Wednesday, 14 July 2010

Tanpa Judul


Saat dipertemukan, sudah selayaknya kita bersiap-siap untuk menyambut pesta perpisahan. Aku tak pernah menyesal atas pertemuan yang memisahkan kita, tapi sebaliknya mungkin aku harus bersyukur karenanya; setidaknya itu pernah terjadi. Dan sekarang, aku harus membuat garis bibirku sedikit melengkung ke atas; sedikit melebar; tapi bukan menangis. Aku harus tersenyum dan tertawa karena kita sebenarnya sedang berpesta. Seperti yang selalu kau bilang... Iya kan, sayang?

"Jangan menangis", katamu mencoba sedikit peduli padaku. Seingatku, cuma dua kata itu yang bisa kau ucapkan sejak dulu, lagu 'jangan menangis'-mu itu, aku sudah hafal di luar kepala. Sampai-sampai aku jadi tak tahu  lagi arti sebenarnya, aku tak boleh menangis ataukah kau sengaja membuatku menangis. Entahlah, yang aku tahu, aku sering menangis dan justru kaulah yang membuatnya.

"Aku tak sedang menangis. Butiran-butiran air ini memaksa keluar dengan sendirinya. Tenang saja. Mereka tak kan sampai hati membuatku mati. Tak sepertimu".

Dan terkadang kau selipkan lagu berjudul 'maaf' di antara nyanyianmu. Namun bagiku, itu tak lebih dari sekedar dengungan para tawon madu yang sedang sibuk bekerja ketika musim berbunga tiba. Tak berirama; bahkan tak berarti apa-apa, karena aku tahu kau tak benar-benar mengerti makna lagumu; bukan dari hati. Terlebih, itu justru menambah kesakitanku; dan semakin deraslah air yang mengalir dari sudut-sudut mataku.

Entahlah, aku tak mengerti tentang kesukaanmu akan jatuhnya air mata; air mataku.

"Sebenarnya aku menyayangimu. Sangat menyayangimu. Tapi..." ucapmu tanpa pernah bisa menjelaskan. Aku  menjadi bertambah bingung dan rasa tak mengertiku semakin menjadi-jadi.


======= Bersambung (barangkali) =======




Gyeongsan, Korea Selatan, Juli 2010
~ Barangkali menangis ~

0 comments: