Saturday, 19 February 2011

Kesedihan Itu Bernama Wisuda


Sekarang ini nampaknya sedang musim orang-orang lagi wisuda...
Di facebook saya lihat bertebaran foto-foto, terutama para junior saya, mengenakan toga dengan senyum mengembang menghiasi sudut-sudut bibir mereka.

Di tempat yang sama, moment yang sama, di bulan yang sama pula... Serasa flashback ke masa 2 tahun yang lalu...
Kemudian saya jadi bertanya-tanya, kira-kira ada gak ya di antara mereka yang justru menangis? Saya rasa, mungkin hanya sayalah satu-satunya...

Sejak saat itu jadi sangat amat menyadari bahwa saat yang paling memilukan bukanlah ketika kita tidak bisa membagi kesedihan yang kita rasakan, akan tetapi saat dimana kita sedang berbahagia namun tidak ada seorangpun sebagai tempat untuk membaginya...

Seharusnya saya senang dan berbahagia, karena bersama 16 orang saat itu, kami bisa mengenakan toga sedikit lebih cepat dari kebanyakan teman-teman kami yang lain. Dan, well, mungkin ini tidak terlalu penting, bisa duduk di bangku barisan paling depan bersama salah seorang sahabat karib saya, nama kami disebut  di depan ribuan orang yang hadir.

Akan tetapi, semua itu serasa tidak berarti apa-apa, ketika saya mendapati ternyata tidak ada siapapun di samping saya. Dan menyaksikan semua orang disambut dengan gembira oleh keluarga dan orang-orang terkasih mereka. Entah kenapa kemudian, air mata membanjir tanpa bisa saya bendung lagi. Hati saya serasa sesak dan hampa. Sangat sedih. Merasa lebih baik sesaat setelah menelepon seseorang dan menumpahkan semua beban di hati saya saat itu. 
Orang-orang yang seharusnya datang, tidak ada... 
Saya tidak tahu kenapa bisa sampai menangis sesenggukan seperti itu, yang saya tahu selama ini saya bukanlah tipe orang yang gampang untuk menangis.

Wisuda, hal yang paling saya ingat adalah saya menangis tersedu-sedu, sehingga meninggalkan jejak hitam maskara di mata dan pipi saya, menghapus make up yang baru pertama kali saya kenakan saat menginjak dewasa. Mata saya sembab dan yang sudah merah akibat maskara yang saya kenakan dari siangnya semakin bertambah merah.

Ada yang ingin hadir di wisuda saya Febuari tahun depan? InsyaAllah...
Sungguh, apapun itu, saya akan sangat berterima kasih dan bersyukur atas kesediaannya...

Pun, sampai sekarang saya masih benci mengingat-ingat tentang wisuda...

0 comments: