Tuesday, 16 November 2010

Untukmu....


Mentari sudah tak lagi menyiramkan hangatnya. Sekarang yang ada hanyalah hawa dingin, dingin dan semakin dingin. Aku hampir membeku dibuatnya (kamu tahu khan kalau aku sangat membenci dingin?). Ini adalah penghujung musim gugur, pepohonan mulai terlihat hanya tampak ranting-rantingnya saja, semua daunnya telah gugur satu persatu hingga habis tak bersisa. Aku menyaksikannya, daun-daun yang berguguran itu, helai demi helai dedaunan itu terlepas dari tangkainya, tertiup angin atau dengan sendirinya terjatuh ke bumi karena gravitasi, kemudian menyisakan hanya batang pohon  yang berdiri sendiri, tampak menyedihkan sekali dimataku. Kadangkala sempat terlintas dipikiran jikalau kau akan meninggalkan aku sama seperti dedaunan itu. Pasti aku akan sangat sedih dan merasa sendiri, sama seperti pohon itu. Ah, entahlah... musim gugur ini sepertinya sering sekali menghadirkan suasana yang melankolis, dan daun-daun yang berguguran itu seperti menyimbolkan sesuatu yang menyedihkan. Terkadang aku suka juga menghitungnya, dedaunan itu, tapi setelah beberapa hitungan seketika kuhentikan karena seperti menghitung menit-menit  waktu bertemu denganmu. Ah, ternyata masih sangat lama ya? Berharap waktu bisa dipercepat dan sepertinya banyak orang yang akan setuju, bukan begitu? Kamu mungkin juga berharap yang sama, iya khan? Aku tahu itu dari isyarat-isyarat katamu...

Aku baik-baik saja, dan akan selalu begitu seperti yang sering kau minta. Tapi kemaren sempat serasa hampir mati kedinginan karena tak memakai jaket ketika suhu di luar  berada di bawah nol derajat.. Aku sama sekali tak bisa membayangkan ketika kapal Titanic tenggelam dan orang-orang tercebur ke dalam Samudara Atlantic saat musim dingin. Mungkin rasanya seperti dihujani beratur-ratus paku, tepat dari atas kepala mereka. Jangan memarahiku! Aku tahu kamu sangat peduli denganku. Berharap kamu juga baik-baik saja. Jaga diri baik-baik ya! Kamu sudah berjanji padaku dan aku tahu kamu tak akan membuatku khawatir. Ternyata musim dingin tak hanya membekukan tubuh, tapi otakku pun ikut membeku. Aku tak bisa berfikir dan tak bisa konsentrasi. Aku kepayahan dan sangat tertinggal. Bagaimanapun, aku tak ingin seperti orang yang tak bisa lagi berfikir. Aku kelihatan seperti seseorang yang sangat bodoh. Dan yang paling disesalkan, nampaknya aku juga kehilangan daya juang yang selama ini menjadi modal bagiku untuk bisa melanjutkan hidup. Seandainya berada disini sekarang ini, kamu pasti akan bilang padaku "Kamu pasti bisa", seperti yang dulu-dulu selalu kamu bilang padaku saat dunia serasa tak baik-baik saja dan segala sesuatu menjadi tak lagi mudah. Entah kenapa, sekedar tiga kata yang kamu ucapkan itu lebih dari cukup untuk membuat duniaku  terasa menjadi semudah membalik telapak tangan. Dan serasa tak ada kata lain lagi yang ingin didengar, tentu saja harus dengan orang yang mengucapkannya, yaitu kamu. See ya... Berharap kita bisa menyaksikan daun-daun maple memerah bersama-sama di musim gugur berikutnya...

0 comments: