Friday, 9 December 2011

Resensi Buku : Madre

Ini buku sebenarnya udah selesai dibaca dari kapan tahun, tapi kelupaan mulu mau nulis review nya... T.T
Nitip si Edit pas pulang ke Indonesia liburan musim panas kemaren...
Senengnya kalo ada temen yang pulang, bisa nitip buku....

Madre... 
Mungkin bagi sebagian orang, judul ini terasa asing dan kurang familiar di telinga, dan kadang mengundang rasa penasaran. Begitu pula dengan saya sendiri, penasaran dengan "Madre" ditambah dengan kecintaan saya terhadap karya-karya sang penulis wanita hebat, siapa lagi kalau bukan Dewi Dee Lestari, yang lewat  karya-karya tulisannya mampu membuat banyak orang tersihir (lagi-lagi termasuk saya, telah berhasil dibuat terkagum-kagum oleh Supernova).

Sesuai dengan judulnya, Madre : Kumpulan Cerita, buku ini berisi 13 kumpulan cerita dan narasi pendek serta puisi hasil karya Dee. Cerita utama sebagai punggawa adalah subjudul 'Madre' itu sendiri dengan porsi yang jauh lebih banyak dibanding yang lainnya. Sebuah cerita yang tersusun apik, sarat akan "sesuatu" yang tak terduga sedemikian sehingga membuat pembaca nya seakan tidak mau untuk sekedar melepaskan Madre dari tangan, dan ingin terus untuk mengikuti alurnya. Setidaknya itu yang terjadi dengan diri saya sendiri, setibanya Madre di meja saya, kemudian saya buka bungkus plastiknya dan mulai membaca lembar demi lembar. Ini kisah yang menarik, begitu batin saya. Dee gilang gemilang memposisikan dirinya sebagai, seorang pria.

Adalah Tansen Wuisan, seorang yang mengira dirinya keturunan Sunda Manado, datang ke sebuah pemakaman. Jauh-jauh dia datang dari Pulau Bali ke Jakarta, ke sebuah pemakaman seseorang yang bahkan ia tidak mengenalnya. Keganjilan yang begitu mencolok, disebuah TPU Tionghoa, berdirilah seorang berkulit gelap dan berambul gimbal, seorang diri, yang tak lain dan tak bukan adalah dia sendiri. Sampai akhirnya seseorang yang menghampirinya, dan lewat seseorang yang ternyata pengacara ini, si Tansen mendapatkan warisan dari si yang meninggal, sebuah kunci dan secarik kertas berisi sebuah alamat. Seketika ia ingin segera menyelesaikan urusannya dan meninggalkan kota Jakarta. Pengacara tersebut kemudian mengantarkannya ke alamat yang tertera dalam wasiat dan di tempat tersebut bertemulah Tansen dengan Pak Hadi, seorang Tinghoa yang telah berusia cukup lanjut. Dari Pak Hadi inilah kemudian Tansen mengetahui sejarah hidupnya yang sebenarnya. Dalam sehari, sejarah hidupnya tiba-tiba berubah, ternyata dia berdarah seperempat Tionghoa dari kakeknya, neneknya yang berasal dari India ternyata adalah tukang roti. Dan yang paling ganjil, mereka berdua mewariskan anggota keluarga yang tidak pernah dia kenal sebelumnya, yaitu : Madre, adonan biang roti yang telah berumur puluhan tahun.


Penasaran khan dengan kisah berikutnya? Bagaimana kemudian Tansen bisa menghidupkan kembali sebuah pabrik roti tua yang mati suri, pertemuan Tansen dengan seorang "peri" bernama Mei yang kemudian terjalin cinta di antara keduanya, dan kisah-kisah pendek lainnya yang tak kalah menarik serta puisi-puisi apik karya Dee, kumpulan cerita Madre ini sangat recommended untuk dibaca...

Oiya, dari Madre ini juga, saya tahu bahwa ternyata aktivitas blogging bisa berujung kisah manis... Karena dari blog Tansen yang berisi catatan petualangan hidupnya, si Mei, peri yang luar biasa hebat, mengenal pria pemilik Madre tersebut...
Ih, jadi tambah semangat blogging deh... Instead of peri, siapa tahu ada seorang pangeran yang mampir kesini...happy

2 comments:

ArIf said...

Permisi numpang mampir.

ttd
Pangeran.

:)))))

Idham 다미시 said...

Huahaha... Pangeran Kodok yak Rip... :p