Wednesday, 23 February 2011

Aksara Jawa

Tiba-tiba jadi inget sama aksara Jawa... Berhubung saya adalah orang Jawa aseli (tanpa campuran suku manapun), aksara Jawa tidaklah asing bagi saya. *Sebenarnya enggak juga sih, ini gara-gara dari SD sampai SMP, ada muatan lokal bahasa Jawa, dan materi aksara Jawa pasti gak ketinggalan.
Saya sendiri gak terlalu suka sama pelajaran yang satu ini, terutama yang nulis-nulis dan baca aksara Jawa, soalnya syusaaahhh... *seriusan

Dibandingin belajar Hangeul, saya lebih gampang belajar hurufnya orang Korea daripada huruf tanah kelahiran saya sendiri... :D
Belajar 3-4 jam waktu itu sudah 'bisa' baca huruf Hangeul, lhah belajar aksara Jawa dari SD tetep aja masih suka lupa-lupa & suka kebalik-balik. Rule dan printilan-nya ada banyak sih, puyeng ngapalinnya. Selain aksara pokok, banyak anak-anaknya, ada sandangan lah, ada pangkon, ada pasangan dll. Sandangan sendiri dibagi menjadi 2 yaitu sandangan swara dan sandangan panyigeg, dan masing-masing sandangan masih dibagi lagi menjadi beberapa jenis. Misalnya sandangan swara ada wulu, pepet, suku, taling dan taling tarung, masing-masing untuk membedakan vokal. Sedangkan sandangan panyigeg atau panyigeg wanda ada 4 jenis, yaitu wignyan, layar, cecak, pangkon. Hah... baca namanya saja sudah puyeng... *doh*
Belum lagi tanda baca dan aksara murda...
Kalau mau tahu lebih lengkapnya kesini nih! Atau mau versi bahasa Jawa nya juga pasti ada, ini nih

Waktu jaman SD, saya gak terlalu bisa pelajaran aksara Jawa. Waktu SMP lumayan bisa sih, lumayan lancar membaca dan menulis karena guru bahasa Jawanya enak ngajarinnya. Terus sayang pas SMA, pelajaran muatan lokal Bahasa Jawa udah diilangin. Jadinya sekarang udah lupa semua gitu... *sedih

Aksara Jawa atau biasa orang menyebut hanacaraka (ini bacanya bukan hanacaraka pake huruf a, tapi honocoroko pake huruf o seperti pelafalan o dalam kata tokoh), memiliki kandungan cerita tersendiri lhoh. Dari kedua puluh huruf dasar, kira-kira bisa diartikan begini seperti ini :
HO NO CO RO KO = Ono caroko = Ada utusan
DO TO SO WO LO = Doto sawolo = Saling berseteru
PO DHO JO YO NYO = Podho joyonyo = Sama-sama sakti
MO GO BO TO NGO = Mogo bothongo = Kedua jadi bangkai

Menurut yang saya dengar dan pelajari dulu ketika jaman-jamannya masih duduk di bangku sekolah, cerita tentang hanacaraka ini ada hubungannya dengan Ajisaka. Jadi dulu ada seorang Ksatria tanah Jawa, namanya Ajisaka. Dia tinggal disebuah pulau terpencil bersama dengan dua orang abdi setianya, yaitu Dora dan Sembodo. Pada suatu hari, si Ajisaka memutuskan untuk pergi ke ibukota kerajaan dan mengajak serta Dora. Sedangkan Sembodo disuruh tetap tinggal di pulau tersebut dan dititipin sebuah keris. Ajisaka berpesan kepada Sembodo untuk menjaga keris tersebut baik-baik dan tidak boleh diserahkan kepada siapapun. Hingga setelah sekian lama, si Ajisaka berhasil menjadi raja dan memerlukan kembali keris tersebut. Disuruhlah si Dora untuk mengambilnya. kan tetapi, karena Sembodo adalah seorang abdi yang sangat patuh, maka ia tetap menjaga teguh pesan dari Ajisaka untuk tidak memberikan keris tersebut kepada siapapun. Demikian juga dengan Dora. Keduanya sama-sama keukeuh. Hingga akhirnya berseteru. Sama-sama sakti. Dan akhirnya keduanya tewas. Sangat disayangkan sekali.

Dari cerita dibalik hanacaraka tersebut, dua hal penting yang bisa saya ambil pelajaran didalamnya yaitu tentang kesetiaan dan pentingnya komunikasi.


Kurang lebih dulu waktu jaman saya SD, hampir sebagian besar anak-anak sekolah pasti punya yang beginian... :D


2 comments:

ArIf said...

Coba dulu udah ada henpon ya, Mbak? Nggak kejadian salah komunikasi begitu tuh.. *asal*

Idham 다미시 said...

Hahaha... iya, betul Rif,,, khan bisa sms atau telepon si Ajisoko dulu tuh... Sayangnya dulu adanya baru uleg-uleg sih... kkkkkk