Friday, 4 February 2011

Negeri 5 Menara

Hosh... akhirnya selesai juga baca buku ini "Negeri 5 Menara", yang jauh-jauh di 'impor' dari Indonesia. Do'oh, terserang gejala penurunan kemampuan dan kemauan membaca sepertinya. Biasanya, pun buku setebal 'Musashi' bisa habis terbaca hanya dalam satu malam. Tapi baca buku ini berhari-hari gak kebaca-baca juga...TT
Comment singkat : menurut saya pribadi, tetralogi Laskar Pelangi nya Andrea Hirata masih lebih nendang, baik dari segi alur cerita maupun bahasanya ^^. Tapi dapet filosofi yang sangat amat bagus dari buku Negeri 5 Menara ini, yaitu man jadda wajada : siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses.
Lagi males bikin review... Dibawah ada sinopsis yang saya ambil langsung dari website-nya negeri5menara, kalau ada yang ingin tahu jalan ceritanya. Recommended buat dibaca. Secara ini adalah buku 'National Best Seller'. =)

Numpang narcis... :p

Sinopsis :

Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan tentu mandi berkecipak di air biru Danau Maninjau.

Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.

Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses.

Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak menggigau dalam bahasa Inggris, merinding mendengar ribuan orang melagukan Syair Abu Nawas dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.

Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai,  Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa.  Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian jiwa muda ini membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Bagaimana perjalanan mereka ke ujung dunia ini dimulai? Siapa horor nomor satu mereka? Apa pengalaman mendebarkan di tengah malam buta di sebelah sungai tempat jin buang anak? Bagaimana sampai ada yang kasak-kusuk menjadi mata-mata misterius? Siapa Princess of Madani yang mereka kejar-kejar? Kenapa mereka harus botak berkilat-kilat? Bagaimana sampai Icuk Sugiarto, Arnold Schwarzenegger, Ibnu Rusyd, bahkan Maradona sampai akhirnya ikut campur? Ikuti perjalanan hidup yang inspiratif ini langsung dari mata para pelakunya. Negeri Lima Menara adalah buku pertama dari sebuah trilogi.
Sumber 

0 comments: