Thursday, 31 March 2011

이루마 - River Flows In You (Vocal. Yiruma)

Aaaaaaa~~~ 
Yirumaaaaaaaaaaaa~~~~~~~
Keren bangget......... *mimisan*

Puisi Seorang Kuli (Lab)

Disini kami semua berusaha...
Dengan letih bercampur peluh yang sering dilupa dan terlupa
Ditengah musim silih berganti yang terkadang menggerogoti 
Tak hanya raga namun juga jiwa-jiwa lelah kami 

Dan disini kami adalah para perajut mimpi
Hingga luka terkadang menggores tangan-tangan berparut
Tak jarang pula menyayat hati-hati ringkih kami



Selama mentari jauh tinggi di atas sana masih bersinar...
Tak usah takut arah terang langkahmu akan memudar...



Ayo kawan, berlarilah mengejar pendaran-pendaran
Kilau permata masa depan yang engkau dambakan
Jangan tumbang hanya karena badai menerjang
Dan jangan patah hanya karena parang memberbah
Percayalah, hingga impian itu suatu saat akan tergenapi

 ================================================

*Nemu puisi ini di draft... Entah kapan dibikinnya...
*Aaahhh... jadi kangen bikin puisi lagi... :D  *kayak bisa aja*

Lebih Gila

Jika orang-orang pada ribut dengan 'ulah' saya yang sering pulang pagi, bahkan Professor pun sampai mengkhawatirkan, ternyata ada yang lebih gila lagi di lab saya.
Sebenarnya saya hanya memindah jam tidur saja, tetep waktu tidur saya sangat cukup bahkan berlebih-lebih : lebih dari 7 jam sehari...
Yah, emang sih terkadang cuma 3-5 jam saja, bahkan kadang gak tidur sama sekali... tapi itu untuk case-case tertentu... Tetep, saya adalah termasuk species dengan tingkat interest yang cukup tinggi terhadap aktivitas tidur... :p
Tidurnya kapan atau waktu tidurnya, nah itu yang mungkin berbeda dengan orang kebanyakan...

"When will you go home?" Saya nanya ke Dong Jin... Soalnya jam 1 malem masih ada di lab... Padahal kemarennya, dia gak pulang dan gak tidur sampai pagi, matanya sampai merah banget saya lihat : ngantuk. Ngapain aja emang? Pakai alat yang namanya PLD (Pulsed Laser Deposition), itu lhoh alat untuk deposisi yang pake laser... *halah*. Kalau ditinggal tidur, ya jelas gak bisa, berhubungan dengan proses deposisi yang harus terus dikontrol : mengontrol parameter, ganti sample, nge-running, dll...

"Today, I will not go home... I will stay at here." Dia jawab.

"Aaaa~~~ Are you serious? You didn't go home last night. And today you will not go home again?" Saya rada gak percaya...

"Yes... Maybe tomorrow also, I'll stay at here." Dong Jin said.

Aaaa~~~ Gila!! Udah 2 hari di lab terus gak pulang-pulang.... Bahkan besoknya mau nginep juga. Separah-parahnya saya, kalau nginep di lab, pasti pulang keesokan harinya : entah pagi-pagi, siang atau sore, pasti pulang...

Emang sih, kami ada bedanya : saya cewek, sedangkan dia cowok... Tapi menurut saya, perbedaan itu gak terlalu signifikan... Apalagi, kami di bidang engineering dan di bidang ini gak ada bedanya antara cewek dengan cowok, malah kami-kami para cewek dianggap sama dengan cowok-cowok...

Saya pun yakin, kalau boleh memilih si teman saya itu tadi akan lebih memilih tidur dengan nyaman di one room nya, bergelung dengan selimutnya yang hangat, kasur dan bantal serta guling yang empuk...

Lhah, terus kenapa mau-maunya nginep di lab segala? Sampai gak tidur sepanjang malam....

Ya emang tuntutan kami harus begini... Itu aja sih sebenarnya, jawaban simple nya...

Sumpah, Saya Tak Mengerti...

Hari ini ceritanya ada kelas Solar Cell, jam 7 malem. Uhhh, paling males kalo kelas malem-malem gini. Ngantuknya gak nahan. Sebenarnya saya ambil kelas ini karena disuruh Profesor, semua anak lab saya diwajibkan ngambil. Jadi dari lab saya ada 3 makhluk : saya sendiri, Edit sama Dong Jin. Kata Profesor saya, dosennya bakalan dari Industri, jadi mungkin cuma bisa ngajar dua minggu sekali saja. Kalo dipikir-pikir sih enak juga.... *woohhh, ini niat kesini mau belajar atau apaan ya?*. Sebenarnya kelasnya udah dimulai dari minggu kemaren, tapi berhubung saya ada conference di Jepang waktu itu jadinya ya absen laahhh... *gak mungkin khan bisa berada di dua tempat dalam waktu bersamaan!*. Dan kali ini adalah kelas pertama bagi saya.

Jam 7 kurang 10 saya baru berangkat dari rumah. Niatnya sih pengen jalan cepet-cepet, tapi apa daya kakinya lagi amsyong. Kaki saya bengkak, seriusan, bagian punggung kaki sama lutut. Jalannya udah kayak siput yang nenek-nenek. Kalo normalnya, rumah-lab ditempuh dalam waktu kurang dari 10 menit, sekarang jadi 2 kali lipatnya. Saya coba paksain jalan cepet, eh malah tambah nyut-nyutan, rasanya nyeri sampai ke ubun-ubun. Siyal! Seandainya kaki bisa ditukar tambah.... ~NgacoLoDham~

Nyampe di lab, cuma ada Mr. Ma seorang... Edit sama Dong Jinnya gak ada. Saya pikir mereka udah masuk ke kelas. Ya udah, dengan jurus menebak-nebak kelas soalnya saya sendiri gak tau ada dimana, dan sebelumnya saya sms Edit tapi belum dibales juga, akhirnya saya masuk ke ruang 401. Saya jumpai cuma 3 orang anak Korea, salah satunya saya kenal, dan udah ada dosennya yang sedang menerangkan di depan kelas. Karena gak ada si Edit maupun Dong Jin, asumsi saya : salah kelas. Akhirnya saya keluar lagi, balik ke lab dan nelpon si Edit. Tuuuttt... Tuuuttttt... Terdengar bunyi getar dari kabinet di bawah mejanya. Yah, hp nya gak dibawa. Giliran saya coba nelpon Dong Jin, gak diangkat. Do'oh...

Akhirnya saya keluar lagi, berminat mencari ke lantai 3. Dan untungnya ketemu si Edit di ujung lorong yang entah dia darimana...
Saya : Dit, kelasnya ada dimana?
Edit : Itu disitu, di 401
Saya : Lhah, tadi gue udah masuk kesitu, tapi elo sama Dong Jin nya gak ada. Gue pikir salah kelas... Udah ada dosennya tuh...

Dan akhirnya kami pun masuk ke kelas bersama-sama...

Sesampai dikelas, dosennya nerangin pake bahasa Korea...

Saya : Dit, ini kelasnya dalam bahasa Korea ya?
Edit : Iya...
Saya : Woohhh...

Terus yang lain saya liat pada bawa buku semuanya. Dan sang dosen menyuruh membuka dan membaca chapter sekian... Saya nanya lagi ke Edit :
Saya : Dit, ini bukunya gak ada yang edisi Bahasa Inggris?
Edit : Gak ada...
Saya : Lha terus pegimana?
Edit : Gak tahu...
Saya : Woohhhh....
Jadi selama 2.5 jam di dalam kelas : 
- Dosen menerangkan dengan bahasa Korea, sambil nulis-nulis di papan tulis yang kadang saya (dan Edit) gak bisa nge-baca dan gak ngerti maksudnya. Bahkan sampai terucap : "Itu apaan sih? Tulisannya jelek banget", dari junior saya itu...kebetulan saya duduk disebelahnya...
- Anak-anak Korea dengan khusyuk menyimak dan mendengarkan, yang pasti mereka mengerti, sesekali disuruh baca chapter di buku
- Saya, mendengarkan tapi gak ngerti, sembari menulis-nulis sekenanya, pasang muka kayak orang ngerti ... cuma bisa senyum-senyum doank tiap ditanya "do you understand?" sama sang dosen
- Edit, mendengarkan sambil nulis-nulis juga, tapi nampaknya lebih banyak asyik dengan Blackberry-nya...

Dan diakhir kelas, dosennya ngasi PR segala lagi... *Wooohhh....
Baru kali ini dapet kelas dalam bahasa Korea... Sumpah, saya tak mengerti... Cuma p-n junction, shunt resistance, fill factor, I-V curve yang samar-samar nyangkut di kepala... Sisanya, entahlah, apa yang sedang dibicarakan oleh mereka... T__T  
Wallahu 'alam...  

Ayo Dham, tetep semangat kuliah apapun bahasanya! :p

Tuesday, 29 March 2011

My Own Posterous

Yaayyy... Akhirnya bikin posterous juga... big grin Setelah liat posterous-nya orang ini dan juga ini

Feel free to visit my posterous also. And don't forget to leave some comments in there! 
*halah, padahal postingannya baru satu doang*
Ini alamatnya :
http://mysapheiros.posterous.com/

Kalau ada yang belum tahu posterous, ini nih katanya Wikipedia (dulu saya juga gak tahu apa itu posterous posterous) :
Posterous is a simple blogging platform started in May 2008, funded by Y Combinator. It supports integrated and automatic posting to other social media tools such as Flickr, Twitter, and Facebook, a built-in Google Analytics package, and custom themes. It is based in San Francisco.
 Intinya, posterous itu lebih enak dan gampang buat ngupload-ngupload file gitu deh katanya...

Aaahhh, jadi semakin males ngaktifin facebook lagi...

Cooking Time : Sandwich Gulung

Inget masih punya roti tawar, dan udah bosen kalau dibikin roti bakar mulu, jadinya dibikir sandwich gulung. Terinspirasi pas conference di Jepang, disajikan sandwich gulung ini pas coffee break. Walaupun kelihatannya cuma begitu doank, tapi ternyata rasanya enak banget... Terutama yang isinya jeruk...

Resep Sandwich Gulung
(Modified by Idham)


Bahan :
roti tawar, buang bagian pinggirnya
selada
timun atau tomat, potong-potong tipis
mayonaise
saus sambal
telor, bikin telor ceplok (bisa diganti daging asap atau tuna, sesuai selera)
jeruk, kupas dan potong tipis-tipis (optional)


Cara Membuat :
1. Taruh roti tawar di atas kertas roti atau plastik penutup makanan, ratakan dengan penggulung makanan di atas talenan agar struktur roti lebih padat dan mudah untuk digulung
2. Campur mayonaise dengan saus sambal
3. Oleskan campuran mayonaise dan saus sambal tadi di atas roti
4. Taruh selada di atasnya, kemudian irisan timun/tomat dan telor dadar beserta jeruk
5. Gulung roti dan bikin simpul di kedua ujung pada alasnya agar tidak terlepas
6. Taruh di dalam kulkas kurang lebih 30 menit
7. Potong miring sandwich menjadi dua bagian
8. Siap untuk disajikan

Selamat mencoba... ^^

Narcis Time : My Jilbab Styles

Ceritanya ini lagi seneng bikin slide show... 
Dibilang narsis sih gpp, lha emang iya, sekalian narsis... Hahaha... 
Ya gpp, blog-blog sendiri ini, terserah yang punya dong mau diisi postingan apaan... Hehehe...
Jangan protes! Ini cuma buat dokumentasi saya saja...
Siapa tahu juga ada yang terinspirasi dengan gaya jilbab saya... :D
Yang gak suka, ya gak usah liat...Gitu aja kok repot.... :p


 

Quote

Happy marriages begin when we marry the ones we love, and they blossom when we love the ones we marry. ~Tom Mullen~

So, please, come and find me soon! Wherever you are, I'm waiting for you... happy

~AlreadyTiredWithLife,WannaShareAllofMyBurdensandMyFearsWithYou~ sad

Do you hear in me?

I wish you do...

Monday, 28 March 2011

Japan Day 4 : Nekat

Di Jepang dalam kondisi habis gempa, terjadi pemadaman listrik, ada perubahan jadwal kereta api, masih ada gempa susulan, tidak bisa berbahasa Jepang dan membaca karakter-nya ditambah dengan kebocoran Nuclear Plant di Fukushima, plus sendirian pula adalah termasuk sedikit perbuatan nekat. Orang-orang bilang agar saya jangan pergi kemana-mana, lebih baik tetap stay di hotel. Bahkan ada yang menyarankan segera menjauhi kota Tokyo dan kembali ke Narita keesokan harinya. Tapi bagi saya, berdiam diri di hotel seharian sedangkan telah berada di suatu tempat yang telah lama diimpikan untuk dikunjungi, bukanlah hal yang menyenangkan. Alasan lainnya, nyari oleh-oleh buat orang rumah. Maka saya pun memutuskan untuk jalan keluar, masih tetap berbekal peta subway Tokyo dan Tokyo handy guide. Mungkin saya tidak bisa kemana-mana di Tokyo tanpa kedua benda tersebut.

Karena malam sebelumnya, saya sudah berkunjung ke Shinjuku, Shibuya, Harajuku, Tokyo Tower dan sekitarnya, maka kali ini saya memutuskan untuk mengunjungi tempat yang lainnya : yaitu Asakusa dan Ueno. Rencana juga ingin melihat Rainbow Bridge di Odaiba, tapi menurut keterangan beberapa teman, daerah tersebut belum pulih akibat terkena tsunami. Di Jepang pun kebiasaan malas beranjak pagi-pagi ternyata masih kebawa juga. Siyal! Saya baru keluar dari hotel saat jam makan siang. Bahkan jatah sarapan di hotel pun tidak pernah saya ambil karena saking malasnya bergerak pagi-pagi.

Dari Otsuka menuju daerah Ueno, turun di stasiun Uguisudani dan langsung mencari Kaneiji Temple. Ketika saya terlihat sedang mencari-cari arah, tiba-tiba seorang bapak mendekati saya dan bertanya saya mau kemana dalam bahasa Inggris. Saya bilang ingin ke Kaneiji Temple, dan beliau pun dengan senang hati menunjukkan arahnya. Setelah saya susuri menurut petunjuk si bapak-bapak tadi, ternyata letaknya lumayan jauh. Sudah berjalan lumayan lama tapi tak kunjung menemukannya. Saya tiba di sebuah perkampungan yang di dalamnya banyak terdapat bangunan-bangunan kuno, entah itu temple atau rumah tradisional Jepang, saya kurang tahu. Akhirnya saya bertanya sama bapak-bapak yang saya jumpai di sekitar situ dan menunjukkan dimana letak Kaneiji temple. Ah, found it finally... Kaneiji temple ternyata ukurannya kecil, dan kompleknya pun tidak terlalu luas. Ketika saya masuk, cuma ada 2 orang yang nampaknya akan memindahkan sesuatu dengan menggunakan mobil. Sayangnya pengunjung tidak diijinkan masuk ke dalam bangunan temple-nya, hanya boleh melihat dari batas yang telah ditentukan. Setelah melihat-lihat sebantar, mengambil beberapa foto dan meminta tolong seseorang yang lewat untuk motoin, kemudian saya meninggalkan tempat tersebut. Di dekat Kaneiji Temple, terdapat Ueno Park dan beberapa Cemetery. Saya hanya melihat-lihat dari luarnya saja.

 

Setelah puas berkeliling-keliling Ueno, lalu saya kembali ke Uguisudani Station dan menuju ke Ueno Station , transfer Ginza Line ke Asakusa. Tujuan saya yaitu Namikase, pusat belanja oleh-oleh di Jepang. Sesampainya di Stasiun Asakusa, karena bingung letaknya Namikase ada di sebelah mana, akhirnya nanya ke orang. Ternyata gak terlalu jauh dari Stasiun Asakusa, cuma jalan kaki sekitar 5 menitan. Toko-toko souvenir di Namikase gak semuanya buka pas saya datang. Hanya dua deret saja yang terlihat buka penuh, sebagian besar menjual souvenir traditional khas Jepang. Tidak banyak orang yang datang juga kala itu. Di dekat Namikase, ada sebuah kuil yang lumayan besar. Beberapa orang terlihat datang mengunjungi kuil tersebut untuk berdoa, dan beberapa lainnya yaitu para turis hanya melihat-lihat dari luar kuil, termasuk saya. Semakin sore, udara semakin dingin dan menusuk sekali karena angin yang kencang. Saya bergegas melihat-lihat dan membeli beberapa buah souvenir dari beberapa toko. Tatkala sedang memilih souvenir, tiba-tiba si Eka nelpon, menurut dia Professor menyuruh saya menginap di bandara malam ini. Karena diperkirakan besok pagi lalu lintas sangat padat, dan khawatir jikalau saya telat tiba di bandara. Akhirnya saya putuskan untuk segera kembali ke hotel agar tidak cemas. Sebenarnya masih ingin melanjutkan exploring nya, tapi ternyata udara semakin dingin dan saya hanya memakai jaket tipis. Gak kuat lama-lama berada di luar, saya sudah menggigil... Sekembalinya di hotel, ternyata terjadi gempa susulan selama beberapa saat. Kamar yang saya tempati bergoyang-goyang, hanger yang digantung di dinding pun bergerak-gerak... Saya  gak ke bandara malam itu karena sangat dingin sekali, saya pasti gak akan tahan berada disana...

Malam itu saya cuma bisa berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa sampai sepulangnya saya keesokan harinya. Dan ada yang berpesan untuk saya agar kembali ke Korea dengan selamat dan bisa menulis blog kembali... Terima kasih banyak untuk semua orang yang telah peduli dengan saya kala itu : Astri yang telah menelepon saya walaupun gak diangkat, Eka yang gak capek-capeknya nelpon dan sms, Professor yang sangat peduli dengan saya dan menyesal telah mengijinkan saya berangkat ke Jepang, Ibu, Edit & Dongkyun yang menanyakan keadaan saya disana, teman-teman di Facebook dan lain-lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu...





Sunday, 27 March 2011

Making Korean Food : Yubuchobap (유부초밥)

Seperti postingan saya sebelumnya, mengenai project mencoba membuat masakan Korea, kali ini bikin yubuchobap (유부초밥), kulit tahu isi nasi yang dibumbui dan dicampur sayuran. Tapi nampaknya ada sedikit kesalahan dalam proses pembuatannya, sehingga menjadikan penampilannya kurang menarik. Gara-garanya saya cuma baca cara bikinnya separoh doang, (karena buru-buru) dan selanjutnya dikira-kira sendiri. Eh ternyata kurang tepat, yang seharusnya sayuran kering-nya cukup ditaruh di atasnya, tapi dengan sotoy-nya saya campur juga. Hahaha... gpp lah. Next time, bakalan di update yang versi bener-nya dan sama persis dengan yang di maangchi... Hahaha... Soalnya bahan-bahan set yubuchobap-nya masih ada separoh. Thank to Eka dan Mbak Yuli yang bantu-bantu bikin masukin ke dalam kulit tahunya.

Resep yubuchobap
(modified by Idham)

Bahan : 
1. Yubuchobap (유부초밥) kit, bisa didapatkan di toko-toko Korea atau Jepang, isinya kulit tahu, minyak bumbu yang mengandung vinegar, sayuran kering (seperti pada gambar di bawah ini). Hati-hati membeli yubuchobap kit di Korea, soalnya beberapa di antaranya mengandung babi dalam minyak bumbunya. Yubuchobap kit merk di bawah ini aman untuk digunakan, setelah dibaca, tidak mengandung babi dan turunannya.

 Yubuchobap kit

 Isi yubuchobap kit

2. Ketimun hijau, wortel, acar kuning lobak/yelow pickled raddish (secukupnya)

 Ketimun hijau

Acar kuning lobak
(hahaha... harganya masih ada tuch :p)

3. 1 piring nasi, garam secukupnya

Cara Membuat :
1. Potong-potong kecil ketimun hijau, wortel dan acar lobak 

 Irisan ketimun, wortel dan acar lobak

2. Campur nasi dengan menggunakan minyak bumbu dari yubuchobap kit dan garam. Aduk merata. Kemudian tambahkan dengan sayuran yang telah dipotong-potong tadi. Aduk kembali sampai merata.

(Note : disini letak kesalahannya, saya campur sayuran keringnya sekalian, padahal seharusnya sayuran kering dari yubuchobap kit tadi ditaburkan di atas adonan nasi yang telah dimasukkan ke dalam kantong tahu. Hahaha... gpp, namanya modifikasi...:p)

3. Masukkan adonan nasi dan sayuran tadi ke dalam kantong tahu dari yubuchobap kit

Jadinya begini nih... Kurang cantik sih gara-gara salah step... Hahaha... Gpp lah, namanya memasak suka-suka dan riang gembira, ada yang bilang lebih bagus begitu malah... Hahaha... Rasanya sih udah sama dengan yang dijual ditoko-toko. Oiya, gak ada yang bisa dipakai buat menghias, jadinya jeruk sunkist pun ke dalam piring... :p

Bagi yang di Indonesia, kalau mau coba bikin tapi gak ada bahan-bahan yang disebutkan seperti di atas, bisa diganti dengan bahan-bahan lain yang mirip-mirip kali ya... Hahaha... *memasak suka-suka MODE ON*
Yubuchobap (유부초밥) Rodembil

Referensi : maangchi

Saturday, 26 March 2011

Cooking Time : Gulai Ayam (Padang)

Wadooowww... ini blog isinya jadi masakan semua gini... Yo wes, gak papa... Mumpung lagi niat ngupload... hehe... Sekalian buat dokumentasi, biar gak ribut-ribut nyari resepnya lagi.  
Ya udah, sekalian resep gulai ayamnya di posting aja...
Di sini, masak yang pakai santan gitu-gitu termasuk masakan yang bermodal mahal. Kenapa coba? Karena disini gak ada santan. Ada sih, di Warung Indonesia atau Warung Pakistan. Tapi harganya mahal banget. Jadi, untuk mensiasati-nya, kita tambahin creamer...


Resep Gulai Ayam
(modified by Idham)

Bahan :
1 ekor ayam, potong jadi 8-12 bagian
2 batang serai
3-4 lembar daun jeruk
1/2 liter santan kental
bawang goreng
margarin atau minyak untuk menumis

Bumbu halus :
5-8 buah cabe merah
4-6 butir bawang putih
4-6 siung bawang merah
4-6 butir kemiri
1 sdt jintan bubuk
1 sdt ketumbar bubuk
1 sdt lada bubuk
1 sdt kunyit bubuk
1 sdt jahe bubuk
garam, secukupnya
gula, secukupnya

Cara memasak :
1. Tumis bumbu halus, serai dan daun jeruk hingga harum
2. Masukkan potongan ayam
3. Aduk-aduk hingga bumbu merata
4. Masukkan santan, masak sampai mengental dan ayam matang
5. Angkat, sajikan dan taburi dengan bawang goreng

Selamat mencoba kalau ada yang berminat mencoba...

Note : takarannya tetep pake feeling ya... :p

Cooking Time : Chicken Katsu

Berhubung kami di sini tidak memakan ayam di luar, jadinya harus beli ayam halal dan masak sendiri... Kali ini, saya nyoba bikin chicken katsu... Sebenarnya sudah pernah nyoba sih... Tapi baru kali ini terfikir untuk mendokumentasikan, terutama buat keperluan saya sendiri. Biar pas waktunya masak biar gak ribet-ribet searching-searching resepnya lagi... 


Resep Chicken Katsu
(modified by Idham)


Bahan :
1/2 kg potongan ayam boneless
tepung bumbu atau tepung terigu
tepung panir
2 butir telur, kocok
 2 sdm kecap asin
1 sdt merica bubuk
1/2 sdt jahe bubuk
garam, secukupnya
gula, secukupnya

Cara memasak :
1. Tusuk-tusuk ayam dengan menggunakan garpu
2. Lumuri ayam dengan campuran kecap asin, merica bubuk, jahe bubuk, gula dan garam. Diamkan selama kurang lebih 10-20 menit.
3. Gulingkan ayam yang telah dilumuri bumbu-bumbu tadi ke dalam tepung bumbu atau tepung terigu
4. Masukkan ke dalam kocokan telur
5. Gulingkan kembali ke dalam tepung panir
6. Goreng ayam dalam minyak yang panas dan banyak sampai kecoklatan
7. Angkat, tiriskan dan potong-potong 
8. Sajikan dengan irisan kol, tomat, timun, dan saus sambal atau thousand island

Selamat mencoba... 

Cooking Time : Oseng Jagung


Resep aslinya, oseng jagung dengan zucchini. Tapi berhubung di kulkas adanya mentimun, ya udah pake mentimun aja. Sebenarnya sih, zucchini-nya sendiri ada kok di Korea. Hmmm... enaknya disini, bisa memodif-modif resep sesuka hati... big grin. Kenapa begitu? Soalnya sayur-sayurannya gak sama dengan yang di Indo (beberapa ada yang sama sih). Jadi, kalau mau masak resep Indonesia, harus pinter-pinter nge-ganti sayurannya dan memodif-modif  gitu deh. Contohnya kalau mau bikin sayur asem, bisa jadi kol dan tauge masuk ke kuali. Kok bisa gitu? Ya karena nangka muda, daun melinjo dan kacang panjangnya kagak ada... hehehe...Dan memodif-modif resep adalah salah satu kesukaan saya... big 
grin Bisa jadi, pas abis masak ditanya resepnya apa aja, saya jawab, apa aja ya tadi, lupa... Hahaha... Soalnya maen masuk-masukin aja kadang...

Untuk bumbu, emang beda di Indo sama di sini. Tapi, di Korea ada yang namanya Warung Indonesia yang jual berbagai macam bumbu dari Indonesia. Jadi jangan khawatir... Tapi ya harganya jadi entah berapa kali lipat dibanding di Indo, mahal bo'...

Resep Oseng Jagung
(modified by Idham)

Bahan :
1 kaleng jagung manis 
1 buah zucchini/timun, potong bulat-bulat
3-5 cabe merah, potong menyerong
4-6 bawang putih, cincang halus
1/2 butir bawang bombay, iris tipis
8-10 buah udang, kupas kulitnya
1-2 sdm saus sambal
garam, secukupnya
gula, secukupnya
margarin atau minyak goreng untuk menumis

Cara memasak :
1. Panaskan wajan, masukkan margarin atau minyak goreng, tunggu sampai panas
2. Masukkan bawang putih cincang, oseng hingga harum
3. Masukkan bawang bombay yang telah diiris tipis dan cabe yang telah dipotong, masak sampai layu
4. Tambahkan garam dan gula
4. Masukkan udang 
5. Masukkan zucchini/timun yang telah dipotong dan jagung kalengan
6. Setelah setengah matang, masukkan saus sambal
7. Oseng hingga masak dan sajikan

*Ini termasuk resep praktis dan masaknya cepet... Cocok untuk yang lagi sibuk dan harus tetep masak... happy

Rembang Culinary : Sayur Merica (Kelo Mrico)

Kemaren belanja di Homart dan lihat ada ikan lumayan murah. Ya udah dibeli aja... Pas waktu beli belum tahu sih mau dimasak apa. Terus keinget sama masakan khas dari daerah saya, yaitu sayur merica atau kelo mrico atau jangan mrico kalau dalam bahasa setempat. Sayur ini terbuat dari ikan segar. Bisa ikan apa aja, yang penting ikan segar (iwak anyaran). Paling enak kalo pake ikan manyung. Biasanya dicampur dengan sayur pepaya muda, atau bisa juga dengan ketimun atau krai (sejenis ketimun juga). Masakan ini cukup terkenal mengingat Rembang kaya dengan hasil tangkapan ikannya. Rasanya pedes-pedes seger gitu deh, pedesnya dari merica campur cabe rawit.thumbs up

Ada 2 versi sebenarnya, ada yang bening tanpa pake kemiri dan kental dengan kemiri yang banyak. Orang-orang daerah Lasem, biasanya masak yang versi bening-nya. Tapi pas saya pindah ke Rembang, baru tahu juga ternyata ada versi  yang kuahnya kentel. Tapi kali ini saya bikinnya tengah-tengah, yaitu antara bening dan kental. Pake kemiri tapi karena kemiri disini terbatas dan muahal, jadinya cuma dikasi sedikit. Sayurnya pake lobak, soalnya di sini gak ada pepaya muda sih... Terus terang, saya lebih suka sayur merica yang kuahnya kentel. Lebih maknyuuuussss.... Sebenarnya waktu di rumah, belum pernah bikin sih (hahaha... emang gak pernah masak waktu dulu masih di rumah)... Jadi ini adalah pertama kalinya saya bikin masakan khas Rembang sayur merica... Rasanya lumayan kok, lumayan mirip... big grin

 Sayur merica buatan Koki Idham 
(wooo.... lupa bersihin pinggiran mangkuknya)

Resep Sayur Merica 
(modified by Idham)

Bahan-bahan :
3-5 ekor ikan segar, bersihkan dan potong-potong kalau ikannya besar-besar, kalau ikannya kecil-kecil bisa langsung dipake utuhan tanpa perlu dipotong
pepaya muda/timun/lobak, potong kotak-kotak 
2-3 lbr daun jeruk
2-3 lbr daun salam
1 ruas lengkuas, memarkan

Bumbu halus :
5-8 buah cabe rawit
4-6 butir bawang merah
4-6 butir bawang putih
4-5 butir kemiri
1 sdm merica bubuk
1 sdt kunyit bubuk
1 sdt ketumbar bubuk
1 sdt jahe bubuk
asam jawa, secukupnya
garam, secukupnya
gula, secukupnya
penyedap rasa, secukupnya (bila perlu)

Cara memasak
1. Rebus air, masukkan daun jeruk, daun salam, lengkuas serta bumbu halus
2. Masukkan sayuran yang telah dipotong-potong
3. Setelah sayuran setengah matang, masukkan ikan 
4. Masak sampai matang
5. Sajikan

Gampang banget khan bikinnya. Praktis lagi... hihihi... happy  
*menurut saya, karena tinggal blender bumbu, dan cemplung-cemplung doang*
Selamat mencoba kalau ada yang berminat mencoba...

Note : mengenai takaran, bisa di adjust sendiri... Soalnya saya sendiri kalau masak, biarpun ada resepnya tetap takarannya pake feeling... tongue

Project... :D

Entah kenapa (hahaha... lagi-lagi 'entah kenapa', entah sudah yang keberapa kali bikin postingan yang ada entah kenapa-nya), tiba-tiba jadi pengen buka-buka web resep masakan Koreanya maangchi. Setelah melihat-lihat, akhirnya jadi mupeng sendiri ingin mem-praktekkan. Dan akhirnya memutuskan sebuah project :

Mencoba dan mem-posting resep-resep masakan Korea : main dishes, side dishes, cake, appetizer, soup dll

Hahaha... judulnya kek apaan aja, ternyata cuma kitchen project... tongue
Eh, jangan salah, pangan khan termasuk kebutuhan primer, iya khan!? big grin
Sebenarnya niat kek gini entah sudah dari kapan tahun, cuma waktunya aja yang belum ada. Huhuhu... Sedih sekali... Kerjaannya di lab... lab... dan lab.... Lab mulu pokoknya...sad

Di planning dulu ah, biar bener-bener niat dan dilaksanakan...
Bukan cuma diangan-angan doank... day dreaming
Okay, dimulai dari minggu ini, saya mau bikin Korean snack : yubuchobap (유부초밥) sama matang (마탕) buat pengajian. Saya suka sekali dengan kedua makanan Korea tersebut. Berhubung baru mendengar good news : deadline submission paper-nya ternyata di undur, dari yang semula 31 Maret jadi 15 April. Asyik banget gak tuh... Jadinya bisa sedikit bersantai-santai sejenak... Horaaaayyyy....
Bisa refreshing dengan bereksperimen masakan Korea di dapur...

Ini gambar makanannya dari web maangchi...

 Yubuchobap (유부초밥)

 Matang (마탕)

Oke, tunggu saja laporan berikutnya dari saya, jadinya seperti apa... happy
*kayak ada yang nunggu aja*

Friday, 25 March 2011

Welcome Back, Caffein

Setelah sukses sekitar 6 bulan berhenti 'ngopi', akhirnya malam ini kembali menenggak obat kuat melek tersebut... Duh, hampir gak percaya nih ternyata saya kuat selama itu gak minum kopi... Hebat!! Seorang pecandu akhirnya bisa berhenti.... *memuji diri sendiri dan me-lebay* tongue
Tapi akhirnya kembali meminumnya lagi.... *Yahhh... penonton pembaca akhirnya kecewa

Bertahun-tahun, kopi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup saya. Mulainya sih kayaknya dari kecil,  dan meningkat tajam pas SMA. Dulu, saat masih kuli-ah di sebuah kampus di daerah Depok, hampir tiap malam, 'ngopi' adalah ritual rutin yang hampir tak pernah terlewatkan. Apalagi kalau pas deket-deket ujian dan sedang ujian. Oiya, satu lagi, sama nge-gamtek, bikin gambar begitu-begitu doank ternyata harus gak tidur semaleman lhoh. Paling parah ketika sudah lulus dan ngantor di sebelahnya Kedubes Korsel situ, tiap hari baik pagi dan siang : kopi  adalah WAJIB. worried

Favorit saya dulu adalah Good Day (pada tahu khan ya?), terutama yang rasa Moccachino. Paling enak menurut indera perasa dan penciuman saya. Semua rasa Good Day udah pernah dicoba, emang dulu sukanya coba-coba kopi berbagai rasa. Parahnya lagi, Good Day yang satu sachet-nya udah banyak gitu, kalau bikin kadang suka 2 sachet jadi satu cangkir. Alasannya : biar lebih kentel. Sering banget diomelin eh, diingetin ding sama beberapa orang temen. Sampai diomelin ibu juga begitu ketahuan, tapi tetep deh, masih aja ngopi terus (padahal ibu saya juga suka minum kopi). Bisa berhenti karena kesadaran sendiri. Apalagi sekolahnya ini di Korea, negara yang penduduknya pecinta kopi juga. Vending machine ada dimana-mana, kopi tersedia berbagai rasa. Surga banget deh pokoknya dulu pas awal-awal... Gak pernah sarapan, sebagai gantinya minum kopi saja sudah cukup. Di lab disediain kopi juga, dan ternyata saya yang paling banyak ngabisin, soalnya yang lain pada gak terlalu suka... big grin

Kopi tubruk yang bener-bener item pekat itu juga  pernah suka. Sampai kalau pulang kampung, sekembalinya minta dibawain kopi tubruk atau kadang dikirimin. Daerah saya terkenal dengan kopi-nya lhoh! Tapi kopi lelet, bukannya daerah penghasil kopi... (Note : ini bacanya le- seperti pada kata lembut, bukan le- seperti pada kata lele). Banyak yang gak tahu pasti ya? Kopi lelet itu kopi yang sangat halus sekali (lha iya, nggilingnya aja sampai 8 kali lebih), terus kemudian ampas dari kopi tersebut bisa digunakan untuk mengoles batang rokok, yang sebelumnya dicampur dengan susu kental manis terlebih dahulu. Proses oles-mengoles tadi dikenal dengan istilah nglelet. Katanya sih, rokok yang habis dilelet rasanya lebih nikmat dan lebih 'kuat'. Gak ngerti juga deh... gak pernah nyobain soalnya... nyobain rokok leletnya maksudnya.  Dan soal nglelet ini, mereka-mereka biasanya gak sembarangan oles tinggal oles, tapi kadang "mbatik" juga (daerah saya terkenal dengan batik-nya juga lhoh... hihihi... promosi). Mungkin para leleter, pada jago kali ya kalau disuruh bikin batik. Kakak saya termasuk didalamnya, dan saya sendiri kadang suka terkagum-kagum dengan hasil karyanya. Kopi lelet ini meskipun rasanya gak sepahit espresso, tapi cukup 'nendang'. Yang baru pertama nyobain, mungkin bisa kliyengan saking beratnya. Warung kopi lelet ini menjamur sekali di daerah saya, apalagi yang disepanjang jalan pantura. Tapi kadang sering menjadi konotasi yang negatif...Bagi yang penasaran, ini saya kasi gambar-nya rokok leletan dan cara ngleletnya... *saya ngambil dari facebook salah seorang temen... hihihi...happy

Gambar atas : hasil dari rokok yang di-lelet dengan kopi lelet. Gambar bawah : cara melelet kopi, biasanya pake batang korek api


Ada yang ingin tahu daerah asal saya itu dimana? ~PedeBangetLoDham~ 
Eh, ya gpp dong, siapa tahu ada yang ingin dateng dan nyobain kopi lelet... tongue
Daerah asal saya itu Kabupaten Rembang, tepatnya Kecamatan Lasem... Cari sendiri di peta ya...!!
Tapi jangan bilang kalau pelosok dan gak terkenal banget! ~EmangBenerKok~

Ummm... Baiklah, biar lebih afdol, mungkin perlu saya kasi juga efek positif dan negatif nya minum kopi kali ya... Biar bisa membantah kalau diomelin... hihihi... *dasar jiwa pemberontak*. Menurut saya sih, gak buruk-buruk amat kebiasaan minum kopi, asal gak berlebihan. 1-3 cangkir sehari masih oke lah ya. Saya paling maksimal 2 cangkir saja sehari... Tapi untuk kondisi-kondisi tertentu bisa lebih sih kadang... hihihi... (Iya, orang kadang beli kopi di vending machine 2 cangkir dijadiin satu cangkir)

Efek positif :
  • Kopi dapat mengurangi resiko terkena penyakit Alzheimer.
  • Kopi dapat mengurangi resiko terkena pengakit Parkinson.
  • Kopi dapat membantu meningkatkan memori jangka pendek manusia.
  • Hal ini terutama disebabkan karena kafein yang dikandungnya bereaksi secara kimia menstimulasi dan membantu kita untuk menangkap dan fokus terhadap informasi yang diterima lebih baik untuk jangka pendek tertentu.
  • Kopi dapat membantu meredakan sakit kepala, Kandungan kafein dapat membantu meningkatkan efek obat-obatan yang berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit sementara seperti aspirin, midol dan excedrin. Banyak dari obat sakit kepala dan migran mengandung kafein dalam jumlah kecil.
  • Kopi merupakan efektif antioksidan.
  • Kopi merupakan diuretic yang baik. Minum kopi membuat orang lebih sering buang air kecil. Ini bagus untuk membantu tubuh membuang semua zat-zat ataupun kandungan yang sudah tidak diperlukan lagi oleh tubuh.
  • Kopi juga membantu mengurangi resiko terkena batu ginjal (vibizlife.com)

Efek negatif :

  • Kopi dapat menyebabkan constipation atau susah buang air besar.
  • Kopi menyebabkan karang gigi dan gigi menjadi kuning bia dikonsumsi dalam jumlah berlebihan. (vibizlife.com) 

Tuh khan, banyak efek positif-nya... Minum kopi itu bikin lebih bersemangat tauuu... Betul khan coffee lover?happy

(Postingan colongan)

Sumbernya dari sini nih kalo ada yang nanya... tongue

Wednesday, 23 March 2011

Postingan Iseng-Iseng


Kenapa saya lebih produktif nulis postingan blog daripada nulis paper ya? 
Hahaha... ya iyalah!! Dudul!!
Nulis di blog tinggal ngemeng-ngemeng aja gak perlu ada citation, gak perlu ada dasarnya, gak perlu ada datanya segala macem... Nulis blog sambel merem juga bisa... *halah*
Gak ada yang baca ini, gak ada reviewer... Kalau ada yang baca, paling cuma berapa dan cuma sekedar lewat...

Barusan ketemu Prof. saya, ngobrol-ngobrol, berdiskusi, dan beliau memutuskan tidak mau kehilangan chance untuk submit paper di Thin Solid Films (TSF) Journal. 
Ya iyalah Dham, orang udah mahal-mahal bayarin ke Jepang masak iya tanpa hasil apapun...

Saya bilang masih banyak data yang perlu untuk di ulang. Tapi mesin sputtering-nya sampai sekarang pun belum bener. Waktu tinggal gak ada 10 hari lagi... Saya mulai desperate sebenarnya... *sambil berdoa supaya deadline of submission nya diundur*
Tapi Prof. saya tetap memberi semangat dan motivasi, serta tak lupa selalu memberi senyuman untuk semua student-student-nya. Dan inilah salah satu alasan kenapa saya menaruh hormat yang sangat untuk Prof. saya ini dan berusaha memberi yang terbaik untuk beliau...
"I don't want if we give up. Try your best, Idham! I know that TSF acceptance is very strick. We may not be succesful, but at least we have tried. And if it couldn't be published, we can re-write and submit to TSF again or another journal".

Dan solusi-nya, disuruh nge-remove data-data yang terlihat kurang meyakinkan serta menambahkan data dari eksperimennya Mr. Ma...

Tanggal 8 bulan depan saya disuruh ikut conference lagi sama Prof, tapi cuma one day conference tentang renewable energy dan cuma di Daegu. It will be my 5th conference in 1 year. Manuscript-nya udah beres, dan bakalan di publish di Journal of Nanoelectronic and Optoelectronic (JNO) kalau memenuhi syarat...

Saya gak mau kado yang lain-lain dech untuk hadiah ulang tahun saya bulan depan... Saya mau kadonya itu aja... Paper saya bisa publish... hihihihi... Ngarep boleh dong... Eh, tapi kalau ada yang mau ngasi kado yang lain lagi juga diterima kok... hihihi... *maruk*

Kalau itu bisa terbit, mulai mempertimbangkan untuk lanjut S3... Berarti ada sedikit bakat untuk jadi researcher tingkat selanjutnya... *halah*...
Nulis paper itu ternyata gak gampang ya...

Emang ini, kemampuan nulis ilmiah saya jongkok banget. Kalau disuruh nulis ngemeng baru deh, jago... hihihi... *gak juga padahal*

Walaupun belum bisa terbit sekarang, saya mencoba yakin kalau misalnya paper yang telah saya tulis tersebut bisa publish, entah kapan dan di jurnal apa...

Teringat beberapa tahun yang lalu... Ketika tulisan yang saya bikin pas SMP, saya kirim lagi  pas saya SMA dalam rangka lomba mengarang penghijauan SMA tingkat provinsi ternyata masuk ke babak final... Walaupun gak menang sih... Tapi paling enggak, saya di undang ke Salatiga untuk presentasi tentang tulisan saya itu... Hihihi... Padahal tulisan saya tersebut pas jaman SMP, di tingkat kabupaten aja gak masuk apa-apa... gak menang dan gak masuk final...

Ayo... ayo semangat menulis-nulis... !! 
Dan membaca-baca pastinya... Soalnya kita bakalan susah menulis, gak bisa malahan, kalau tanpa 'membaca'...

Monday, 21 March 2011

Wanita : Makhluk Multi Tasking

Ini ceritanya lagi desperade : nulis paper gak maju-maju alias gak ada ide alias otak lagi buntu... Ya udah dech, bikin postingan di blog aja, siapa tahu pikiran jadi terbuka, dan ide menulis paper pun mengalir... *ngarep*

Eh.. eh... hari ini kamu udah nulis postingan blog sebanyak 2 biji lhoh Dham! Salah satunya, panjang bener lagi isinya... *angel side berusaha ngingetin*
Gak papa sih! Blog khan emang ajang pelarian merangkap sebagai hiburan di kala mumet... *halah, aneh bener hiburannya*
Paling enggak khan target untuk hari ini udah terpenuhi : nyelesein format-an paper buat JNO... dan udah di send ke Prof.... *dark side tetep ngeyel*

Gak tau kenapa ini tiba-tiba terlintas pengen nulis kemampuan multi-tasking seorang wanita... (saya lebih prefer menyebut wanita daripada perempuan, jangan tanya kenapa! *retoris*). Gara-garanya semalem, saya masak... Lhoh, emang apa hubungannya? Gak pernah masak ya Dham? Baru pertama kali? Apa masak sambil tidur? kkkkk....
Enggak sih... Sebenarnya juga hal yang kayak diuraikan berikut ini bukan cuma baru sekali, tapi hampir setiap waktu...

Ceritanya, menu masakannya adalah kentang jamur lada hitam dan balado telur mata sapi. Kentangnya harus goreng terlebih dahulu dan telornya, pasti lah, harus diceplok terlebih dahulu juga (namanya juga balado telor mata sapi, itu lhoh telor ceplok yang dipedesin). Alhasil, biar cepet, dua kompor saya nyalain, yang satu goreng telor dan satunya goreng kentang. Terus kemudian sembari nunggu mateng, ditinggal ngupas-ngupas kentang lagi, motong-motongin sekalian jamurnya, sama nyiapin bumbu-bumbunya : ngupas, motong-motong, nyincang, mblender. Setelah semua digoreng, tinggal dimasak lagi, dan dibumbuin. Alhasil satu jam selesai semuanya, 13 buah balado telor mata sapi sama sewajan penuh kentang jamur lada hitam. Tanpa ada yang gosong... Fiuhhh... Dan gak sembarangan, maksudnya gak dipotong asal potong tapi potongan rapi... Soalnya menurut saya, dalam hal masak memasak, penampilan juga merupakan faktor yang harus diperhatikan selain cita rasa. Biar sesibuk apapun, saya gak mau kalau masak asal-asalan. Memasak juga harus dilakukan dengan sepenuh hati, dan dengan mengerjakannya dengan baik adalah salah satu bentuk hati yang saya berikan... *halah*

Kalau di rumah dulu saya suka melihat ibu saya mengerjakan banyak hal dalam satu waktu, misalnya memasak, sembari bersih-bersih, sembari menyetrika, dan lain-lain. Ternyata bisa. Saya kadang suka heran kala itu. Dan tak jarang saya sering diomelin dan dikasi wejangan kalau ngerjain sesuatu lelet banget dan gak bisa nyambi. Katanya jadi wanita itu harus bisa ngerjain banyak hal dalam satu waktu, harus bisa nyambi-nyambi istilah Jawanya. Lha iya, peran wanita itu gak gampang : harus bisa jadi istri, ibu, diri sendiri dan pekerja (kalau emang terjun dalam dunia kerja). Kalau gak pinter-pinter, bisa jadi kethetheran, suami dan anak-anak jadi gak keurus.

Dan ternyata emang bener, wanita itu adalah makhluk multi tasking. Contohnya adalah, saya sendiri *halah*. Saya kalau belajar hampir selalu sambil dengerin musik, dulu gak bisa kalo gak ada musik. Udah gitu kadang masih sambil angkat telpon berlama-lama, atau sambil chatting kalau ada hal yang penting atau sambil makan. Ajaibnya, semua masuk di otak... 

Kok bisa ya? Emang apa yang khusus dari diri seorang wanita sedemikian sehingga bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu begitu?

Berbeda dengan pria, wanita dianugerahi otak yang mampu bekerja secara simultan antara belahan otak kanan dan kirinya. Wanita itu punya sekelompok syaraf yang menghubungkan antara otak kanan dan kiri, bahasa kerennya Corpus Callosum. Pada pria ada juga, tapi ukurannya 25% lebih kecil. Jadinya karena adanya "penyambung" tadi itu, wanita lebih cepet dalam hal menghubungkan antara pikiran dan perasaan. Bahasa gampangnya, lewat jalan tol.
Makanya, wanita bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu, mampu berfikir, mengingat,  berbicara, mendengar dan merencanakan sesuatu bersamaan, karena kuatnya koneksi bagian-bagian otak yang berlainan tadi...CMIIW...

Sebaliknya, otak pria lebih terspesialisasi, hanya bisa mengandalkan satu bagian otaknya saja. Maka pria lebih cenderung mengerjakan sesuatu satu demi satu, tidak bersamaan.

Hah... Jadi jangan heran (bagi para pria-pria khususnya) jikalau menjumpai seorang wanita yang sedang menyetir, sambil nelpon, sambil make-up-an atau sambil apa lagi gitu... Karena emang wanita bisa melakukannya... *yang ini berbahaya tapinya*

Termasuk saya bikin postingan-postingan di blog ini, lagi sibuk-sibuknya masih sempet aja bikin postingan blog, mana panjang-panjang lagi.... kkkkk...
Mana sambil chatting juga lagi...:D
Khan multi tasking... :p

Buruk Sangka


Dipostingan ini, saya sudah berburuk sangka terhadap orang lain. Dan semalem, saya akhirnya bertanya sama songsengnim saya (baca = nguru ngaji), orang yang lebih mengerti...

Boleh gak kita berburuk sangka sama orang lain kalau kita telah menemukan bukti  yang  cenderung mengarah ke hal yang kurang baik?

Dan jawabannya adalah gak boleh, sebelum akhirnya bener-bener terbukti. Kalau baru "mengarah", berarti belum terbukti dan kita hanya bisa menilai seseorang dari dzahir-nya saja...

Seketika, saya langsung merasa bersalah, telah berburuk sangka sama orang yang sebelumnya, telah berbuat baik sama saya...

Astaghfirullah... Ya Allah, ampunilah saya...

Dan, semoga saja, untuk ke depannya, saya bisa menjadi orang yang selalu berbaik sangka terhadap orang lain... Amien...

Tapi kemudian, saya jadi bingung, antara berhati-hati dengan berburuk sangka. Bisa jadi, beda antara keduanya sangat tipis...

Songsengnim saya bilang, tergantung pinter dan cerdas-cerdasnya kita saja terhadap sebuah situasi...
Allahu 'alam...

Kecanduan Kerokan

Hari Minggu, niat hati ingin bergegas pergi ke lab ~kerjaan menumpuk telah menanti~. Tapi, dasar pikiran dan badan suka gak sinkron (pikiran terlalu bersemangat, tapi badannya gak bisa diajak kompromi) : kepala pusing banget, lemes, seperti gak punya energi buat bangun. Alhasil, gak jadi ke lab sampai malam menjelang. Bangun tidur cuma buat sholat dan makan doang... Males makan juga sebenarnya tapi kalau gak dipaksain, takut malah gak sembuh-sembuh... Kemaren anginnya kenceng banget, dan acara Homecoming Day-nya diadain di luar. Terus malemnya masih jalan ke depan, norebangan sama anak-anak. Jadinya, mungkin ini penyebabnya, saya jadi masuk angin...*nyalahin angin*

Karena hari Minggu adalah jadwal ngaji anak-anak cewek Gyeongsan, sekitar jam 7, Mbak Yuli dateng ke rumah. Tahu saya lagi kurang sehat, terus di kerokin sama dia. Abis itu dipijitin, mulai dari punggung, tangan, leher sampai kepala. Inget pas jaman masih ngumpul bareng di rumah itu, dulu Mbak Yuli kalau ke kamar saya suka mijitin. Begitu melihat saya pulang langsung ndelosor di kasur dengan wajah capek, Mbak Yuli nya ngomong gini "Capek ya Neng?", tanpa babibu langsung mijitin kaki saya... Woowww... miss that moment...

Tak berapa lama kemudian, Mbak Laeli, songsengnim ngaji kami datang. Melihat saya masih terbungkus selimut di kasur, langsung memijit saya juga. Tapi kali ini pijitannya beda, yaitu pijit refleksi, berhubung si Mbak Laeli-nya emang bisa mijit refleksi. Seluruh jari kaki dipijat sampai saya mringis-mringis, sakit banget ternyata ya. This is my first time. Iya, katanya kalau badannya sedang sehat, gak bakalan sakit. Kalau dipijit sakit, tandanya emang badannya lagi gak sehat. Gak dech ya, yang bikin saya heran, padahal cuma dipencet-pencet biasa gitu tapi ternyata sakitnya bisa luar biasa... Saya sampai sempet teriak...

Giliran si Eka nglanjutin mijit kaki saya, Mbak Laeli nya ngicip masakakannya Eka dulu... Jago juga nih anak ternyata. Abis itu, kita ngaji dulu...

Selesai ngaji, acara kerok-mengeroknya masih berlanjut. Kali ini Mbak Fie yang turun tangan. Seantero Gyeongsan, mungkin Mbak Fie yang kerokannya paling manteb, soalnya dia orang Jawa aseli Jogja, biasa dengan kerok-mengerok. Jangan tanya rasanya seperti apa, dijamin mringis, tapi justru itu enaknya kerokan menurut saya. Alhasil, seluruh badan saya merah semua, dan tanggung-tanggung, Mbak Fie ngerokinnya sampai ujung lengan... Woohhh... Padahal tepat seminggu yang lalu sehari sebelum berangkat ke Jepang, saya juga minta dikerokin. Dan setelah saya hitung-hitung, akhir-akhir ini mungkin tiap seminggu sekali saya kerokan... Semalem pun Mbak Fie sampai bilang, "Wah, Dham, kamu kalau nyari suami harus yang bisa ngerokin nih kayaknya!". Saya cuma tertawa...

Dan malam itupun, semua jadi sibuk karena saya... Serasa pulang ke rumah... Dulu pas masih di rumah, atau kalau sedang pulang ke rumah, kalau saya sedang sakit, gak enak badan atau masuk angin, langsung dikerokin sama ibu atau nenek saya. Abis itu dipijitin dan seluruh badan diusap pake minyak kayu putih, terus diselimutin rapat. Plus dibikinin teh anget sama minta disuapin makan kalau manjanya lagi kumat. Ajaib. Gak perlu ke dokter atau minum obat pasti sembuh *saya emang gak suka pergi ke dokter*

Saya jadi penasaran, kok bisa ya kerokan nyembuhin penyakit masuk angin atau gak enak badan?  Biar gak penasaran lagi, akhirnya dibela-belain googling di tengah-tengah sedang mem-format paper. Dan dari hasil googling :

"Tidak ada istilah masuk angin dalam ilmu kedokteran," kata dr Kartono Mohamad, mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Pengendara motor yang tidak menggunakan jaket, penjaga siskamling atau orang yang kehujanan sering merasa dirinya masuk angin dengan gejala perut kembung, badan pegal. Sebenarnya adakah penyakit masuk angin itu?
Dunia kedokteran tak pernah mengenal istilah "masuk angin". Gejala-gejala yang ditimbulkan seperti perut kembung, nyeri otot, pusing, sakit tenggorokan, bersin-bersin, sampai batuk dan pilek merupakan gejala-gejala dari penyakit lain. Penyakit yang diderita bisa bermacam-macam tergantung gejalanya.

Perut kembung secara kedokteran didiagnosa sebagai gejala maag atau adanya ganggguan lambung dan gangguan pencernaan lainnya.

Sedangkan pusing, sakit tenggorokan, bersin, batuk dan pilek bisa merupakan gejala flu. Badan pegal atau nyeri otot bisa disebabkan karena orang tersebut terlalu capek dan kurang istirahat.
 
Woohhh... Bahkan istilah masuk angin aja ternyata gak ada dalam ilmu kedokteran... Jadi saya sakit apa dong? Ummm... dugaan kuat mungkin penyakit maag yang saya derita sejak masih kecil kambuh soalnya perut terasa kembung. Atau mungkin gangguan lambung atau pencernaan lainnya. Entahlah... Bisa jadi terkena flu, terlalu capek atau kurang istirahat...

Lanjut... Yang ini berhubungan dengan kerokan :

Kebanyakan orang mendiagnosa sendiri bahwa dirinya masuk angin. Ketika masuk angin mereka memilih pengobatan dengan cara 'kerokan'. Selain lebih mudah, kerokan dianggap lebih manjur daripada harus mengonsumsi obat-obatan.

dr Kartono menjelaskan bahwa sebenarnya kerokan hanyalah mengalihkan rasa sakit yang diderita pasien, tetapi tidak bisa mengobati penyakit itu. Kerokan dapat menyebabkan aliran darah ke kulit lebih lancar, sehingga badan akan merasa lebih segar.

"Kerokan prinsipnya sama dengan bekam," kata dr Yuni. Kerokan dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang sudah tidak berfungsi dengan baik atau yang banyak mengandung CO2 akibat polusi. Sehingga dengan teknik kerokan, dapat mengeluarkan uap-uap polusi dalam darah dan orang akan merasa lebih enakan.
Sekarang saya mengerti, kerokan sebenarnya cuma mengalihkan rasa sakit. Ya iya, soalnya kerokan sendiri sakitnya minta ampun sebenarnya... Tapi memang habis kerokan, badan rasanya lebih seger... Terbukti, sehabis kerokan semalem, saya jadi punya daya untuk beranjak dari tempat tidur, bahkan sempat  pergi belanja dan memasak segala...

Kerokan efek terapinya lebih pada kebiasaan (habituasi) dan besifat sugesty belaka. Habituasi disini analog dengan perokok, orang yang biasa merokok yang mengaku tidak bisa berfikir tanpa merokok. Sedangkan sugesty seringkali memang cukup manjur sekalipun tidak rasional secara mekanisme therapy, karena dengan sugesty seseorang akan termotivasi untuk sembuh dari keluhan sakitnya.Sudah pasti kerokan akan merusak permukaan kulit tubuh kita, namun tidak terlalu parah karena trauma gesekan yang dilakukan secara perlahan dan teratur. Kemerahan pada kulit terjadi karena pelebaran kapiler darah kulit atau bahkan perdarahan di bawah kulit (yang berubah menjadi kehitaman esoknya). Dan Alhamdulillah kita dikaruniai kulit yang memang mudah beradaptasi terhadap trauma dan kemampuan regenerasi yang demikian canggih dan cepat.

Berarti selama ini saya sembuh karena sugesti belaka... Gak papalah yang penting sembuh... Tapi ternyata, kerokan memilik efek samping yang (katanya) membahayakan...

Kerokan biasanya dapat menimbulkan ketagihan atau kecanduan. Orang yang sudah terbiasa dikerok merasa belum baikan jika belum menjalani ritual itu. Tapi menurut dr Yuni, terlalu sering melakukan kerokan dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang masih berfungsi dengan baik, dan hal ini bisa membahayakan kesehatan.

Sepertinya saya sudah berada pada level "kecanduan" akan kerokan. Dan nampaknya perlu untuk mengurangi kebiasaan ini... 

*Dan sampai sekarang, kepala ternyata masih nyut-nyut-an, tenaga belum pulih full...

Sumbernya dari sini dan juga dari sini

Saturday, 19 March 2011

Tolong, Jangan Dirampas!

Entah kenapa, sampai sekarang saya masih belum bisa menerima jikalau ada orang yang telah berjanji, telah berencana dan telah mengatakan akan berbuat sesuatu untuk saya, misalnya datang menemui saya, mengerjakan sesuatu dengan saya, pergi ke suatu tempat dengan saya atau membantu saya tapi kemudian tiba-tiba pada hari yang dinanti-nanti, dia mengatakan tidak jadi atau batal.

Itu sama artinya merampas sebuah harapan...

Kecewanya gak ketulungan....

Bagi saya, lebih baik berkata "tidak bisa" dari awal jikalau memang telah melihat lebih banyak peluang untuk tidak bisanya, daripada memberi harapan untuk kemudian dirampas dengan bilang "tidak jadi".

Ibu saya bilang akan mengunjungi saya setahun setelah berada di sini. Tapi kemudian, karena saking sibuknya  beliau dan beberapa hal yang tidak memungkinkan, akhirnya tidak bisa kesini. 

Jujur, saya (sangat) kecewa... 

*Terdengar egois, tapi memang seperti ini yang saya rasakan. Terdengar sangat buruk, tapi memang saya akui ini salah satu sifat buruk saya. Terdengar kekanak-kanakan, saya memang masih dalam proses menuju dewasa... 
Tolong dimaklumi...

Babo

Hari ini, akhirnya saya ke lab karena ada lab meeting. Kemaren seharian di rumah karena masih gak enak badan dan masih capek banget. Dan begitu bertemu dengan teman-teman lab, saya diteriakin :

"Idham baboooo! How are you? We are worried about you!"

"I'm okay. Kwenchanayo."

"Oh Okay. So, Sonmul juseyo!" Mr. Ma bilang...

Giliran saya yang mencak-mencak,

"Woiii... kalian malah nanyain oleh-oleh. Bukannya nanyain kesehatan dan yang lainnya selama di Jepang. Huhuhuhu..."

"Oh no... I already sent you message..." Dong Jin said

"Me too, I wrote to her Facebook wall..." Edit gak mau kalah

Mr. Ma gak bersuara...

Mr. Ma, you don't worry about me!

"Nooo... Idham... I'm worried about you, too."

Dan ketika lab meeting, Profesor pertama kali menanyakan keadaan saya...
"Idham, how are you? Are you okay?"

~ThankYou~

Japan, Day 3 : Bad News

Selasa, 15 Maret 2011

Sekarang saya sudah hafal rute menuju Waseda...

Hari kedua conference, kami mendapat kabar kalau Nuclear Plant Jepang di Fukushima meledak dan terjadi kebocoran, empat dari enam reaktor nuklirnya. Panitia conference membatalkan jadwal keesokan harinya, dan jadwal pada hari itu pun dipercepat. Terlihat semakin sedikit peserta yang datang.

Saya bertemu dengan beberapa student dari KIST, kebetulan sebelum berangkat Profesor saya berpesan untuk mencari Profesor dari KIST yang menjadi committe di conference tersebut. Prof. saya bilang, dia akan datang bersama para graduate student-nya. "Please, find him and say hello. He will take care of you. Saya berkenalan dengan mereka, terutama seorang Ph.D candidate cewek, Eugene Chong. Dia menyambut saya dengan ramah. Dari Eugene inilah saya tahu kalau mereka semua mempercepat flight dan akan pulang keesokan harinya. 

Pukul 5 sore conference dinyatakan selesai dan ditutup, padahal seharusnya selesai pukul 7 menurut jadwal. Tampak ada risau dan kekhawatiran di muka chair of committe-nya ketika menutup acara. Dan orang-orang pun nampak tergesa-gesa untuk segera meninggalkan tempat conference. Salah seorang teman conference, Postdoc dari Kyoto Univ. menyarankan saya untuk segera meninggalkan kota Tokyo. Jika memang tidak bisa mempercepat flight, dia menyarankan saya besok pagi pergi ke luar kota Tokyo dan kembali ke Narita pas hari Kamis-nya. Berlama-lama di Tokyo dengan kondisi seperti ini bukan ide yang bagus. Ini adalah bahaya radiasi nuklir yang tidak bisa dilihat secara kasat mata. Tentu bukan ide yang bagus mempertaruhkan kesehatan, dan bahkan nyawa kita disini, begitu dia bilang.

Kemudian dia mengajak saya untuk ikut serta menjelajah sudut-sudut kota Tokyo malam itu, kalau saya mau. Karena memang berencana jalan-jalan dan tidak ingin hanya berdiam diri saja ketika berkunjung ke Tokyo, akhirnya saya setuju untuk bergabung dengan dia. Pertama kita ke daerah Shibuya - Harajuku Ometesando. Begitu keluar dari stasiun Harajuku, di depan kami telah terlihat Takeshita-dori. Di sepanjang jalan tersebut, merupakan pusat perbelanjaan yang cukup ramai, sebagian besar menjual pakaian dan aksesoris, kemudian juga ada beberapa restoran dan kafe. Kami terus menyusuri Harajyuku Street... 

Dari Shibuya, kami kemudian menuju daerah Roppongi buat nyari makan malam. Sudah menjelang pukul 7 malem, dan perut saya sudah keroncongan. Setelah beberapa lama mencari-cari tempat makan, akhirnya kami memutuskan untuk memasuki sebuah restoran tak jauh dari stasiun Roppongi. Begitu kami masuk, ternyata di dalamnya sepi dan saya lihat ke sekeliling, banyak terdapat botol minuman. Saya ngerasa rada kurang enak, walaupun di Korea, telah terbiasa melihat pemandangan tempat makan yang banyak disajikan minuman beralkohol. Tapi kali ini saya merasakan suasana nya sedikit aneh dan lain, entahlah. Kemudian pelayan restoran datang, dan saya sedikit surprise mengetahui bahasa Inggris-nya sangat lancar. Saya kemudian pesan minuman jus strawberry, sedangkan si Postdoc Kyoto Univ. memesan segelas Ebisu. Dia meminta ijin ke saya apakah saya okay jika ia memesan Ebisu. It's okay, saya bilang. Tak berapa lama kemudian, minuman kami datang. Dan entah karena gugup atau kenapa, saya sendiri kurang tahu persis-nya, saya menumpahkan minuman jus saya. Saya berulang kali meminta maaf, dan pelayan kemudian mengganti dengan jus yang baru. Setelah itu dia memberikan buku menu (semuanya dalam bahasa Jepang) dan menanyakan pesanan kami. Saya bilang ke si Postdoc Kyoto Univ., kalau saya gak makan daging apapun dan juga ayam, dan meminta tolong untuk menanyakan menu yang ada. Dia telah 2 tahun tinggal di Jepang, lumayan bisa bahasa Jepang. Dia pesen nasi ikan, sashimi, dan tofu untuk kami berdua, kebetulan dia juga gak makan daging.

Sembari menunggu makanan datang, kami mengobrol. Saya lebih banyak jadi pendengar, dan dia berbicara banyak malam itu tentang banyak hal. Saya memberanikan diri bertanya agama yang dia anut. Dia menjawab officially Hindu, tapi secara praktekknya agama dia adalah sesuai apa peran yang sedang dia jalankan. Misalnya, di depan ibunya, agama dia adalah anak laki-laki, bagi negaranya, agama dia adalah warga negara, di depan gurunya, agamanya adalah murid, dst. Saya manggut-manggut aja mendengar penjelasannya, walaupun tidak sepenuhnya saya mengerti. Setelah itu dia mulai bertanya hal yang menurut saya sudah menyangkut privasi, dia bertanya apakah saya sekarang sudah punya pacar atau tunangan. Saya jawab belum. Dan kemudian dia bertanya kenapa... 
Rasa tidak nyaman saya semakin bertambah.... Tapi kemudian berpikir bahwa mungkin itu hanya perasaan saya saja...

Ketika kami selesai makan, dan pelayan memberikan nota ke meja kami, saya lihat jumlahnya lumaya besar. Dan ketika saya mengeluarkan dompet untuk ikut membayar, dia bilang tidak usah dan dia tidak suka jika saya ikut membayar. Dia bilang dia tahu saya masih student. Saya tetep ngotot ingin ikut membayar, tapi kemudian dia memaksa. Ya sudahlah...
Dan saya hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih...

Udara malam semakin dingin, dengan angin yang berhembus sangat kencang, saya hanya mengenakan jas tipis. Saya menyesal kenapa jaket yang saya bawa di tas kemarennya, hari ini saya keluarkan dan saya tinggalkan di hotel. Kemaren udara sangat panas hingga saya pikir tidak perlu untuk membawa jaket, tapi kemudian hari ini berubaha drastis, menjadi sangat dingin.

Setelah itu, dia bertanya saya ingin pergi kemana, dan kemudian kami akan segera menuju kesana. Saya bilang, saya ingin pergi ke Tokyo Tower. Dan meluncurlah kami kesana, turun di Stasiun Akabanebashi, berjalan sekitar 10-15 menit. Tokyo Tower terlihat kecil dari kejauhan, lampu mati malam itu. Maklum karena kota Tokyo sedang dilanda krisis energi listrik, dan sedang dilakukan usaha penghematan. Setelah sampe di dasar-nya ternyata lumayan tinggi dan besar. Tapi ternyata Tokyo Tower malam itu ditutup, kami tidak bisa masuk apalagi naik ke atas. Setelah mengambil beberapa gambar, akhirnya kami balik. Suasana sangat sepi di jalan-jalan sekita Tokyo Tower padahal belum begitu larut malam. Mobil-mobil hanya terlihat sedikit yang melintas. Aneh...

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami ke Shinjuku. Saya bilang saya tidak ingin semakin menjauh dari tujuan kami pulang, karena dalam kondisi seperti ini, saya khawatir subway dan kereta tidak beroperasi sampai larut malam. Akhirnya saya bilang ke daerah Shinjuku saja, terus kemudian bisa ke Ikebukuro. Dia mengiyakan. Malam itu kami agak "nyasar" di daerah Shinjuku dikarenakan setelah bertanya pada 3 orang, dan semuanya memberikan jawaban yang berbeda. Pelajaran yang bisa saya ambil kala itu, yaitu bila kita sedang meng-explore suatu wilayah, tetap berpegang pada tujuan awal kita, dan jangan terpengaruh dengan pendapat orang yang mengatakan kesini lebih dekat atau bagaimanapun. Karena jika kita mengikuti mereka bisa jadi rencana kita kacau dan menjadi semkain tersesat. Seperti kami malam itu, setelah berjalan berputar-putar tak kunjung menemukan stasiun terdekat....

Malam semakin larut... Dan saya sedikit was-was... Bukan tanpa alasan, karena si orang ini mulai berlaku aneh terhadap saya. Dia mulai berani mencoba menggandeng tangan saya, walaupun kemudian saya segera mencari cara untuk melepaskannya. Saya tidak berani melakukannya secara frontal dan langsung marah-marah ke dia, saya sadar saya sedang berada di negeri orang sendirian dan bersama dengan orang yang baru saya kenal 2 hari yang lalu. Sampai akhirnya saya meminta untuk pulang dan kembali ke hotel, dan kaget mendengar jawaban dari dia, "Kamu bisa stay di hotel saya. Jangan khawatir."
Saya jawab tidak bisa, saya harus segera pulang memberi kabar ke teman saya... Dan saya memaksa untuk segera pulang... Dan berulang kali dia bilang bahwa saya bisa stay di hotel dia malam ini...

Ada yang tidak beres... Saya harus segera pulang... Akhirnya saya bersikeras ingin pulang dan dia pun menyerah... Akhirnya kami pulang... Saya sengaja mengambil tempat duduk yang terpisah jauh dari dia ketika di kereta... Dan pas dia turun duluan, saya hanya melambaikan tangan dan tersenyum bilang terima kasih...

Bukannya saya tidak tahu berterima kasih... Tapi dari ucapannya, tersimpan maksud yang kurang baik terhadap saya dan adalah bodoh sekali jika saya berlama-lama dengan dia dan tidak segera meninggalkannya.

Kejadian malam itu memberi pelajaran kepada saya, bahwa tidak semua orang yang berlaku baik kepada kita karena memang dia baik dan benar-benar melakukannya tanpa niat (buruk) lain apapun. 
Sisi baiknya, overall, sebelum dia melontarkan kata-kata seperti itu dan saya jadi membaca niat buruknya, dimata saya dia baik. Untung ketahuan niat buruk-nya di akhir-akhir.
Saya tidak tahu, entah saya-nya yang bego dengan menganggap semua orang yang berbuat baik itu adalah bener-bener baik, saya-nya yang bego dengan selalu berusaha tidak berburuk sangka terhadap orang lain, atau memang saya-nya yang kurang hati-hati. Apapun, ini seperti mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati...

Dan malam itu, saya mendengar kabar kota Tokyo masih di landa gempa susulan...