Tuesday, 25 January 2011

Motong-Motong Kaca

Motongin kaca, adalah kerjaan yang bisa dibilang gampang-gampang susah. Sudah hampir 1 tahun ini, motong kaca menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hari-hari saya di lab. 
Slogannya : Tiada minggu tanpa memotong kaca.
*Ya iyalah, kalo gak motongin kaca, gak bisa eksperimen, gak ada data, terus bisa di usir deh dari lab...

Motongin kaca emang buat apaan? Kalau ada yang nanya, buat substrate (media) deposisi thin films. Berhubung project saya di lab ini adalah thin films terutama mengenai transparent conducting oxide (TCO). Sebenarnya, selain kaca, substrate buat TCO bisa juga dari polimer. Tapi berhubung material saya ini di desain untuk solar cell, dimana nantinya dalam construction-nya itu perlu untuk di annealing (baca : dipanasin) pada temperatur di atas 400 derajat Celcius. Jadinya, harus pakai substrate kaca, gak bisa pake polimer.Kaca yang saya pakai jenis Samsung Corning Eagle yang punya temperatur transisi glass tinggi, bukan kaca preparat biasa. Dari omongan senior saya yang beli kaca ini, 
"It's very very expensive"
Kebayang deh, kalau dia udah bilang "very" dalam jumlah double gitu... Iya, kaca jenis ini memang cukup mahal harganya... Makanya diwanti-wanti buat hati-hati pas motong biar gak banyak yang pecah. Kaca ukuran 1 m x 1 m ini harus dipotong kecil-kecil menjadi ukuran 1.5 cm x 1.5 cm.
Dulu pas pertama kali disuruh motong, bentuknya gak karu-karuan dan sangat sedikit yang berhasil dipotong dibanding pecahannya.Lama-kelamaan mendingan dan sekarang sudah bisa memotong dengan baik, bentuk maupun ukurannya. Sering luka ketusuk atau kebaret adalah hal yang biasa.

Selama setahun ini memotong kaca, ternyata memotong kaca berkorelasi dengan suasana hati. Serius deh, saya tidak bohong. Kalau suasana hati sedang baik, maka proses motongnya jadi lebih cepet dan lebih rapi. Terus bagian kaca yang pecah juga jadi lebih sedikit. Berbeda sekali kalau suasana hati sedang 'not in good mood', bisa-bisa banyakan kaca yang pecahnya daripada yang berhasil dipotong dalam bentuk dan ukuran yang diinginkan. Semakin saya maksa untuk terus motong, maka  kaca semakin mudah untuk pecah. Kalau sudah seperti itu, lebih baik saya berhenti daripada membuang-buang lebih banyak lagi puing-puing, yang berarti lebih banyak won yang terbuang percuma. Dan juga akan lebih banyak baretan luka ditangan jika masih tetap dipaksakan.

Peralatan :
- alat pemotong kaca (di lab saya pake diamond cutter)
- alas yang datar dan bersih
- penggaris panjang
- poly gloves (biar kacanya gak kotor)

Cara motong :
- Taruh lembaran kaca di atas alas yang datar, bersih dan lumayan tebal
  (jangan sampai ada serpihan kaca di atasnya biarpun kecil karena akan membuat kaca pecah saat keteken)
-  Letakkan  penggaris di atas kaca
- Mulai potong kaca pakai diamond cutter dengan bantuan penggaris
   Goreskan diamond cutter ke kaca sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan sebanyak 4-6 kali goresan (jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit, terlalu banyak goresan = garis melebar & jadi gak rapi, sedikit goresan = kaca jadi gak bisa di patahin)
  Goresnya jangan terlalu kuat dan jangan terlalu lemah (kalau terlalu kuat kaca bisa langsung retak, sedangkan kalau terlalu lemah, butuh banyak goresan sehingga hasilnya nanti kurang rapi)
- Setelah di gores kemudian letakkan garis bekas goresan tadi ditepi-tepi alas tebal
- Kemudian patahkan kaca mengikuti garsi goresan dengan hati-hati

Nampaknya, sepulangnya dari sini, saya ada bakat untuk membuka usaha pembuatan bingkai kaca...^^

1 comments:

Chi said...

Kalau boleh tau kaca TCO bisa didapat di mana ya? Saya cari tapi susah sekali. Thanks before!