Thursday, 25 November 2010

Cerita Rakyat Korea Selatan : Nyanyian Katak Hijau

Cerita Nyanyian Katak Hijau menggambarkan kisah seekor anak katak jantan yang selalu bertolak belakang dalam menjalankan perintah ibunya. Jika ibunya menyuruh pergi ke barat, maka yang dilakukan adalah pergi ke timur. Ketika hujan lebat dan banjir datang, ibunya akan berkata, “Nak, jangan bermain-main di pinggir sungai, berbahaya! Bermainlah di perbukitan.” Maka, seketika itu juga, anak katak itu justru langsung melompat ke sungai: “Plung!” menyelam, mempermainkan air, sambil, tentu saja, meledek ibunya. Ketika ibunya mengajari anaknya bernyanyi supaya suaranya lebih merdu: Kungkong, kungkong ~ kungkong, kungkong! Maka si anak katak itu akan menirukannya dengan bernyanyi: Kongkung, kongkung ~ kongkung, kongkung! Begitulah kelakuan anak katak, kerap bertentangan dengan yang diperintahkan ibunya.

Menyadari anaknya selalu melakukan tindakan yang berlawanan dengan perintah ibunya, pada suatu saat, ketika si ibu katak jatuh sakit, ia berpesan kepada anaknya sebagai berikut:
“Nak, rasanya Ibu tidak dapat hidup lama lagi.Walaupun nanti Ibu sudah meninggal, jadilah kamu katak yang baik, dan dapat membahagiakan Ibu. Kalau nanti Ibu meninggal, kuburkanlah Ibu di pinggir sungai, jangan di atas bukit. Inilah pesan terakhir Ibumu.”
Pesan itu sesungguhnya berlawanan dengan maksud yang hendak disampaikan si ibu katak. Pertimbangannya, bahwa anaknya nanti akan melakukan yang sebaliknya, yaitu akan menguburkannya di atas bukit.

Ketika ibunya meninggal, si anak katak itu benar-baenar menyesali perbuatannya selama ini, yaitu selalu melakukan perbuatan yang sebaliknya dengan apa yang diperintahkan ibunya. Dalam penyesalan itulah, ia selama hidupnya, ingin sekali saja menuruti perintah ibunya. Maka, sebagai bentuk penyesalannya itu, si anak katak menguburkan jasad ibunya sesuai dengan amanat terakhir almarhumah. Dikuburkanlah ibunya di pinggir sungai.

Tetapi apa yang terjadi? Pada setiap turun hujan dan air sungai meluap banjir, si anak katak selalu dihantui ketakutan, yaitu kuburan ibunya akan lenyap terbawa banjir. Maka, setiap turun hujan, si anak katak itu selalu menangis sambil berdoa: Kungkong—kungkong, kungkong—kungkong! berharap agar kuburan ibunya tidak terbawa banjir.

Apa makna cerita rakyat itu? Pesannya jelas, yaitu agar anak menuruti perintah orang tua. Tetapi di balik itu, ada makna kultural yang menyangkut tradisi nilai budaya masyarakat Korea. Kuburan adalah simbol leluhur. Maka sebagai bentuk penghormatan pada leluhur, kompleks pekuburan selalu ditempatkan di perbukitan. Pada hari perayaan Chu Seok, hari perayaan pada leluhur, masyarakat Korea akan mudik untuk berkumpul dengan keluarga, mendatangi orang tua, lalu bersama-sama membersihkan kuburan dan memberi penghormatan pada arwah leluhur. Kuburan sebagai simbol leluhur adalah wilayah yang sangat dihormati. Pesan di balik itu adalah penghormatan pada orang tua, atau orang yang lebih tua, atau senior.

Sistem nilai budaya itu tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Korea. Kata sapaan: Anyonghaseo akan kita dengar di mana pun juga ketika seseorang yang lebih muda, berjumpa dengan seseorang (yang dikenalnya) yang berusia lebih tua. Dampak lainnya adalah penghormatan kepada guru. Kondisi itu juga difasilitasi oleh pemerintah. Maka, taman bermain, sarana olahraga, bahkan juga sekolah, dibangun khusus untuk orang tua. Lihat juga subway yang menyediakan tempat duduk khusus untuk orang cacat, orang tua, dan ibu hamil. Sejauh pengamatan, mereka yang merasa masih muda, tidak ada yang berani duduk di bangku khusus itu. Selain itu, dalam setiap hari tertentu dalam seminggu, serombongan orang tua yang berusia di atas 60-an tahun itu, akan sibuk membersihkan jalan, tempat-tempat sampah, dan mengepel atau mengelap lantai dan dinding stasiun. Para orang tua yang sudah melewati masa pensiun itu, masih dikaryakan untuk pekerjaan-pekerjaan yang tidak memerlukan gagasan-gagasan cemerlang dan mengeluarkan tenaga besar. Bukankah perlakuan yang seperti itu boleh dikatakan merupakan representasi penghormatan kepada orang tua.

Penghormatan kepada orang tua, tidak hanya menjadikan masyarakat Korea tidak mengenal istilah culangung, tetapi juga berusaha menghindar apa yang disebut menyalip dalam tikungan ketika yang dihadapi orang yang lebih tua atau sahabat. Sangat mungkin terjadi kasus tertentu yang melanggar sistem nilai budaya itu, tetapi secara umum, sejauh pengamatan, pelanggaran itu jarang terjadi.

Demikianlah, cerita rakyat Nyanyian Katak Hijau itu merupakan representasi perilaku (etika: tidak boleh melawan orang tua), pemikiran (ruang tentang lokasi kuburan), dan kepercayaan masyarakatnya (penghormatan pada leluhur). Jadi, pemahaman kita tentang sebuah masyarakat berikut kebudayaannya, dapat juga dilakukan melalui pemahaman kita terhadap khazanah cerita rakyatnya. Dalam konteks itu, jelas, bahwa cerita rakyat erat kaitannya dengan latar belakang sosiokultural yang berlaku dalam masyarakat masing-masing. Dengan demikian, pemahaman kita tentang cerita rakyat Korea ini membawa kita pada pemahaman kebudayaan, bahkan juga kepercayaan yang berada di belakang alam pikiran masyarakatnya.



Sumber : mahayana-mahadewa


3 comments:

Anonymous said...

nama lo aneh banget coyyyy :D

Idham 다미시 said...

iya nih coyyy... :D

Kyu said...

Bagus..
o ya, caranya menyisipkan lagu di blog gmn si?? thx