Saturday, 19 March 2011

Japan, Day 3 : Bad News

Selasa, 15 Maret 2011

Sekarang saya sudah hafal rute menuju Waseda...

Hari kedua conference, kami mendapat kabar kalau Nuclear Plant Jepang di Fukushima meledak dan terjadi kebocoran, empat dari enam reaktor nuklirnya. Panitia conference membatalkan jadwal keesokan harinya, dan jadwal pada hari itu pun dipercepat. Terlihat semakin sedikit peserta yang datang.

Saya bertemu dengan beberapa student dari KIST, kebetulan sebelum berangkat Profesor saya berpesan untuk mencari Profesor dari KIST yang menjadi committe di conference tersebut. Prof. saya bilang, dia akan datang bersama para graduate student-nya. "Please, find him and say hello. He will take care of you. Saya berkenalan dengan mereka, terutama seorang Ph.D candidate cewek, Eugene Chong. Dia menyambut saya dengan ramah. Dari Eugene inilah saya tahu kalau mereka semua mempercepat flight dan akan pulang keesokan harinya. 

Pukul 5 sore conference dinyatakan selesai dan ditutup, padahal seharusnya selesai pukul 7 menurut jadwal. Tampak ada risau dan kekhawatiran di muka chair of committe-nya ketika menutup acara. Dan orang-orang pun nampak tergesa-gesa untuk segera meninggalkan tempat conference. Salah seorang teman conference, Postdoc dari Kyoto Univ. menyarankan saya untuk segera meninggalkan kota Tokyo. Jika memang tidak bisa mempercepat flight, dia menyarankan saya besok pagi pergi ke luar kota Tokyo dan kembali ke Narita pas hari Kamis-nya. Berlama-lama di Tokyo dengan kondisi seperti ini bukan ide yang bagus. Ini adalah bahaya radiasi nuklir yang tidak bisa dilihat secara kasat mata. Tentu bukan ide yang bagus mempertaruhkan kesehatan, dan bahkan nyawa kita disini, begitu dia bilang.

Kemudian dia mengajak saya untuk ikut serta menjelajah sudut-sudut kota Tokyo malam itu, kalau saya mau. Karena memang berencana jalan-jalan dan tidak ingin hanya berdiam diri saja ketika berkunjung ke Tokyo, akhirnya saya setuju untuk bergabung dengan dia. Pertama kita ke daerah Shibuya - Harajuku Ometesando. Begitu keluar dari stasiun Harajuku, di depan kami telah terlihat Takeshita-dori. Di sepanjang jalan tersebut, merupakan pusat perbelanjaan yang cukup ramai, sebagian besar menjual pakaian dan aksesoris, kemudian juga ada beberapa restoran dan kafe. Kami terus menyusuri Harajyuku Street... 

Dari Shibuya, kami kemudian menuju daerah Roppongi buat nyari makan malam. Sudah menjelang pukul 7 malem, dan perut saya sudah keroncongan. Setelah beberapa lama mencari-cari tempat makan, akhirnya kami memutuskan untuk memasuki sebuah restoran tak jauh dari stasiun Roppongi. Begitu kami masuk, ternyata di dalamnya sepi dan saya lihat ke sekeliling, banyak terdapat botol minuman. Saya ngerasa rada kurang enak, walaupun di Korea, telah terbiasa melihat pemandangan tempat makan yang banyak disajikan minuman beralkohol. Tapi kali ini saya merasakan suasana nya sedikit aneh dan lain, entahlah. Kemudian pelayan restoran datang, dan saya sedikit surprise mengetahui bahasa Inggris-nya sangat lancar. Saya kemudian pesan minuman jus strawberry, sedangkan si Postdoc Kyoto Univ. memesan segelas Ebisu. Dia meminta ijin ke saya apakah saya okay jika ia memesan Ebisu. It's okay, saya bilang. Tak berapa lama kemudian, minuman kami datang. Dan entah karena gugup atau kenapa, saya sendiri kurang tahu persis-nya, saya menumpahkan minuman jus saya. Saya berulang kali meminta maaf, dan pelayan kemudian mengganti dengan jus yang baru. Setelah itu dia memberikan buku menu (semuanya dalam bahasa Jepang) dan menanyakan pesanan kami. Saya bilang ke si Postdoc Kyoto Univ., kalau saya gak makan daging apapun dan juga ayam, dan meminta tolong untuk menanyakan menu yang ada. Dia telah 2 tahun tinggal di Jepang, lumayan bisa bahasa Jepang. Dia pesen nasi ikan, sashimi, dan tofu untuk kami berdua, kebetulan dia juga gak makan daging.

Sembari menunggu makanan datang, kami mengobrol. Saya lebih banyak jadi pendengar, dan dia berbicara banyak malam itu tentang banyak hal. Saya memberanikan diri bertanya agama yang dia anut. Dia menjawab officially Hindu, tapi secara praktekknya agama dia adalah sesuai apa peran yang sedang dia jalankan. Misalnya, di depan ibunya, agama dia adalah anak laki-laki, bagi negaranya, agama dia adalah warga negara, di depan gurunya, agamanya adalah murid, dst. Saya manggut-manggut aja mendengar penjelasannya, walaupun tidak sepenuhnya saya mengerti. Setelah itu dia mulai bertanya hal yang menurut saya sudah menyangkut privasi, dia bertanya apakah saya sekarang sudah punya pacar atau tunangan. Saya jawab belum. Dan kemudian dia bertanya kenapa... 
Rasa tidak nyaman saya semakin bertambah.... Tapi kemudian berpikir bahwa mungkin itu hanya perasaan saya saja...

Ketika kami selesai makan, dan pelayan memberikan nota ke meja kami, saya lihat jumlahnya lumaya besar. Dan ketika saya mengeluarkan dompet untuk ikut membayar, dia bilang tidak usah dan dia tidak suka jika saya ikut membayar. Dia bilang dia tahu saya masih student. Saya tetep ngotot ingin ikut membayar, tapi kemudian dia memaksa. Ya sudahlah...
Dan saya hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih...

Udara malam semakin dingin, dengan angin yang berhembus sangat kencang, saya hanya mengenakan jas tipis. Saya menyesal kenapa jaket yang saya bawa di tas kemarennya, hari ini saya keluarkan dan saya tinggalkan di hotel. Kemaren udara sangat panas hingga saya pikir tidak perlu untuk membawa jaket, tapi kemudian hari ini berubaha drastis, menjadi sangat dingin.

Setelah itu, dia bertanya saya ingin pergi kemana, dan kemudian kami akan segera menuju kesana. Saya bilang, saya ingin pergi ke Tokyo Tower. Dan meluncurlah kami kesana, turun di Stasiun Akabanebashi, berjalan sekitar 10-15 menit. Tokyo Tower terlihat kecil dari kejauhan, lampu mati malam itu. Maklum karena kota Tokyo sedang dilanda krisis energi listrik, dan sedang dilakukan usaha penghematan. Setelah sampe di dasar-nya ternyata lumayan tinggi dan besar. Tapi ternyata Tokyo Tower malam itu ditutup, kami tidak bisa masuk apalagi naik ke atas. Setelah mengambil beberapa gambar, akhirnya kami balik. Suasana sangat sepi di jalan-jalan sekita Tokyo Tower padahal belum begitu larut malam. Mobil-mobil hanya terlihat sedikit yang melintas. Aneh...

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami ke Shinjuku. Saya bilang saya tidak ingin semakin menjauh dari tujuan kami pulang, karena dalam kondisi seperti ini, saya khawatir subway dan kereta tidak beroperasi sampai larut malam. Akhirnya saya bilang ke daerah Shinjuku saja, terus kemudian bisa ke Ikebukuro. Dia mengiyakan. Malam itu kami agak "nyasar" di daerah Shinjuku dikarenakan setelah bertanya pada 3 orang, dan semuanya memberikan jawaban yang berbeda. Pelajaran yang bisa saya ambil kala itu, yaitu bila kita sedang meng-explore suatu wilayah, tetap berpegang pada tujuan awal kita, dan jangan terpengaruh dengan pendapat orang yang mengatakan kesini lebih dekat atau bagaimanapun. Karena jika kita mengikuti mereka bisa jadi rencana kita kacau dan menjadi semkain tersesat. Seperti kami malam itu, setelah berjalan berputar-putar tak kunjung menemukan stasiun terdekat....

Malam semakin larut... Dan saya sedikit was-was... Bukan tanpa alasan, karena si orang ini mulai berlaku aneh terhadap saya. Dia mulai berani mencoba menggandeng tangan saya, walaupun kemudian saya segera mencari cara untuk melepaskannya. Saya tidak berani melakukannya secara frontal dan langsung marah-marah ke dia, saya sadar saya sedang berada di negeri orang sendirian dan bersama dengan orang yang baru saya kenal 2 hari yang lalu. Sampai akhirnya saya meminta untuk pulang dan kembali ke hotel, dan kaget mendengar jawaban dari dia, "Kamu bisa stay di hotel saya. Jangan khawatir."
Saya jawab tidak bisa, saya harus segera pulang memberi kabar ke teman saya... Dan saya memaksa untuk segera pulang... Dan berulang kali dia bilang bahwa saya bisa stay di hotel dia malam ini...

Ada yang tidak beres... Saya harus segera pulang... Akhirnya saya bersikeras ingin pulang dan dia pun menyerah... Akhirnya kami pulang... Saya sengaja mengambil tempat duduk yang terpisah jauh dari dia ketika di kereta... Dan pas dia turun duluan, saya hanya melambaikan tangan dan tersenyum bilang terima kasih...

Bukannya saya tidak tahu berterima kasih... Tapi dari ucapannya, tersimpan maksud yang kurang baik terhadap saya dan adalah bodoh sekali jika saya berlama-lama dengan dia dan tidak segera meninggalkannya.

Kejadian malam itu memberi pelajaran kepada saya, bahwa tidak semua orang yang berlaku baik kepada kita karena memang dia baik dan benar-benar melakukannya tanpa niat (buruk) lain apapun. 
Sisi baiknya, overall, sebelum dia melontarkan kata-kata seperti itu dan saya jadi membaca niat buruknya, dimata saya dia baik. Untung ketahuan niat buruk-nya di akhir-akhir.
Saya tidak tahu, entah saya-nya yang bego dengan menganggap semua orang yang berbuat baik itu adalah bener-bener baik, saya-nya yang bego dengan selalu berusaha tidak berburuk sangka terhadap orang lain, atau memang saya-nya yang kurang hati-hati. Apapun, ini seperti mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati...

Dan malam itu, saya mendengar kabar kota Tokyo masih di landa gempa susulan...

0 comments: