Monday, 25 October 2010

Entahlah...

Kembali ke Gyeongsan, kembali ke lab tercintaku dengan berbagai tugas dan ujian menanti -dalam minggu ini juga-, membuatku tiba-tiba menjadi sangat enggan untuk bangun pagi. Ditambah dengan udara Daegu dan sekitarnya, yang mulai bertambah dingin dan semakin dingin. Sekembalinya dari Jeju Island, tak ada yang aku lakukan selain tiarap di balik selimut merah jambu kesayanganku dan bermimpi dengan scene-scene yang aneh. Kembali lagi aku bermimpi, eeerrr.... tentang pernikahan (hey, jangan menertawakanku!!). Aku bukan ingin menikah dalam waktu dekat ini. Ini tak lain karena salah seorang teman seangkatan dan seperjuanganku akan menikah akhir bulan ini, tepatnya tanggal 30 Oktober. Aku terlalu excited mendengarnya, sampai kutulis pesan ucapan selamat yang, -barangkali-, terlalu panjang. Mungkin aku terlalu senang mendengarnya. Jika ada sesuatu yang membuatku terlalu senang atau terlalu sedih, aku akan membawanya sampai ke dalam mimpi.

Ingin sekali memaki, "Monday, I really hate you!". Tapi sepertinya sudah terlalu banyak orang yang membencinya, jadi kuputuskan untuk berdamai saja. Aku akhirnya bangun setelah entah berapa kali melalui acara bangun yang tertunda-tunda. Hari ini aku sangat amat enggan sekali pergi ke lab. Seandainya kumiliki jam pemutar waktu atau bisa kubeli di toko kelontong sihir, akan kuputar sebanyak barang 3-4 kali putaran dan akan kuhentikan untuk beberapa saat lamanya disana, 3-4 hari yang lalu. Tak ada tugas, tak ada ujian, tak ada beban. Mungkin satu-satunya beban adalah, kakiku yang serasa mau patah setelah 3 kali jalan Korean Condo - ICC Jeju, dan sebaliknya. Terlebih lagi, dia kembali tersenyum padaku. Aku senang karena udara Jeju yang hangat telah menghangatkan hatinya juga. Senyum darinya membuatku seakan pulau di ujung paling selatan Korea itu lebih berwarna dari sekedar daun-daun yang masih tetap menghijau dan deretan kebun jeruk disepanjang jalan dengan warna kuning yang siap dipanen. Kami menghabiskan malam kedua di Jeju dengan pergi ke festival Chilsimni. Kami berlima, mengantre makanan gratis, -dan salah satunya adalah ternyata daging babi-,  langsung kuberikan untuk ke mereka, teman-teman Koreaku itu, berfoto-foto dengan pose yang aneh-aneh di Cheonjiyeon water falls, menonton kembang api, dan acara belanja yang diwarnai insiden kecil  gara-gara sweet potato di E-mart sebelum kembali ke hotel. Aku lega dan perasaan hangat tiba-tiba mengaliri rongga dadaku. Ini adalah oleh-oleh terindah dari pulau Jeju, pikirku... Tuhan mendengar doaku...

  Columnar joints at Jeju Jungmun Daepo Coast for background

Itu adalah pork, yang akan disuapkan ke mulut saya (cuma pura-pura)

Cheonjiyeon : me, Edit, Dong Kyun and Dong Jin

Kunikmati sarapan pagi sekaligus makan siangku dengan tergesa-gesa. Akhir-akhir ini nafsu makanku berkurang drastis dan tubuhku terlalu lemah dengan udara dingin. Apalagi ketika teringat tugas-tugas yang menumpuk minggu ini, serasa tak ingin memasukkan apa-apa lagi ke dalam mulut. Kemudian segera bergegas menuju ke kampus.... Daun-daun semakin menguning, orang-orang semakin tebal dalam berpakaian. Sebentar lagi musim dingin akan segera datang kurasa...


Gyeongsan, Oktober 2010

0 comments: