Monday, 21 March 2011

Kecanduan Kerokan

Hari Minggu, niat hati ingin bergegas pergi ke lab ~kerjaan menumpuk telah menanti~. Tapi, dasar pikiran dan badan suka gak sinkron (pikiran terlalu bersemangat, tapi badannya gak bisa diajak kompromi) : kepala pusing banget, lemes, seperti gak punya energi buat bangun. Alhasil, gak jadi ke lab sampai malam menjelang. Bangun tidur cuma buat sholat dan makan doang... Males makan juga sebenarnya tapi kalau gak dipaksain, takut malah gak sembuh-sembuh... Kemaren anginnya kenceng banget, dan acara Homecoming Day-nya diadain di luar. Terus malemnya masih jalan ke depan, norebangan sama anak-anak. Jadinya, mungkin ini penyebabnya, saya jadi masuk angin...*nyalahin angin*

Karena hari Minggu adalah jadwal ngaji anak-anak cewek Gyeongsan, sekitar jam 7, Mbak Yuli dateng ke rumah. Tahu saya lagi kurang sehat, terus di kerokin sama dia. Abis itu dipijitin, mulai dari punggung, tangan, leher sampai kepala. Inget pas jaman masih ngumpul bareng di rumah itu, dulu Mbak Yuli kalau ke kamar saya suka mijitin. Begitu melihat saya pulang langsung ndelosor di kasur dengan wajah capek, Mbak Yuli nya ngomong gini "Capek ya Neng?", tanpa babibu langsung mijitin kaki saya... Woowww... miss that moment...

Tak berapa lama kemudian, Mbak Laeli, songsengnim ngaji kami datang. Melihat saya masih terbungkus selimut di kasur, langsung memijit saya juga. Tapi kali ini pijitannya beda, yaitu pijit refleksi, berhubung si Mbak Laeli-nya emang bisa mijit refleksi. Seluruh jari kaki dipijat sampai saya mringis-mringis, sakit banget ternyata ya. This is my first time. Iya, katanya kalau badannya sedang sehat, gak bakalan sakit. Kalau dipijit sakit, tandanya emang badannya lagi gak sehat. Gak dech ya, yang bikin saya heran, padahal cuma dipencet-pencet biasa gitu tapi ternyata sakitnya bisa luar biasa... Saya sampai sempet teriak...

Giliran si Eka nglanjutin mijit kaki saya, Mbak Laeli nya ngicip masakakannya Eka dulu... Jago juga nih anak ternyata. Abis itu, kita ngaji dulu...

Selesai ngaji, acara kerok-mengeroknya masih berlanjut. Kali ini Mbak Fie yang turun tangan. Seantero Gyeongsan, mungkin Mbak Fie yang kerokannya paling manteb, soalnya dia orang Jawa aseli Jogja, biasa dengan kerok-mengerok. Jangan tanya rasanya seperti apa, dijamin mringis, tapi justru itu enaknya kerokan menurut saya. Alhasil, seluruh badan saya merah semua, dan tanggung-tanggung, Mbak Fie ngerokinnya sampai ujung lengan... Woohhh... Padahal tepat seminggu yang lalu sehari sebelum berangkat ke Jepang, saya juga minta dikerokin. Dan setelah saya hitung-hitung, akhir-akhir ini mungkin tiap seminggu sekali saya kerokan... Semalem pun Mbak Fie sampai bilang, "Wah, Dham, kamu kalau nyari suami harus yang bisa ngerokin nih kayaknya!". Saya cuma tertawa...

Dan malam itupun, semua jadi sibuk karena saya... Serasa pulang ke rumah... Dulu pas masih di rumah, atau kalau sedang pulang ke rumah, kalau saya sedang sakit, gak enak badan atau masuk angin, langsung dikerokin sama ibu atau nenek saya. Abis itu dipijitin dan seluruh badan diusap pake minyak kayu putih, terus diselimutin rapat. Plus dibikinin teh anget sama minta disuapin makan kalau manjanya lagi kumat. Ajaib. Gak perlu ke dokter atau minum obat pasti sembuh *saya emang gak suka pergi ke dokter*

Saya jadi penasaran, kok bisa ya kerokan nyembuhin penyakit masuk angin atau gak enak badan?  Biar gak penasaran lagi, akhirnya dibela-belain googling di tengah-tengah sedang mem-format paper. Dan dari hasil googling :

"Tidak ada istilah masuk angin dalam ilmu kedokteran," kata dr Kartono Mohamad, mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Pengendara motor yang tidak menggunakan jaket, penjaga siskamling atau orang yang kehujanan sering merasa dirinya masuk angin dengan gejala perut kembung, badan pegal. Sebenarnya adakah penyakit masuk angin itu?
Dunia kedokteran tak pernah mengenal istilah "masuk angin". Gejala-gejala yang ditimbulkan seperti perut kembung, nyeri otot, pusing, sakit tenggorokan, bersin-bersin, sampai batuk dan pilek merupakan gejala-gejala dari penyakit lain. Penyakit yang diderita bisa bermacam-macam tergantung gejalanya.

Perut kembung secara kedokteran didiagnosa sebagai gejala maag atau adanya ganggguan lambung dan gangguan pencernaan lainnya.

Sedangkan pusing, sakit tenggorokan, bersin, batuk dan pilek bisa merupakan gejala flu. Badan pegal atau nyeri otot bisa disebabkan karena orang tersebut terlalu capek dan kurang istirahat.
 
Woohhh... Bahkan istilah masuk angin aja ternyata gak ada dalam ilmu kedokteran... Jadi saya sakit apa dong? Ummm... dugaan kuat mungkin penyakit maag yang saya derita sejak masih kecil kambuh soalnya perut terasa kembung. Atau mungkin gangguan lambung atau pencernaan lainnya. Entahlah... Bisa jadi terkena flu, terlalu capek atau kurang istirahat...

Lanjut... Yang ini berhubungan dengan kerokan :

Kebanyakan orang mendiagnosa sendiri bahwa dirinya masuk angin. Ketika masuk angin mereka memilih pengobatan dengan cara 'kerokan'. Selain lebih mudah, kerokan dianggap lebih manjur daripada harus mengonsumsi obat-obatan.

dr Kartono menjelaskan bahwa sebenarnya kerokan hanyalah mengalihkan rasa sakit yang diderita pasien, tetapi tidak bisa mengobati penyakit itu. Kerokan dapat menyebabkan aliran darah ke kulit lebih lancar, sehingga badan akan merasa lebih segar.

"Kerokan prinsipnya sama dengan bekam," kata dr Yuni. Kerokan dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang sudah tidak berfungsi dengan baik atau yang banyak mengandung CO2 akibat polusi. Sehingga dengan teknik kerokan, dapat mengeluarkan uap-uap polusi dalam darah dan orang akan merasa lebih enakan.
Sekarang saya mengerti, kerokan sebenarnya cuma mengalihkan rasa sakit. Ya iya, soalnya kerokan sendiri sakitnya minta ampun sebenarnya... Tapi memang habis kerokan, badan rasanya lebih seger... Terbukti, sehabis kerokan semalem, saya jadi punya daya untuk beranjak dari tempat tidur, bahkan sempat  pergi belanja dan memasak segala...

Kerokan efek terapinya lebih pada kebiasaan (habituasi) dan besifat sugesty belaka. Habituasi disini analog dengan perokok, orang yang biasa merokok yang mengaku tidak bisa berfikir tanpa merokok. Sedangkan sugesty seringkali memang cukup manjur sekalipun tidak rasional secara mekanisme therapy, karena dengan sugesty seseorang akan termotivasi untuk sembuh dari keluhan sakitnya.Sudah pasti kerokan akan merusak permukaan kulit tubuh kita, namun tidak terlalu parah karena trauma gesekan yang dilakukan secara perlahan dan teratur. Kemerahan pada kulit terjadi karena pelebaran kapiler darah kulit atau bahkan perdarahan di bawah kulit (yang berubah menjadi kehitaman esoknya). Dan Alhamdulillah kita dikaruniai kulit yang memang mudah beradaptasi terhadap trauma dan kemampuan regenerasi yang demikian canggih dan cepat.

Berarti selama ini saya sembuh karena sugesti belaka... Gak papalah yang penting sembuh... Tapi ternyata, kerokan memilik efek samping yang (katanya) membahayakan...

Kerokan biasanya dapat menimbulkan ketagihan atau kecanduan. Orang yang sudah terbiasa dikerok merasa belum baikan jika belum menjalani ritual itu. Tapi menurut dr Yuni, terlalu sering melakukan kerokan dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang masih berfungsi dengan baik, dan hal ini bisa membahayakan kesehatan.

Sepertinya saya sudah berada pada level "kecanduan" akan kerokan. Dan nampaknya perlu untuk mengurangi kebiasaan ini... 

*Dan sampai sekarang, kepala ternyata masih nyut-nyut-an, tenaga belum pulih full...

Sumbernya dari sini dan juga dari sini

0 comments: