Thursday, 15 December 2011

Jangan Panik Duluan, Ah!

Selain ceroboh, ternyata saya menemukan diri saya sendiri tergolong ke dalam tipe orang yang mudah panik.... Padahal, rasa panik (yang berlebihan) tersebut sebenarnya tidak perlu, toh pada akhirnya masalahnya tidak seburuk yang dibayangkan. Dan lebih dari itu, semuanya ya baik-baik saja ternyata....
*Lha wong namanya juga orang panik... Kalau tahu bakalan baik-baik saja dan gak akan kenapa-kenapa ya bakalan tetep duduk anteng enggak pake usreg segala, thoh...straight face

Adalah seperti kemaren malem... Saya ceroboh meletakkan external hard disk dalam kondisi 'nyolok' ke komputer di pinggiran meja, sedemikian sehingga entah kesenggol atau bagaimana tiba-tiba hard disk tersebut jatuh ke lantai. "Prakkkk", bunyinya lumayan keras. Saya memungut hard disk yang jatuh tersebut dengan sedikit was-was tapi masih berpikiran positif "Ah, palingan juga gak kenapa-napa". Kemudian saya coba colokin kembali ke komputer, dan ternyata gak ke-detect. Masih berpikiran positif dan saya coba colokin lagi sambil berharap kali ini bakalan menunjukkan tanda-tanda kehidupan; ke-detect. Owalah, ternyata setelah dicoba beberapa kali enggak kebaca juga. Lebih dari itu, muncul perintah di screen untuk mem-format isi si hard disk... Kondisi waktu itu saya sedang berada di lab sendirian...

 Si biang kepanikan malam itu


Mulailah kepanikan melanda... Dan lemes seketika... Saya enggak bisa ngebayangin kalau file-file semenjak saya kuliah S1 sampai lulus S2, file-file yang telah saya kumpulin di hard disk tersebut seketika lenyap tak bersisa...Betapa sedihnya... sad

Akhirnya saya nelpon temen yang jago IT menanyakan masalah tersebut... Masih ada harapan atau enggak buat di-recovery segala macem. Dan si teman tersebut mengintruksikan beberapa hal yang perlu dilakukan. Selang beberapa menit kemudian, saya iseng-iseng cobain lagi, eh alah kok langsung ke-detect... Ya Alhamdulillah banget... Untung waktu itu belum saya klik menu 'formatting'...

Saya jadi inget beberapa waktu yang lalu, mesin XRD trouble dikit udah panik minta ampun, mesin sputtering vacuum systemnya bermasalah; jadi usreg, komputer lab gak bisa nyala; juga panik (iya thoh, lha wong deadline submit ini itu sebentar lagi kok malah gak bisa dipake komputer-nya) dan entah berapa banyak kepanikan-kepanikan yang sebenarnya gak perlu lainnya yang telah berlalu... Lebih-lebih kalau lagi sendirian, lebih enggak banget lagi paniknya... I don't want to see

Terdorong rasa kesel dengan si panik (eh, tiba-tiba teringat kalau saya punya temen yang panggilannya "Panik" juga, sekilas info *abaikan*), akhirnya saya googling-googling bagaimana cara mengatasi rasa panik tersebut dan keluarnya kira-kira adalah begini :

Dr. Danardi Sosrosumihargjo., Sp. KJ, psikiater dari Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, “Panic disorder terjadi akibat gangguan pada suatu tempat di otak yang bernama nucleus cereleus.” Namun memang belum ada penelitian yang dapat membuktikan pencetus rasa panic itu sendiri. Tapi konon, faktor lingkungan di luar diri Anda berpengaruh besar sebagai pencetus rasa panic ini. Jika Anda punya kecenderungan mudah panik, bawalah selalu kantong plastik. Jurus ini diajarkan oleh Dr. Jan Sudir Purba. Bagaimana menggunakannya? Berikut ini tips-nya:
1.Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, tahan sejenak, lalu keluarkan melalui mulut di kantong plastic tersebut.
2. Setelah itu, bernafaslah dalam kantong tersebut. Usahakan tidak ada udara masuk atau keluar dari kantong plastic –hanya udara dari hasil pernapasan Anda.
3. Lakukan selama 2-3 menit, atau sampai rasa panik mereda.
4. Menurut Dr. Yan, dengan cara mengeluarkan dan menghirup kembali CO2 (karbondioksida) akan menstabilkan kadar CO2 dan O2 (Oksigen) dalam tubuh Anda. Alasannya, hiperventilasi yang salah membuat tubuh Anda lebih didominasi oleh O2.
Sumbernya dari sini

Jadi intinya, bagi yang mudah terserang rasa panik : Bawalah selalu kantong plastik, ya?!
Kalaupun enggak kepake, setidaknya bisa multi fungsi; salah satunya adalah bisa jadi kantong muntahan... big grin

Setelah saya pikir-pikir, sebenarnya "panik duluan" itu ternyata adalah enggak perlu, karena pikiran kita jadi diliputi oleh hal-hal yang negatif dan kadangkala menghalangi untuk berpikiran jernih...

Oiya, sekedar info, bagi siapapun yang tiba-tiba menerima incoming call dari saya, dan mendengar suara saya sedang berlebay-lebay karena sedang panik (suatu ketika bahkan saya pernah menangis tersedu-sedu ketika nelponin orang), mohon untuk dimaklumi...
Entah kecenderungan atau apa, jika terserang rasa panik atau terbawa perasaan yang berlebihan, saya kok seringkali mencari/menelpon seseorang, yang bahkan hanya untuk sekedar mendengarkan suara 'manusia' saja...
Paling enggak memberikan rasa lega, "Oh, saya enggak sendirian..."
Dan siapapun itu bisa jadi targetnya...big grin

0 comments: