias terserang malas minta ampun. Kemudian ketika langit gelap dan tak berwarna biru, gravitasi bumi serasa jauh lebih besar kekuatannya di tempatku. Ehmm... tidak... aku mulai mengkambing hitamkan keadaan!! Ah, kenapa juga menulis blog lebih mengasyikkan daripada menulis paper.

Ah, ayolah diriku sendiri, mulai fokus dengan paper kita. Cari-cari referensi yang banyak di Science Direct. Dan jangan cuma di save-save saja di D:My Research/Reference Journal, tapi mbok ya dibaca, ditelaah, dipahami dan dimengerti. OK... Mari kita mulai semangat baru, terminate virus-virus malas dan kita fokus ke paper. Jangan kebanyakan buka situs www.kaskus.us atau www.facebook.com atau situs-situs lainnya yang kurang relevan, tapi kalo jarang-jarang sih masih boleh buat refreshing (tetep ngeles).
Now, it's time for Science Direct. No more wasting time, please. Do well your research and write your paper!

OK, we can do it! Believe...

Bismillah...

Thursday, 15 July 2010

Terpetik Hati


Kembali aku...
Terpekur dibuai rasa...
Terdiam; meneduh; menjadi sunyi...
Terpetik hati di dawai-dawai...
Mencipta nada; luput suara; menggigil getar di dasar pundi...

Aku melangit...
Digenangi serbu haru membendung...
Aku meleleh tapi tak mengalir...
 Seiring ayat-ayat kirana elok mengalun...


*************

Gyeongsan, Korea Selatan, Juli 2010
~ Terpetik hati ~

Wednesday, 14 July 2010

Tanpa Judul


Saat dipertemukan, sudah selayaknya kita bersiap-siap untuk menyambut pesta perpisahan. Aku tak pernah menyesal atas pertemuan yang memisahkan kita, tapi sebaliknya mungkin aku harus bersyukur karenanya; setidaknya itu pernah terjadi. Dan sekarang, aku harus membuat garis bibirku sedikit melengkung ke atas; sedikit melebar; tapi bukan menangis. Aku harus tersenyum dan tertawa karena kita sebenarnya sedang berpesta. Seperti yang selalu kau bilang... Iya kan, sayang?

"Jangan menangis", katamu mencoba sedikit peduli padaku. Seingatku, cuma dua kata itu yang bisa kau ucapkan sejak dulu, lagu 'jangan menangis'-mu itu, aku sudah hafal di luar kepala. Sampai-sampai aku jadi tak tahu  lagi arti sebenarnya, aku tak boleh menangis ataukah kau sengaja membuatku menangis. Entahlah, yang aku tahu, aku sering menangis dan justru kaulah yang membuatnya.

"Aku tak sedang menangis. Butiran-butiran air ini memaksa keluar dengan sendirinya. Tenang saja. Mereka tak kan sampai hati membuatku mati. Tak sepertimu".

Dan terkadang kau selipkan lagu berjudul 'maaf' di antara nyanyianmu. Namun bagiku, itu tak lebih dari sekedar dengungan para tawon madu yang sedang sibuk bekerja ketika musim berbunga tiba. Tak berirama; bahkan tak berarti apa-apa, karena aku tahu kau tak benar-benar mengerti makna lagumu; bukan dari hati. Terlebih, itu justru menambah kesakitanku; dan semakin deraslah air yang mengalir dari sudut-sudut mataku.

Entahlah, aku tak mengerti tentang kesukaanmu akan jatuhnya air mata; air mataku.

"Sebenarnya aku menyayangimu. Sangat menyayangimu. Tapi..." ucapmu tanpa pernah bisa menjelaskan. Aku  menjadi bertambah bingung dan rasa tak mengertiku semakin menjadi-jadi.


======= Bersambung (barangkali) =======




Gyeongsan, Korea Selatan, Juli 2010
~ Barangkali menangis ~

Langit Biru Di Matamu

Langit Gyeongsan kembali biru setelah mendung mencuri warnanya beberapa waktu

Don’t worry if the sky is dark and gray,
The sun will always return another day.

=============================================================================

Matamu menunduk ; ada kesepian yang tak bisa dijelaskan disana ; matamu adalah warna biru paling terang yang pernah kulihat, sayang tanpa harapan, putus asa dan penuh dengan bisikan-bisikan yang ingin kau utarakan, namun tak pernah jadi. “Dan itulah mengapa,” katamu, “Itulah mengapa…” Kau tak pernah selesai dengan ucapanmu yang itu; lalu kau berbalik arah dan berbelok, terdengar bunyi ceklikan pintu, lembut dan terdengar sangat mudah kau melakukannya.
  
“Aku tak mengerti,” balasku pada daun pintu yang telah tertutup. Kemudian terdengar suara nyaring pelat porselain beradu dengan pintu kayu yang berat dan aku pun memudar menjadi hitam.

******
Aku tak mampu mengingat dimana aku bertemu denganmu pertama kali. Aku benar-benar seorang pelupa. Tapi aku pikir mungkin saat itu terjadi di taman, ketika hujan. Ah, jiwa romantisku yang sederhana menggiring kearah sana —aku, berjalan dalam hujan —kau, muncul dengan senyuman, payung dan mata itu, ya mata itu…. Mata biru milikmu.

Aku menyukaimu karena matamu ; aku tak pernah benar-benar tahu sisa dirimu atau mungkin aku berpikir tidak akan ada hal-hal yang lain lagi. Entah mengapa, setiap kau menatapku, duniaku tiba-tiba menyempit menjadi serupa halus dan hanya berwarna biru; seperti tak menyadari warna lainnya ada. Kemudian kau tertawa dan berkata, “Kau menatap lagi,” dan memalingkan wajahmu.

Aku tidak pernah berfikir untuk menanyakanmu sesuatu —denganmu, hanya ada saat ini, atau selanjutnya, dan terkadang kau ada disana dan terkadang pula kau tak disana, dan ketika kau tak ada aku bermimpi tentangmu dan tenggelam didalamnya. Bagaikan candu namun aku menikmatinya.

Dan itulah mengapa….”

Aku tak pernah menyentuhmu; terkadang aku ingin melakukannya; tapi matamu seperti memperingatkanku. Kau terlihat selalu bahagia ketika di dekatku, tapi terkadang aku bisa mendengar kebahagiaan itu bergetar, seperti senar biola yang dikencangkan terlalu ketat. Kau seperti memaksa dirimu sendiri untuk menyembunyikan sesuatu, yaitu kebahagiaan, dariku. Walaupun sepertinya dengan berbicara itu dapat sedikit membantu, namun aku hanya menunggu.

Kau tak pernah menawarkan jawaban sama sekali. Aku tak tahu kalau sebenarnya aku sangat menginginkannya. 

“Aku rindu padamu,” ucapku sekali, berada beberapa langkah dibelakangmu dan melihat ke bagian belakang kepalamu yang sedikit miring melihat kearah langit.

Aku mendengar kau menghela nafas dan menggelengkan kepalamu, menutup mata dan berkata “Kau tak mengerti. Kau selalu berpikir dalam istilah selamanya.”

“Aku tak mengerti” ulangku.

Kau mengulurkan tangan untuk menghentikanku dan berbalik, kemudian tiba-tiba tertawa cekikikan, dan aku dibekukan oleh biru, “Mereka bilang bunga-bunga wisteria sedang bermekaran sekarang,” kau berkata. “Ayo pergi ke taman untuk melihatnya”

“Aku akan menemuimu disana,” kataku.

Kau tersenyum, “Kau tak akan bertemu denganku.” Aku mengikutimu dari belakang dan terdengar kau kembali berkata, “Tidak ada satu orangpun yang bisa.”

******

Kau selalu melihat kearah langit. Kadang kala aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk melakukan hal yang sama, mencoba menemukan apa yang sebenarnya yang kau cari di atas sana. Tapi jika matamu saja tak bisa menemukannya, tentu saja mataku tak akan pernah bisa.

Langit juga berada dimatamu. Menurutku itulah segalanya.

Kau selalu menemuiku di taman, dan kau selalu punya sesuatu yang akan kau tunjukkan padaku. Kupu-kupu dan bunga, terlihat menarik perhatianmu, pernah sekali kupu-kupu hinggap di tanganmu dan kau berbisik gembira padaku. Tapi aku hanya bisa berpikir bahwa kupu-kupu itu kosong, tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan warna biru dimatamu.

Dan kau selalu pergi  tanpa mengucapkan apapun, kau berada disana dan kemudian pergi. Kadangkala aku berpikir bahwa kau hanyalah tipuan sinar matahari. Kemudian aku menyadari bahwa aku benar-benar tidak peduli kau sesungguhnya apa. Yang aku tahu kau pasti kembali.  Dan kau pasti akan kembali. 

“Langit begitu indah,” kau berkata sekali, duduk disampingku di sebuah bangku taman dengan kepala kau tengadahkan.  Sudut kepalamu yang miring menyembunyikan wajahmu dariku, tapi aku masih bisa melihat sedikit bagian di matamu, biru terang seperti warna langit. “Tak menginginkan apapun. Hanya saja… Aku berharap orang-orang bisa seperti  itu. Berhati seperti langit.”

“Kau telah seperti itu,” aku menawarkan. Kau tiba-tiba menjadi sedih dan menyembunyikannya dariku. Aku bisa merasa namun aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat.

Kau memiringkan kepalamu kembali dan melihat langit dari balik pohon-pohon yang meranggas di belakang kami. “Aku tidak berharap,” katamu. “Aku bukan manusia. Kau, meskipun.”

“Aku tak mengerti,” ujarku. Maafkan aku, maksudku.

Akhirnya, kau tersenyum dan melihat ke arahku. Kau berkata, “Tidak apa-apa.” Hening sesaat, kemudian, “Hey, kau menatapku lagi,”  dan kau kembali melihat kearah langit.

******

== Bersambung == 



Gyeongsan, Korea Selatan, Juli 2010
~Inspired by blue sky today~

Monday, 12 July 2010

Seperti Mati

Lelah membungkus rapat...
Seperti kafan yang memberitakan kematian...
Aku seperti mati!
Tak mampu beranjak...
Bak jasad tak bertuan...


Jangan sekalian kau tancapkan nisan di kepalaku!


Tolong aku...




Gyeongsan, Korea Selatan, Juli 2010
~ Di ujung lelah ~

Sunday, 11 July 2010

Puisi Isi Keju

 
Di atas roda-roda baja...
Menentang jarak... 
Beribu-ribu depa...
Kau, bawa kaca itu serta menuju kotaku...

:: Dalam hati aku merapal puji ::

Lalu,
Di satu sudut 'Machia'...
Celoteh kita berpadu...
Dengan denting piring dan garpu yang beradu...


:: Kita semakin larut dalam gelas-gelas kaca ::

Malam semakin tinggi...
Lampu-lampu memendar...
Dari balik dedaunan di pucuk-pucuk sepi...
"Pesan puisi isi keju"...
Katamu, memecah sunyi...

Pada akhirnya...
Hujan terus merintik....
Membawa pulang ke hati sang para pemilik...

"Terima kasih dan sampai ketemu"
Dengan gigil masih bersarang dibuku-buku jari...




Gyeongsan, Korea Selatan, Juli 2010
~ Fusion Sigdang~

Friday, 9 July 2010

Masih


Masih bergetar...
Masih berdebar...
Masih terasa...
Masih tereja...
Masih sesak...
Hingga tersedak...


:: Aku benci ::


Tuan logika,,,
Mari bertarung...
Melawan hati!!


Gyeongsan, Korea Selatan, Juli 2010
~Will be at XRD Room, MSE~

Untuk Lelaki Terbaikku, Kelak

Untukmu, lelaki terbaik bagiku kelak...

Entah kini di belahan bumi mana engkau berada...
Aku tak tahu...
Entah engkau bernama apa...
Aku tak bisa mereka...
Dan entah engkau berupa selayaknya siapa...
Tak tergambar...

Yang kutahu kelak kita pasti akan bertemu...
Dalam bingkai penyempurnaan agama...

Untukmu, penyandingku nanti...

Kadang gelisah mengusik rasa...
Karena aku hanya wanita biasa...
Entah engkau mau menerima...
Aku dengan sebongkah kelebihan...
Dan kekurangan setumpuk gunung...

Berharap engkau sudi membuka tanganmu dengan lapang dada...

Dan berkenan melengkapi yang kurang...
Untuk jadikannya menyerupai sempurna...
Ajari aku banyak hal yang belum kutahu...

Kadang gundah jikalau kau memaksaku...
Untuk jadi bayanganku...
Semata bayanganmu...

Untukmu, sang pemimpin...
Sandaran hatiku nanti...
Kan kuberi segenap hati...
Seluruh hidup...
Segala setia...

Kelak untukmu semata...



Gyeongsan, Korea Selatan, Juli 2010
~Will be at Chemical Building, YU~

Thursday, 8 July 2010

Kembali Malam



Kembali sang dewi malam turun memeluk bumi
Imaji berputar dalam otak yang kian merayap
Bersuara dalam hati, melontar tanya sebuah makna
Dan berharap temukan jawab di sudut-sudutnya yang kian menumpul
Mengayun lamun...
Masih kosong...
Masih sepi...
Tetap diam tak terucap sepatah kata...



Gyeongsan, Korea Selatan, Juli 2010
~~Malam musim panas~~

Pagi Cerah

Kubuka kelopak mata..
Berat melekat...
Kala dewi malam menyapih bumi...
Sinar jingga menyepuh angkasa...

Aku sedang belajar mencintai pagi...

Kuturuni tangga kehidupan itu...
Satu demi satu...
Kuayun langkah...
Kaki meringan...


Terus melangkah...
Terus mengarah...


Sang raja siang mengintip malu...
Dari balik awan-awan putih...
Yang bergelayut manja di langit biru...

Sang raja siang belum menggarang...
Sinarnya masih lembut mengusap pipiku...

Terus melangkah...
Bertembang riang...

Tercium wangi aroma-aroma..
Dari balik semak perdu...
Kumbang-kumbang pun riuh menghisap nektar...
Mencumbu mesra bunga-bunga mekar...

Dedaunan bergoyang...
Seirama alunan bayu...
Menunggu musim...
Membawa gugur...
Menjemput bumi..


Terus melangkah...
Merajut mimpi...




Gyeongsan, Korea Selatan, Juli 2010
~~Melintasi perdu mewangi~~

Wednesday, 7 July 2010

Boleh Ku Pinjam Telingamu?

Lampau hari, gelombang badai mengambilnya dariku...
Membawa ia ke palung samudra dalam...
Telinganya telah ditulikan...
Hingga tak bisa lagi kuperdengarkan
Celotehan-celotehan...
Gerimis turun dari mataku kala itu...
Kau pasti sudah tahu...


Boleh kupinjam telingamu?
Sebentar saja...


Aku ingin bercerita...
Tentang musim panas yang menyerang garang...
Tentang mendung yang tak kian memudar...
Tentang hujan yang merintik pelan...
Tentang pagi yang semakin tak kusukai...
Serta tentang mimpi-mimpi yang ingin kugenapi...


Aku hanya ingin kau diam disitu...
Mendengarkanku...
Dan tak kuharap sepatah kata...


Boleh kupinjam telingamu?
Sampai kutemukan bahu kekar...
Untuk hatiku bersandar...
Hingga tak perlu lagi banyak cerita yang terlontar...


Boleh kupinjam telingamu?
Karena aku suka bercerita...
Dan ingin didengar...




Gyeongsan, Korea Selatan, Juli 2010...
~Rodembil 203~



Senang Kau Genapi Janjimu

Bukan makian...
Bukan cerca deras mengalir...
Bukan teriakan...
Bukan mau menghujani ocehan,
Yang buat dirimu tersudutkan...
Bukan pula ingin berkata,
"Kau telah sering melukaiku"...


Boleh aku bicara?
"Aku senang kau genapi janjimu..."


Setidaknya masih pantas,
Raga tanpa rasa yang menyatu dengan jiwamu itu...
Kusebut dengan pria...


Jangan marah padaku!






Gyeongsan, Korea Selatan, Juli 2010
~Alpha Step Room~

Melukis Guratan


Masih mencoba melukis guratan di langit...
Menjadikan sketsa itu biar berbentuk...
Mimpi dan asa membingkai awan di sudut sana...
Putih bersih berlatar biru...


Nafasku telah seirama dengung mesin-mesin itu...
Rautku serupa kaca-kaca sampel yang berdebu...
Kelopakpun kian memberat...
Serasa sebongkah batu terlekat...
Aku pun rindu peraduan dan selimutku yang hangat...


Tak bisakah malam sedikit lebih panjang kali ini?
Agar mataku tak lekas segera bertemu pagi...



Electronic & Thin Film Materials Laboratory
2.32 A.M

Tuesday, 6 July 2010

Cinta Itu...

Aku kurang mengerti apa itu cinta...
Hingga ia menyulapku serupa kumbang madu...
Mencicip nektar di padang penuh bunga...
Manis dan indah...
Seperti di surga...


Aku tak mengerti cara cinta itu bekerja...
Hingga ia buatku berkubang genangan air mata...
Berpeluh lelah karena rasa...
Pedih dan nyeri...
Serupa luka...


Aahhh, bagiku cinta itu tak lebih dari sekedar luka....


Gyeongsan, Korea Selatan, Juli 2010 
~ETML~

Terima Kasih Malam

Entah kenapa,
Kini aku lebih mencintai malam...
Dan pagi pun,
Jadi seringai yang aku benci...
Kelip lampu-lampu di remang itu,
Serasa lebih indah di mataku...
Saat ini...
Pengganti bintang milikmu di ujung langit sana
Yang entah, telah tergadai setianya...

Dalam malam, kurasakan luka-luka itu...
Kembali menganga... 
Luka karena kau pernah mengucap kata cinta...
Di telingaku....

Dan keping-keping kenangan...
Yang di sudut nyaman sana ku coba simpan...
Menjelma menjadi sebilah belati...
Menyayat daging ditubuhku...
Yang mereka sebut itu hati...
Mengirisnya tipis-tipis....
Tipis-tipis dan kian menipis...
Hingga kini tak kutemukan lagi,
Alasan untuk memecah tangis


Terima kasih untuk malam...
Dan atas segenap luka yang kau ajarkan...


Gyeongsan, Korea Selatan, Juli 2010 
~ETML~

Monday, 5 July 2010



"Ya Allah, terima kasih yang tak terhingga atas segala nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan. Jadikanlah hamba di antara mereka yang senantiasa bersyukur. Dan jadikanlah hamba di antara orang-orang yang melakukan kebaikan yang Engkau ridhoi. Amien."

Lab, Rumah Kedua

Lab adalah rumah kedua bagi saya di sini... (hahaha... serasa udah punya rumah sendiri aja). Nama lab saya adalah Electronic and Thin Film Materials Laboratory. Keren khan? (narsis, banyak). Tapi jujur saja pertama kali baca namanya waktu masuk kesini, agak-agak gimana gitu soalnya saya kurang suka dan kurang menguasai tentang elektronik. Gak ada basic sama sekali, biarpun ada juga cuma sedikit pas dapet mata kuliah Fisika Dasar dulu. Tapi ya sudahlah... mau gak mau ini akan jadi lab saya selama 2 tahun ke depan. Lagi pula, dulu masuk Teknik Metalurgi dan Material juga dari hasil nyebur. Jadi kali ini, ceritanya nyebur untuk yang kedua kalinya... Gak ada salahnya, nyebur di Metalurgi dulu toh Alhamdulillah bisa survive juga, malah jadi menyenangi bidang ini. Dan Bismillah, diniatin baik dari awal, buat nyari ilmu dan berharap dimudahkan jalannya di lab ini sampai ijazah Master berada ditangan. Amien...

Di bilang rumah kedua tapi justru lebih banyak waktu yang dihabiskan di lab daripada di rumah. Mulai pukul 09.30 sampai dengan 23.00 (rata-rata), bahkan sering lebih dari jam segitu.

Lab saya berada di lantai 4 Material Science and Engineering Building. Di bawah tanggung jawab Prof. saya yang baik hati, yaitu Prof. Hee Young Lee, lab ini memiliki 5 orang student yang tergabung di dalamnya. Tiga orang di antara nya adalah Graduate student (termasuk saya), dan sisanya adalah anak Undergradute. Ada saya, Yoon Dong Jin dan Kim Kyung Man untuk Graduate Student. Sedangkan Undergraduate Student ada Park Jae Song dan Hong Jeong Sic. Mereka semua adalah teman-teman yang baik.
 Ini adalah lemari zat yang di dalamnya berisi beraneka ragam zat kimia yang berupa powder. Mulai dari yang relatif murah sampai relatif mahal. Contohnya material saya kemaren, bubuk indium yang 100 gram nya hampir seharga 10 juta rupiah kalo di kurs-in. Makanya saya ngeri waktu makai-nya.
Terus ada lemari es. Sebenarnya sih kalo di lab-lab lainnya buat nyimpen makanan dan minuman. Tapi entah kenapa lemari es di lab saya ini ada yang make buat nyimpen zat kimia. Alhasil, jadi gak bisa dipake lagi buat nyimpen makanan.

Ini adalah ruang tengah, tempat dimana meja-meja kami berada. Terlihat berantakan, maklum penghuninya adalah cowok-cowok. Pada males ngrapiin dan memang meja-meja kami ini tempat untuk menaruh berbagai macam barang.  Kebiasaan anak-anak Korea disini, kegiatan belajar dan mengerjakan tugas/PR/laporan, semua dikerjakan di lab atau di kampus. Jadi mereka belajarnya gak di rumah. Rumah bener-bener untuk "pulang". Dan buku-buku maupun bahan kuliah semuanya ditaruh di lab. Berbagai macam barang bisa ditemukan disini, ada bola, barbel, sandal, sepatu, cermin, sikat gigi, gesper, pokoknya macem-macem. Kalo di meja saya, ada sendok, gelas, mukena, sajadah, selimut marsupilami dll.

Ini adalah meja saya. Letaknya lumayan strategis karena dekat dengan jendela. Paling enggak bisa ngeliat pemandangan luar kalo lagi mumet, biar cuma langit sama bangunan-bangunan kampus. Sisi buruknya, bisa kena masuk angin. Apalagi tepat berada di bawah AC. Dari meja ini saya temukan berbagai macam barang peninggalan dari penghuni terdahulunya, lumayan masih bisa dipakai. Ada file holder, selimut, alat-alat tulis, headset, lampu belajar dll. Ada patung porselain dan beberapa hiasan dari China saya lihat ada disana. Saya dengar memang dulu nya pernah ada mahasiswa cewek dari China di lab ini. Dan sekarang dia di NTU Singapura... (semoga saya bisa seberuntung dia.... Amien...)

Ini adalah ruangan sebelah, tempat dimana mesin sputtering berada. Masih satu ruangan dengan meja-meja kami, tapi diberi sekat tersendiri. Selain mesin sputtering, ada juga furnace, compressor, dessicator, hot plate, ultrasonic cleaning, mikroskop optik serta peralatan-peralatan dan material laiinya disimpan disini. Karena ruangannya sempit, maka alat-alat lab kami yang lainnya di simpan di ruangan tersendiri. Mesin sputtering ada dua jenis, yaitu ion beam sputtering sama magnetron sputtering. Fungsinya untuk deposisi, buat sampel thin film. Mesin sputtering yang terakhir itulah yang saya pakai sekarang, bisa pakai arus DC maupun RF. Lumayan sensitif kalau makai-nya ada yang gak bener. Karena pakai ultrahigh vacuum system, jadi makainya lumayan ribet. Makanya saya jadi mules duluan kalau mau sputtering.
Dan ini adalah view dari jendela meja saya. Bangunan tinggi yang nampak itu adalah perpustakaan universitas, bangunan paling tinggi di Yeungnam University. Di depan sana sebenarnya ada perbukitan, tapi kurang terlihat karena sedikit berkabut.
Sedangkan paling pojok dari foto itu adalah sampel-sampel saya. Entah kenapa saya terkadang muak melihatnya. Mungkin karena tiap hari berhubungan dengan sampel-sampel tersebut, dan terkadang mereka sering membuat saya jadi pusing.


Tidak terasa, sudah satu semester saya berada di lab ini. Suka, duka, tangis dan tawa semuanya ada dan saya lalui disini...

 
Sok serius... (tapi seriusan kalo lagi serius bisa seserius ini...^^)

Saturday, 3 July 2010

Cerita Sebelum Tidur

Di sebuah ladang yang subur, terdapat 2 buah bibit tanaman yang terhampar. Bibit yang pertama berkata, “Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku sangat dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, serta kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku.”
Dan bibit yang pertama inipun tumbuh, makin menjulang.
Bibit yang kedua bergumam. “Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman.”
Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.
Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan memakannya segera.

***

Teman, memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan, maka, hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup adalah pilihan, maka, pilihlah dengan bijak.
Sahabat, tiap pilihan selalu ada resiko yang mengiringinya. Namun jangan sampai ketakutan, keraguan dan kebimbangan, menghentikan langkah kita.
ps. “Bukalah setiap pintu kesempatan yang datang mengetuk, sebab, siapa tahu, pintu itu tak mengetuk dua kali.” (Hilman, Lupus I)

Mau milih jadi bibit yang pertama atau yang kedua?  Atau mungkin milih jadi ayamnya? :))

Saya pilih jadi tanahnya saja kalo begitu... ^^

Sumber : http://www.resensi.net/kesempatan-dalam-kehidupan/2009/11/27/#more-590

Friday, 2 July 2010

Summer Itu...

Summer itu adalah musim panas... (gyaaaa.... lagi dudul gara-gara kepanasan)

Summer itu panas dan gerah banget...

Musimnya cewek-cewek pake hot pants dan rok pendek bertebaran dimana-mana.... (yang ini, temen-temen cowok dari Indonesia seperti ada radar otomatis-nya kalo ketemu mereka)

Musimnya pada pake baju setipis mungkin...

Cewek-cewek pada pake high heels...

Pada sibuk nyalain AC...

Pada bawa kipas...

Dan susah tidur gara-gara kepanasan... (kalo yang ini khusus buat saya)....

Aaahhhh..... panas... panas... panas....


Aktor Korea Bunuh Diri (Lagi)

Haduh, ini aktor Korea pada kenapa sih ya? Demen banget mengakhiri hidupnya sendiri. Satu lagi, saya dengar aktor Korea bunuh diri. Si Park Yong Ha, yang maen di drama Korea Winter Sonata. Meskipun gak ngikutin drama ini, setahu saya Winter Sonata dulu terkenal banget di Indonesia.
Ini nih orangnya... Sayang banget yak, cakep gitu... ckckckck...

Park Yong Ha

Yong Ha dikabarkan bunuh diri dengan cara gantung diri menggunakan kabel charger hp (*gak bisa ngebayangin bunuh diri pake kabel charger... T.T). Dan belum diketahui motif bunuh diri sebenarnya apa.

Sebelum Yong Ha, saya dengar sudah banyak artis-artis Korea yang bunuh diri. Karena penasaran, akhirnya bertanya ke si Mbah Google, dan inilah hasilnya :

1. Pada 22 February 2005, artis Lee Eun-ju (24 thn ) meninggal dengan cara memotong pergelangan tangan dan menggantung dirinya di apartmen. Dia meninggalkan pesan "Mom, I am sorry and I love you." A separate note said, "I wanted to do too much. Even though I live, I'm not really alive. I don't want anyone to be disappointed. It's nice having money... I wanted to make money."

2. Pada 21 January 2007, Penyanyi Pop U-Nee (26 thn) meninggal dengan cara menggantung diri, diperkirakan U-nee bunuh diri akibat depresi karena kritikan beserta hinaan yang dilancarkan lewat internet.


3. Pada 10 Feb 2007, Artis Jeong Da-Bin (27 thn) meninggal dengan cara menggantung diri di kamar mandi. Jeong Da-Bin bermain di film He Was Cool dengan aktor Song Seung Hun.


4. Pada 8 Sept 08, Aktor Ahn Jae-hwan (36 thn) ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di dalam mobil, dalam mobil ditemukan 2 botol soju dan 2 charcoal blocks (for heating). Dia meninggalkan pesan agar organ tubuhnya boleh didonorkan dan meminta maaf kepada keluarganya atas tindakan bunuh diri yang dilakukan.


5. Pada 2 October 08, artis Choi Jin-shil meninggal dengan cara menggantung diri di kamar mandi. Last Scandal (MBC, 2008) merupakan karya terakhirnya dan pada 29th Blue Dragon Film Awards, Choi Jin-shil mendapatkan Honor Popularity (2008)


6. Pada 3 October 08, Transgender entertainer, Jang Chae-won (26 thn) meninggal dengan cara menggantung diri di kamar mandi dan meninggalkan pesan “I’m sorry mom, next time I’ll do better.”


7. Pada 7 October 08, Kim Ji-hoo 23 tahun meninggal dengan cara menggantung diri di rumahnya dan meninggalkan pesan "I'm lonely and in a difficult situation. Please cremate my body."


8. Pada 17 January 09, Actor Kim Suk-gyun (30 thn) bunuh diri di rumahnya, tubuhnya ditemukan oleh Ibunya, diperkirakan Kim Suk-gyun suffering from depression from lack of work and fame.


9. Pada 7 Maret 2009 , Jang Ja-yeon who played one of JinSunMi gangs commited suicide. She strangled herself. Her friends reported that she had been depressed recently. 

Whaaa... lumayan banyak juga.... Pantesan, soalnya kebanyakan orang Korea tidak punya agama sih, jadi mereka tidak memiliki pegangan spiritualis yang kuat dalam hidup mereka. Dari beberapa teman Korea yang saya tanya mengenai agama, sebagian besar menjawab tidak punya dan tidak percaya adanya Tuhan. Hanya satu orang yang menjawab punya, itupun ketika dia masih kecil dan sekarang dia tidak punya agama.

Kebanyakan warga korea yang tidak menyukai seseorang artis/aktor maka mereka akan mengejek, menghina bahkan melakukan tindak kekerasan. Selebriti yang merasa tidak kuat dalam menghadapi masalah dapat melakukan tindakan bunuh diri, dan selebriti lain yang merasa tidak kuat akhirnya juga mengikuti jejak artis lain yang melakukan bunuh diri.

Aahhh, hidup di Korea memang susah..... Susah susah gampang... :)


Sumber : ngambil beberapa info dari Kaskus...(ckckckck... ada juga beginian di situ)

Thursday, 1 July 2010

Wish of The Night

"Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati, cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi dan pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia....."