Tuesday, 21 September 2010

Film "Alangkah Lucunya Negeri Ini"

Kemaren diajakin nonton pilem sama Mbak Vita, itung-itung refreshing mumpung lagi liburan...(haha, banyakin refreshing-nya nih!!). Nontonnya dimana? Di bioskop gitu? Ya enggak dong... Mana ada pilem Indonesia di bioskop sini. Ummm.... nontonnya di Youtube, streaming. Jangan bayangin streaming youtube kayak pake internet di Indonesia, yang ada mah bukannya seneng bisa nonton pilem malah senewen plus makan ati gara-gara buffering-nya kelamaan atau kebanyakan putus-putusnya. Kalo disini, Alhamdulillah, internetnya lumayan cepet....Mungkin di Indonesia, film ini udah beredar sejak beberapa bulan yang lalu kali ya... Harap dimaklumi kalo yang disini baru nonton... Sebenarnya saya juga gak terlalu maniak nonton film juga sih (kecuali klo sama orang yang saya suka:, bakalan beda kasusnya).
Film "Alangkah Lucunya Negeri Ini", menurut saya adalah sebuah film realita yang sederhana, gak menjual mimpi-mimpi, namun sarat akan makna. Memang seperti itulah kenyataan yang ada di negara kita tercinta, tanpa banyak orang menyadarinya. Bagi saya pribadi film ini cukup menguras emosi dan cukup membuat saya termenung sejenak, termasuk juga cukup membuat air mata saya mengalir (boleh kok kalo mau bilang saya cengeng). Gak ber-setting di gedung-gedung tinggi, atau rumah-rumah mewah di ibukota, melainkan sisi lain dari kota yang pernah beberapa waktu saya diami itu, yaitu daerah pinggiran dan kumuh, yang sering terlupakan, dengan setting carut marutnya jadi terkesan gambaran yang jujur, apa adanya. Saya jadi tertohok pertanyaan, lantas apa yang bisa saya lakukan untuk negeri saya yang ada di seberang sana? Bagaimanakah kiranya nasib negeri saya itu ke depannya, terutama nasib mereka, para golongan marjinal? Aahhh, lagi-lagi otak saya belum nyampe kesana. Saya baru sampe pemikiran bahwa untuk bisa berguna bagi nusa dan bangsa adalah salah satunya dengan belajar giat dan berusaha yang terbaik semampu kita, seperti yang selalu di ajarkan di mapel PPKn (padahal juga sering suka males belajar). Yang pasti, saya merasakan sekali bahwa negeri saya sedang menderita.

Adalah si Muluk, anaknya Haji Makbul, telah lulus S1 manajemen dan sedang berusaha mencari pekerjaan. Mencari pekerjaan memang bukan perkara yang mudah, demikian pun yang di alami oleh tokoh yang diperankan oleh Reza Rahardian ini. Namun si Muluk tak pernah berputus asa karenanya. Kemudian, bertemulah ia dengan pencopet bernama Komet yang membawanya ke sang bos. Di markas tersebut ternyata banyak ditampung para pencopet yang rata-rata berusia anak sekolah. Ada copet mall, copet pasar dan copet angkutan. Si Muluk akhirnya memutar otak dan memanfaatkan peluang yang ada, menawarkan diri pada sang bos untuk mengelola manajemen mereka dengan imbalan 10% dari penghasilan mencopet. Si Muluk punya tujuan baik agar para pencopet ini punya modal untuk usaha sehingga  kelak mereka gak jadi pencopet lagi. Imbalan ini termasuk juga biaya mendidik mereka. Akhirnya si Muluk mengajak temannya, si Syamsul dan si Pipit untuk mengajari anak-anak tersebut pendidikan umum dan pendidikan agama. Tapi akhirnya kegiatan mereka ketahuan sama ayah mereka masing-masing yang notabene adalah seorang kyai haji. Disinilah adegan  mengharu biru dimulai.... Haji Makbul dan Haji Rahmat merasa sangat sedih dan menangis karena telah gagal mendidik putra-putri mereka. Dari kecil, mereka membesarkan si Muluk dan si Pipit dengan hasil yang diperoleh dengan jujur, namun setelah dewasa mereka justru bekerja dan mendapatkan uang dari hasil mencopet (walaupun merekanya sendiri gak nyopet). Terus, Syamsul juga menangis setelah Muluk memutuskan untuk menghentikan kegiatan mereka, yang berarti bahwa Syamsul akan kembali dengan pekerjaan lamanya, yaitu maen kartu di ronda karena tak kunjung mendapatkan kerja. Padahal dia merasa bahwa hidupnya lebih berarti selama ini dengan mengajar para pencopet tersebut. Beberapa adegan di belakang ini lah yang membuat saya ikut meneteskan air mata. Sepertinya usaha mereka membuahkan hasil dan para pencopet itu beberapa orang ada yang bersedia jadi pengasong, berhenti mencopet. Namun lagi-lagi, bekerja dengan cara yang benar pun ternyata susah bagi mereka. Para pencopet yang berhenti dan mencoba jadi pengasong itu dikejar-kejar petugas trantib karena telah dianggap mengganggu ketertiban umum. Si Muluk berada disana dan akhirnya dia mengorbankan dirinya untuk dibawa petugas trantib agar anak-anak tersebut gak ditangkap. *Duh, sorry banget kalo review-nya belepotan. I'm an Engineer... ckckckck... Engineer dijadiin kambing hitam:D*

Film ini tak ubahnya seperti curhatan-curhatan dari rakyat bawah yang diimplementasikan dalam bentuk film. Gak terlalu rumit dan sederhana untuk dicerna, namun esensinya kembali ke penonton masing-masing. Banyak dialog dalam cerita film ini yang "menyentil" secara halus terutama bagi mereka para petinggi negeri ini. Seperti bukan rahasia umum lagi bahwa para petinggi-petinggi itu dan wakil rakyat kerap kali buang muka atas masalah-masalah serta nasib rakyat negeri ini. Terlebih lagi bagi mereka yang justru sibuk "memperkaya diri sendiri". Aaahh... ini sudah termasuk bicara masalah politik. Saya gak ngerti dan gak terlalu suka dengan politik. Tapi menurut saya, kadang kala hal-hal yang bernama pencurian uang rakyat itu justru sudah dianggap lumrah, malah para pelaku kerap kali bisa bebas melenggang tanpa tersentuh hukum sedikitpun, namun dilain pihak mereka yang mencuri ayam karena kelaparan justru bisa sampai mati dipukuli masa. Aahhh, ini tidak adil menurut saya. Harusnya mereka lah para "pencuri uang rakyat" yang pantas dihukum karena telah membuat rakyatnya menderita dan kelaparan.... Aaahhh, lagi-lagi saya tak mengerti. Dialog-dialog berisi kritikan dalam film ini mungkin sedikit banyak bisa mampir dan mengetuk hati nurani para penontonnya, termasuk saya, mengingatkan bahwa kadang kala "betapa lucu nya" negeri tumpah darah kita tercinta ini.

Sedikit banyak film "Alangkah Lucunya Negeri Ini', membuat rasa syukur saya semakin bertambah-tambah. Terlebih setelah menyaksikan mereka, para anak-anak jalanan, dengan kehidupan keras yang mereka jalani dan dengan kesempatan yang tak pernah mereka miliki... Alhamdulillah nikmat dan anugerah dari Allah buat saya sungguh tak terkira. Adegan-adegan dimana mereka bertiga, Muluk, Pipit dan Syamsul mengajari anak-anak pencopet tersebut hingga akhirnya mereka jadi lebih "pandai", membuat saya sungguh terharu....

Film yang bagus untuk ditonton. So, what can we do for our country? Sometimes, this question makes me really thinking...




Gyeongsan, September 2010

3 comments:

havban said...

like this movie too.. :)

Idham 다미시 said...

Good...
Bagus khan film-nya? ^^

havban said...

iya.. bagus..

ngena..

sakit bet gua.. kkk