Wednesday, 14 July 2010

Langit Biru Di Matamu

Langit Gyeongsan kembali biru setelah mendung mencuri warnanya beberapa waktu

Don’t worry if the sky is dark and gray,
The sun will always return another day.

=============================================================================

Matamu menunduk ; ada kesepian yang tak bisa dijelaskan disana ; matamu adalah warna biru paling terang yang pernah kulihat, sayang tanpa harapan, putus asa dan penuh dengan bisikan-bisikan yang ingin kau utarakan, namun tak pernah jadi. “Dan itulah mengapa,” katamu, “Itulah mengapa…” Kau tak pernah selesai dengan ucapanmu yang itu; lalu kau berbalik arah dan berbelok, terdengar bunyi ceklikan pintu, lembut dan terdengar sangat mudah kau melakukannya.
  
“Aku tak mengerti,” balasku pada daun pintu yang telah tertutup. Kemudian terdengar suara nyaring pelat porselain beradu dengan pintu kayu yang berat dan aku pun memudar menjadi hitam.

******
Aku tak mampu mengingat dimana aku bertemu denganmu pertama kali. Aku benar-benar seorang pelupa. Tapi aku pikir mungkin saat itu terjadi di taman, ketika hujan. Ah, jiwa romantisku yang sederhana menggiring kearah sana —aku, berjalan dalam hujan —kau, muncul dengan senyuman, payung dan mata itu, ya mata itu…. Mata biru milikmu.

Aku menyukaimu karena matamu ; aku tak pernah benar-benar tahu sisa dirimu atau mungkin aku berpikir tidak akan ada hal-hal yang lain lagi. Entah mengapa, setiap kau menatapku, duniaku tiba-tiba menyempit menjadi serupa halus dan hanya berwarna biru; seperti tak menyadari warna lainnya ada. Kemudian kau tertawa dan berkata, “Kau menatap lagi,” dan memalingkan wajahmu.

Aku tidak pernah berfikir untuk menanyakanmu sesuatu —denganmu, hanya ada saat ini, atau selanjutnya, dan terkadang kau ada disana dan terkadang pula kau tak disana, dan ketika kau tak ada aku bermimpi tentangmu dan tenggelam didalamnya. Bagaikan candu namun aku menikmatinya.

Dan itulah mengapa….”

Aku tak pernah menyentuhmu; terkadang aku ingin melakukannya; tapi matamu seperti memperingatkanku. Kau terlihat selalu bahagia ketika di dekatku, tapi terkadang aku bisa mendengar kebahagiaan itu bergetar, seperti senar biola yang dikencangkan terlalu ketat. Kau seperti memaksa dirimu sendiri untuk menyembunyikan sesuatu, yaitu kebahagiaan, dariku. Walaupun sepertinya dengan berbicara itu dapat sedikit membantu, namun aku hanya menunggu.

Kau tak pernah menawarkan jawaban sama sekali. Aku tak tahu kalau sebenarnya aku sangat menginginkannya. 

“Aku rindu padamu,” ucapku sekali, berada beberapa langkah dibelakangmu dan melihat ke bagian belakang kepalamu yang sedikit miring melihat kearah langit.

Aku mendengar kau menghela nafas dan menggelengkan kepalamu, menutup mata dan berkata “Kau tak mengerti. Kau selalu berpikir dalam istilah selamanya.”

“Aku tak mengerti” ulangku.

Kau mengulurkan tangan untuk menghentikanku dan berbalik, kemudian tiba-tiba tertawa cekikikan, dan aku dibekukan oleh biru, “Mereka bilang bunga-bunga wisteria sedang bermekaran sekarang,” kau berkata. “Ayo pergi ke taman untuk melihatnya”

“Aku akan menemuimu disana,” kataku.

Kau tersenyum, “Kau tak akan bertemu denganku.” Aku mengikutimu dari belakang dan terdengar kau kembali berkata, “Tidak ada satu orangpun yang bisa.”

******

Kau selalu melihat kearah langit. Kadang kala aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk melakukan hal yang sama, mencoba menemukan apa yang sebenarnya yang kau cari di atas sana. Tapi jika matamu saja tak bisa menemukannya, tentu saja mataku tak akan pernah bisa.

Langit juga berada dimatamu. Menurutku itulah segalanya.

Kau selalu menemuiku di taman, dan kau selalu punya sesuatu yang akan kau tunjukkan padaku. Kupu-kupu dan bunga, terlihat menarik perhatianmu, pernah sekali kupu-kupu hinggap di tanganmu dan kau berbisik gembira padaku. Tapi aku hanya bisa berpikir bahwa kupu-kupu itu kosong, tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan warna biru dimatamu.

Dan kau selalu pergi  tanpa mengucapkan apapun, kau berada disana dan kemudian pergi. Kadangkala aku berpikir bahwa kau hanyalah tipuan sinar matahari. Kemudian aku menyadari bahwa aku benar-benar tidak peduli kau sesungguhnya apa. Yang aku tahu kau pasti kembali.  Dan kau pasti akan kembali. 

“Langit begitu indah,” kau berkata sekali, duduk disampingku di sebuah bangku taman dengan kepala kau tengadahkan.  Sudut kepalamu yang miring menyembunyikan wajahmu dariku, tapi aku masih bisa melihat sedikit bagian di matamu, biru terang seperti warna langit. “Tak menginginkan apapun. Hanya saja… Aku berharap orang-orang bisa seperti  itu. Berhati seperti langit.”

“Kau telah seperti itu,” aku menawarkan. Kau tiba-tiba menjadi sedih dan menyembunyikannya dariku. Aku bisa merasa namun aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat.

Kau memiringkan kepalamu kembali dan melihat langit dari balik pohon-pohon yang meranggas di belakang kami. “Aku tidak berharap,” katamu. “Aku bukan manusia. Kau, meskipun.”

“Aku tak mengerti,” ujarku. Maafkan aku, maksudku.

Akhirnya, kau tersenyum dan melihat ke arahku. Kau berkata, “Tidak apa-apa.” Hening sesaat, kemudian, “Hey, kau menatapku lagi,”  dan kau kembali melihat kearah langit.

******

== Bersambung == 



Gyeongsan, Korea Selatan, Juli 2010
~Inspired by blue sky today~

0 comments: