Tuesday, 16 June 2015

Resensi Buku : Garis Batas, Karya Agustinus Wibowo


Garis Batas, karya Agustinus Wibowo, buku ini mengisahkan perjalanan sang penulis di negeri-negeri Asia Tengah; negeri-negeri berakhiran -Stan pecahan Uni Soviet. Dimulai dari Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan, ditempuh melalui jalur darat. Melalui buku ini, penulis seperti mengajak pembaca berpetualang menjelajah negeri-negeri yang baru terbentuk kurang lebih 20 tahunan yang lalu. Mengamati refleksi berbagai hal, mulai dari bentang alam, bagaimana negara2 tsb bekerja, bagaimana roda2nya berputar, bagaimana pemikiran manusia2nya, bagaimana agama & kepercayaan dijalankan dst dst. Lebih menarik lagi, melihat bagaimana wajah Islam di negeri2 tsb, bagaimana dijalankan dan berasimilasi dengan kultur setempat. Setelah dilarang dan dibungkam selama berpuluh-puluh tahun oleh komunisme, Islam di Asia Tengah pun menunjukkan geliatnya setelah negara-negara ini menyatakan kemerdekaan. Pun, negeri Stan-Stan tersebut sebenarnya masih dalam proses pencarian jati diri masing-masing, yg masih tertatih dan mencoba untuk tetap mempertahankan eksistensi nya.

Garis batas, seperti yang dikisahkan dalam buku ini, telah memisahkan manusia satu dan yang lainnya, bangsa yg satu dan yg lainnya. Melalui garis batas, manusia telah dikotak-kotakkan; berdasarkan suku, bahasa, agama, daerah dst dst. Karena garis batas, manusia merasa superior di antara yang lainnya, bahkan sampai sampai saling merendahkan.

Tajikistan - Negeri orang Tajik, selain memiliki bentang alam yg cantik jg terkenal dg paras para wanita nya yg juga elok. Namun, orang asing yg masuk ke negeri ini akan dipusingkan dgn visa & diplomat yg korup serta birokrasi yg njlimet. Termasuk jg sang penulis. Ternyata kehidupan di negeri ini tidak lah mudah. Banyak penduduk kehilangan pekerjaan dan kemiskinan pun dimana-mana. Pun begitu, orang2 di negeri ini sangat menghormati tamu yg datang.

Kirgizstan - Negara orang Kirgiz, masih saudara dgn Tajikistan, dulunya adalah bangsa nomaden yg kmudian di-'rumah'-kan ketika pendudukan komunis. Di sini, bisa dikatakan 11-12 dengan Tajikistan. Namun pengaruh Uni Soviet masih mengakar dan terasa kuat. Di negeri yg tergolong miskin ini ternyata pendidikan sangat diutamakan. Namun ironisnya, lapangan pekerjaan bisa dikatakan tidak tersedia.

Kazakhstan - Negeri orang Kazakh, tiba-tiba menjadi negeri yg kaya mendadak diantara negeri2 Stan lainnya karena memiliki sumber minyak melimpah ruah. Namun biaya hidup sangatlah mahal di negeri ini seakan gaji tinggi pun tidak ada artinya.

Uzbekistan - Negeri orang Uzbek, disebutkan sebagai 'Bukan Negara Normal'. Nilai mata uang Sum sangat merosot. Hingga dikisahkan untuk membeli tiket pesawat pulang ke Indonesia, sang penulis harus membawa 2 kantung plastik penuh uang.

Turkmenistan - Negeri dimana patung Turkmenbashi tersebar diseluruh negeri dan Ruhnama menjadi 'kitab suci'. Kala itu, rakyat terkungkung dan terisolasi karena negara menarik diri dari luar.

Kisah perjalanan ini sebenarnya pernah saya ikuti dulu ketika masih di bangku kuliah. Dalam salah satu kolom di Kompas, seperti tersihir untuk terus membaca dan terus mengikuti kisah perjalanan Agustinus... Sangat menarik! Dan tidak hanya sekedar backpacker-ing... Lebih dari itu... Membuka pikiran & wawasan, belajar bersyukur dari hasil perjalanan tsb; mensyukuri hidup, pun di luar sana masih banyak negara2 yg tidak jauh lebih baik dari Indonesia, menyaksikan mahakarya dan ciptaan Allah SWT melalui bentang alam yg diciptakan; yang akan semakin menambah keimanan, merenungi arti perjalanan itu sendiri sebagai suatu proses, pencarian jati diri dst dst.

Setelah "Selimut Debu" & "Garis Batas", next adalah "Titik Nol", buku2 Avgustin sangat worthed untuk dikoleksi... Banyak hal yang ditemui dari membaca buku ini hingga terkadang membuat mata terpicing dan terbelalak seolah tidak percaya. Namun mungkin memang seperti itu lah adanya...


Spasibo...

Sunday, 17 May 2015

Jakarta oh Jekardah... #Catatan 'Ngantor' di Thamrin

Hampir seminggu terakhir ini saya "ngantor" di Jakarta, tepatnya di daerah Thamrin. Dulu sebelum pindah kantor ke Serpong, unit kerja dimana saya berada di dalamnya memang 'bermarkas' di sana, di jantung kota Jakarta sebelum akhirnya harus pindah ke wilayah pinggiran Tangerang Selatan. Serpong coret, lah ya dibilangnya....
Ketika saya masuk, kebetulan sudah pindah kemari. 

Hampir 2 bulan ini, sepertinya kerjaan saya lebih banyak mengurusi proposal, dari proposal satu ke proposal yang lainnya ceritanya. Sementara, jadi proposal engineer dulu. Ngurusin proposal terus, kapan di propose nya? #Eaaaa... Malah curcol!
Jadi, ngantor di Thamrin beberapa hari terakhir ini masih dalam rangka urusan propose mempropose. Eh, maksudnya proposal. Beneran proposal. Swueeerrrr!

Saya tak hendak membahas tentang proposal. Toh, Alhamdulillah sudah beres terkumpul semua. Walaupun, entah yang mana yang akan goal nantinya. Eh, entah ada yang lolos atau tidak. Yang penting, saya sudah menjalankan dan mengerjakan tugas sebaik-baiknya, semampu yang saya bisa. Yes?! Bukan begitu, seharusnya alibi seorang pegawai baru banget? :)




Yang ingin saya bicarakan adalah kemacetan Jakarta. Topik basi ya! Biarin... Basi, tapi seperti tidak ada habisnya. Salah satu hal yang paling tidak saya sukai dari Jakarta adalah, KEMACETAN! Dan ke-crowded-annya. Bagi saya yang seorang makhluk pecinta damai dan ketenangan ini (ditambah dengan seorang mepet-er) kemacetan dan ke-crowded-an Jakarta seperti horror tersendiri. Saya pernah merasakannya! Ya, walaupun cuma sempat 2 tahunan mencicipinya, cukup untuk memutuskan: sebaiknya tidak untuk terus berada di Kota Jekardah. Tapi boleh lah, untuk sesekali, dua kali, tiga kali atau berkali-kali main maupun berkunjung kesana. :D

Saya dulu sempat 'ngantor' di daerah Gatsu dan pernah juga di bilangan Sudirman. Kawasan perkantoran yang terbilang sibuk.
Seringnya, naik ojeg jadi pilihan kalau sudah kepepet. Baik kepepet waktu untuk absen kalau tidak mau menghadap atasan untuk mendapatkan tanda tangan maupun kepepet bis selalu penuh. Di kantor pertama saya, bagi yang telat melewati waktu toleransi, diharuskan mendapatkan surat ijin dan tanda tangan dari atasan. Dan sumpah, minta tanda tangan atasan karena telat itu bukan suatu hal yang menyenangkan. Sedangkan di kantor kedua saya yang di Sudirman, telat tidak terlalu menjadi permasalahan. Lha iya! Lha wong seringnya disuruh lembur tanpa ada insentif atau uang lembur. Tapi masih lumayan lah dapat makan malam, daripada lumanyun. Iya gak? 

Di kantor yang kedua ini, walaupun telat tidak terlalu menjadi soal, tetap saja ya gak enak aja rasanya gitu di mesin check clock isinya merah semua. Dan juga, kalau sudah kesiangan dikit, bisa dipastikan semakin muacet dan entah berapa lama sampai kantornya. Jadinya, tetap saja ojeg jadi langganan setia saya. Lumayan juga kalau dihitung-hitung, sekali jalan 25 ribu - 30 ribu. Kalau tiap hari sudah berapa. Belum lagi kalau PP ke kantor pakai ojeg. Habis deh gajinya untuk ngojyeg, haha...

Karena macet, jadi banyak waktu yang terbuang dan dihabiskan di jalan. Bagi saya, macet itu pemborosan! Pemborosan waktu, tenaga, energi dan bahan bakar. Bayangkan seandainya tidak ada macet, mungkin mereka-mereka yang terjebak kemacetan itu sudah sampai rumah dan sudah berada ditengah-tengah keluarga. Bisa mengerjakan hal-hal lainnya yang lebih bermanfaat. Memasak untuk keluarga, misalnya. Dan hal-hal lainnya, bahkan bisa istirahat dan bermimpi entah sampai mana, alih-alih stuck di jalan raya. Dan bayangkan juga berapa kilo liter bahan bakar yang terbakar percuma karena kemacetan...
Dua kata, sangat merugikan!

Saya pusing jika terlalu lama menghirup asap knalpot. Ini bukan gaya-gayaan, tapi memang suatu kenyataan. Saya merasa puyeng berada di jalan yang macet. Apalagi kalau misalnya habis hujan, dipastikan kemacetan luar biasa akan terjadi. Padahal, dulu saya kost di daerah Tebet  dan tidak terlalu jauh dari Sudirman. Tapi jangan tanya berapa jam saya sampai di kosan. Jika beruntung, setengah jam sudah bisa sampai. Jika tidak, bisa berjam-jam hanya untuk menempuh jarak yang tidak sampai belasan kilo. Alhasil, sesampai di kosan, saya seperti kehabisan energi. Badan terasa remuk redam dan kepala pusing kliyengan. Maklum, asalnya dari kampung sih ya. Rumah pinggir sawah pula. Mungkin tidak cocok dengan suasana metropolitan, barangkali. Memang, sayanya udik!

Bagi saya, saat-saat berangkat dan pulang kantor kala itu, saat-saat harus menembus kemacetan adalah hal yang paling tidak saya sukai.

Dan bisa dibilang beruntung, sekarang saya berkantor tidak lagi di Jakarta. Beruntung berangkat-pulang kantor terhindar dari kemacetan. Walaupun bisa jadi Serpong coret ini berpotensi macet, setidaknya sekarang masih aman. Walaupun keadaannya seperti 'ala kadar' tidak seperti di Jakarta, setidaknya saya masih bisa berangkat ke kantor pukul setengah 9 tanpa takut telat. Horeee...

Dan Jakarta, macetnya tetap sama. Justru semakin parah. 

Dari ngantor di Jakarta kemarin, baru tahu kalau ongkos Kopaja naik jadi 4 ribu. Terakhir kemarin masih 3 ribu. Eh, kemana aja?!

Pas pulang ke Serpong naik kereta sama saja ya, crowded-nya! Walaupun di gerbong kereta khusus wanita, justru berlaku hukum rimba: dorong-dorongan, yang kuat lah yang bisa masuk. Hahaha... 

Jakarta oh Jekardah....



Sunday, 26 April 2015

Tuhan itu Baik

Kapan hari, entah dimana pernah membaca kisah seorang suami yang setia merawat istri nya yang sakit selama bertahun-tahun. Dengan telaten dikisahkan beliau merawat, mengganti pakaian dan menyiapkan semua kebutuhan sang istri.

Dan kemarin, saya menyaksikan sendiri. Walaupun ceritanya belum 'sehebat' kisah yang pernah saya baca yaitu sudah bertahun-tahun, namun tetap saja, membuat saya terharu hingga meneteskan air mata. Adalah senior di kantor saya, satu bidang. Umur beliau sudah 65 tahun, mendekati pensiun. Karena kanker payudara, sang istri terbaring koma dan dirawat dirumah dengan seperangkat ICU. Sang istri baru berumur 56 tahun.

Tahun kemarin, sang istri masih segar dan kuat, beliau mengisahkan dan menunjukkan foto-foto ketika mereka mengunjungi anak dan cucu mereka di Belanda. Saya ikut membuka-buka album foto, dan benar sang istri masih sehat, segar dan cantik. Masih terpancar cahaya dari mata dan wajah beliau. Sangat jauh berbeda dengan sosok yang saya lihat terbaring lemah, muka pucat tirus mata terpejam dengan selang di hidung beliau. Walaupun saya belum pernah bertemu dengan beliau sebelumnya, namun ketika saya masuk ke ruangan dan melihat kondisi beliau, tanpa terasa air mata saya menetes. Saya pun menangis haru. Beliau masih bisa mendengar walaupun sudah tidak bisa lagi melihat karena kanker telah menyebar sampai ke mata.

Teringat, menjelang akhir tahun 2014 kemarin, saya dan senior saya tersebut pernah bersama-sama dalam suatu kesempatan perjalanan dinas. Dan ketika perjalanan pulang, beliau mencari pepes ikan pesanan sang istri sampai muter-muter kota Tasik. Sang istri masih sehat kala itu. Begitu cepat penyakit kanker telah membuat beliau jadi anval. Sebenarnya sudah semenjak lama beliau menjalani kemoterapi hingga harus memakai wig.

Disela-sela waktu kunjungan kami, senior saya mengisahkan saat-saat berat ketika harus merawat sang istri dan harus ke kantor juga. Sementara mereka hanya hidup berdua saja tanpa asisten dan putri mereka satu-satunya tinggal di Belanda. Setiap hari, beliau bangun pagi-pagi pukul setengah 4 lalu menyiapkan makanan dan berbagai jus untuk istri nya yang memang harus mengkonsumsi makanan dengan nilai gizi tertentu. Sementara senior saya tadi juga harus mengejar waktu agar tidak ketinggalan bis jemputan kantor. Bekasi-Serpong, bukan jarak yang dekat ditambah dengan kemacetan lalu lintas. Apalagi dengan usia beliau yang tidak lagi muda. Setelah sang istri sakit otomatis semua pekerjaan rumah beliau yang mengerjakan dari mulai memasak, menyapu, mengepel, mencuci dll dengan rumah yang tergolong sangat luas sekitar 500 meter persegi. Sebelum akhirnya terbaring koma, tiap 2 jam sekali sang istri harus ke kamar mandi dan beliau harus selalu siap siaga. Oleh karena begadang hampir tiap malam dengan banyak hal yang harus dikerjakan, beliau menuturkan betapa berat perjuangan kala itu. Pernah sampai ke titik dimana beliau mengeluh sama Tuhan (kebetulan beliau sekeluarga seorang Nasrani). Namun beliau mengisahkan justru sang istri marah, tidak seharusnya sebagai manusia mengeluh karena Tuhan itu baik. Dikisahkan juga sang istri tidak pernah sekalipun mengeluh atas penyakitnya. Dan betapa senior saya tadi salut atas keimanan sang istri.

Rumah mereka rapi, tertata dan terawat dengan baik. Walaupun tidak ada asisten karena mereka berdua bertekad semenjak masih muda dulu untuk tidak memiliki asisten rumah tangga. Semua dikerjakan oleh mereka sendiri.

Selepas dari kunjungan itu, banyak hal yang bisa saya dapatkan dan ambil hikmah nya. Selain rasa haru yang menyelimuti dada kala itu dan beberapa bulir-bulir air mata yang tak kuasa untuk ditahan, teriring rasa hormat dan salut dari saya. Terselip doa agar Ibu diberikan yang terbaik....

Terima kasih Ibu, telah memberikan pelajaran bahwa sesulit dan seberat apapun cobaan, jangan pernah meragukan dan menyalahkan Tuhan sedikitpun. 
Terima kasih Ibu, telah mengajarkan bahwa merasa sesakit apapun, untuk tidak (selalu) mengeluh...
Sementara, teringat beberapa saat yang lalu, malu jika hanya sakit nyeri karena arthritis, saya kemudian sampai menangis. 

Pun, sampai sekarang saya masih merinding dan terharu jika mengingat saat saya memasuki ruangan kamar ICU tersebut dan melihat wajah beliau... 
Karena menurut dokter, sepertinya sudah tidak ada jalan. Yang bisa diperbuat hanya menjaga beliau tetap nyaman dan tidak merasa kesakitan.

Wednesday, 15 April 2015

Catatan Galau

Dear Saphe, 

Ah lama sekali rasa nya tidak meng-update mu, ya! Life is very busy recently. Rasanya waktu 24 jam sehari serasa kurang dan tidak cukup untuk melakukan segala yang harus dikerjakan dan ingin dikerjakan. Apa kabar quiling project ku, ya?! Belum tersentuh sama sekali. Beli kertas quiling masih rapi dalam kotak penyimpanannya. Apa kabar cooking project ku ya?! Sepertinya semakin jarang menjamah dapur. Bento-ing ku apa kabar, sudah vakum beberapa saat lamanya.  Project buka toko bento tools juga. Sudah kulakan banyak bento tools, masih jadi tumpukkan saja. Bahkan niat untuk sering-sering menulisi halaman-mu pun ternyata jadi tidak konkrit deh, Saphe. Ingin melakukan ini, melakukan itu, ingin ini, ingin itu banyak sekali. Seandainya ada Doraemon dan kantong ajaib-nya...

Ngomong-ngomong, dalam bulan ini aku berulang tahun, lhoh, Saphe. Sudah lewat sih. Tidak terasa ya, umur semakin bertambah dan sudah tidak lagi muda. Ibu, memberikan ucapan selamat ulang tahun yang pertama kali. Dan seperti biasa, "cepetan nikah" masih menjadi jurus andalan. Aku jadi kelabakan. 

Ditambah, beliau mengabariku bahwa adik ku lamaran dan dalam beberapa bulan ke depan akan melangsungkan pernikahan. Adik lelaki ku, anak nomer 4. Sedangkan aku sendiri anak nomer 2. 

Antara mudah saja dan tidak mudah ya. Di umur ku yang sudah sekian, dimana teman-teman seusia nya sudah menikah dan punya anak, bahkan ada yang sudah 2 atau 3, sepupu-sepupu sudah pada menikah dan punya anak. Disitu kadang saya merasa sedih. Tapi sebenarnya juga tidak sedih-sedih amat sih. Yang Di Atas pasti punya rencana tersendiri dan aku sangat percaya akan hal itu. Mungkin juga Yang Di Atas masih memberiku waktu untuk lebih memperbaiki diri. Walaupun, sudah lewat 3 tahun dari waktu yang diimpikan. Dulu, aku bermimpi menikah di umur 25 tahun :)

Beberapa orang mengira aku terlalu banyak memilih. Mengira aku begini, aku begitu; terutama mengenai kriteria. Mungkin mereka belum begitu mengenalku... Simply, I'm so simple.

Teringat di salah satu halaman sebuah buku yang tidak sengaja aku temukan tempo hari, redaksi tepat nya aku tidak ingat tapi kurang lebih nya seperti ini : Mari serahkan urusan jodoh hanya kepada-Nya. Karena Dia lah yang menciptakan kita, maka sesungguhnya Dia lah juga yang paling mengetahui seseorang yang terbaik untuk disandingkan dengan kita...

Aku memilih percaya. Berdoa... Dan terus berdoa...

Thursday, 12 March 2015

Nyoba Bikin Oreo Digoreng

Hmm... Pengen bikin-bikin sesuatu gitu semacam kue-kue untuk mengisi waktu kala week end, tapi sayangnya oven belum ada. Udah ngiler-ngiler aja bawaannya pengen nyobain kalau liat resep-resep aneka kue kering, cake, biskuit dan sejenisnya. Sementara belum ada oven, nyari resep yang non-baked aja. Dan kebetulan nemu di Hipwee, salah satunya resep Oreo goreng. Ya udah deh dicobain aja. Kebetulan lagi ada promo Oreo di Ind*maret, beli 2 gratis 1, huehehe... Modis, alias modal diskon. Dan ini bikinnya mudah sekali...

Resep saya melihat dari sini, yang ternyata diolah dari sini. Kebetulan ada stok tepung pre-mixed pancake dari kapan tahun gak diolah-olah. Jadinya saya pakai saja tepung pancake pre-mixed, campur 1 butir telur dan air secukup nya. Gini kok masak, pake tepung pre-mixed tinggal campur-capur, huehehe...

Enak juga ternyata! Kapan-kapan bikin lagi ah.... :D






Friday, 6 March 2015

Bento dalam Sebulan (Februari) Kemarin


Wah, baru bisa update dirimu lagi, Saphe... Maafkeun.. maafkeun! Sebulan terakhir ini soalnya sering pulang malem terus. Ken dan Ra2, mereka pindah rumah yang agak lebih jauh. Jadinya perjalanan lebih lama dan sesampainya di rumah badan sudah capek. Walaupun ujung-ujungnya tetep baru bisa tidur di atas jam 11 juga sih. Sudah males mau nulis-nulis di blog, apalagi pake hp. Ditambah lagi, ada rikues untuk nge-les in sepupu mereka si Manda, 2 kali dalam seminggu. Ya sudah deh... Begitulah. Tapi Alhamdulillah semua harus disyukuri, masih ada yang memerlukan tenaga kita setidaknya kita masih menjadi orang yang berguna. Padahal sebenarnya banyak hal dan cerita yang ingin ditulis, tapi cuma sebatas sampai di kepala dan di awang-awang saja, tidak sampai kepadamu.

Hmm...

Ternyata dalam satu bulan kemarin, bulan Februari, saya lumayan banyak bikin bento box. Ada berbagai macam bentuk dan rupa mulai dari bunga-bunga, kelinci, pucca, hello kitty, rilakkuma, kelinci dan lope-lope. Hahaha... Padahal, Senin dan Kamis sudah dirancang tidak bikin. Bikin bento itu seperti nyandu, sekali bikin pengen bikin lagi dan lagi... Iya gak sih? Kalau saya begitu, atau memang cuma lagi "umat-umatan" saja. Jeleknya, mata jadi 'ijo' tiap ngelihat bento tools, bawaannya pengen cepet-cepet  'meminang', heuheuheu...

OK, begitu saja dulu. Dari sekian itu, mana yang paling disukai? Kalau saya, paling suka dengan yang tengah...

Nanti saya coba breakdown  satu-satu untuk di post di sini.... 
(*tsah, breakdown!)

Salam bento mania! Keep calm, make and eat bento :D

Friday, 6 February 2015

Lagi-Lagi, Flower Decoration Bento



Lagi seneng bikin bento dengan motif bunga-bunga. Tapi sayangnya punya cetakan motif bunga cuma 1 saja... 

Jadi isi bekal untuk ke kantor, kotak pertama adalah nasi putih dengan hiasan bunga-bunga di atas nya (wortel, jagung muda, okra, kacang polong) sama kyuri (timun Jepang). Sedangkan lauknya adalah kari ayam yang isinya tidak hanya ayam tapi bermacam-macam sayuran yang ada di kulkas dicemplungin; telur puyuh rebus, wortel, kentang, kacang polong, jagung muda dan buncis.

Sudah bikin bekel begini, setelah selesai rapat ternyata di kantor dapat makan siang dengan menu nasi gudeg. Mau makan yang mana ya enaknya? Atau mau makan yang mana dulu? @_@

Oiya, hari ini entah kenapa kedua ibu saya tiba-tiba telpon. Yang satu ngomong, "Kamu kapan mau nikah? Umur kamu sudah berapa sekarang?! Umur 30 harus sudah punya anak!", dan yang satunya lagi, "Cepatlah kamu segera menikah!!!!!! (pakai tanda seru banyak, serius)

Nikah niku syarate namung kalih, Buk.


................................................................. Kalih sinten? -_-

Minta doanya yang buanyaaakkk aja yaaa.....

*SemakinTertekan*



#Catatan04022015

Wednesday, 4 February 2015

Catatan 02022015

Bento untuk bekal makan siang di kantor hari ini, nasi putih dengan hiasan bunga-bunga di atasnya. Sayurnya oseng pare ditambah teri nasi. Sementara lauknya ada chicken nugget goreng, bakso dan rolade ayam saus teriyaki dan telur puyuh rebus.

Pare, dulunya saya tidak doyan sama sekali. Tapi sekarang jadi doyan banget dan jadi tahu cara memasaknya agar tidak terlalu pahit.

Semalem saya capek dan ngantuk sekali sehabis pulang ngajar les sekalian mampir Gramed dan belanja di S*perindo, sampai tidak sempat berbuka pakai nasi atau makanan berat lainnya. Saya ceritanya puasa; dan tidak sahur juga karena memang di luar puasa Ramadhan saya jarang hampir tidak pernah makan sahur. Hari minggu sebelumnya tidak makan nasi sama sekali, siang makan mie separuh dan sore nya pizza dua potong. Hari Sabtu nya juga sepertinya hanya makan siang saja. Saya khawatir maag saya kambuh seperti tahun kemarin yang lumayan parah serangannya. Saya sampai muntah-muntah terus dan itu sungguh menyiksa.

Ah, sepertinya penyakit "malas makan" belum ada tanda-tanda mereda...


#Catatan02022015


Monday, 2 February 2015

Nemu Bento Tools Murah Meriah


How happy I am today! Ke Carrefo*r dan menemukan bento tools dengan harga masing-masing hanya Rp 4.900 saja. Klo harga normal bisa sekitar 25-30 ribuan Rupiah per set bahkan lebih. Ini 30 ribu rupiah dapat 6 set booo'; 2 buah rice/sushi mold, 1 buah bread mold/cutter, 1 buah cookie cutter, 1 buah 'love' pattern mold dan 1 buah lunch box. Walaupun belum tahu juga dipakainya kapan. Walaupun cutter motif bunga-bunga dan lainnya yg dicari justru tidak ada... *Bahagia itu sederhana, versi Idham*




Tepatnya di Carrefo*r Pamulang. Kemarin mampir kesana sebentar setelah dari PH di bagian depannya. Awalnya emang gak niat nyari-nyari sih, cuma mau nge-cek aja ada gak Tokyo Corner di situ. Soalnya dulu pas pernah kesana enggak ada sama sekali. Pas ada dan ternyata barang-barangnya sedang diobral, seneng banget. Belum pernah nemu yang semurah itu di Indo selama ini. Masih lebih murah di Korea, yang kalau di Daiso 1000 won-an di Rupiahin jadi sekitar 10 ribuan.

Sering-sering aja diobral barang-barang ala Jepangnya. Biar cepet habis :D

#Catatan01022015

Sunday, 1 February 2015

Jumat Berkah Sehat Ceria Bahagia



Hari Jumat, adalah hari yang berkah, hari yang sehat dan bahagia. Selain hari libur untuk umat Muslim, pertama, karena hari Jumat adalah waktunya berolahraga. Kalau saya sih ikut senam aerobik nimbrung di kantor sebelah daripada main bulu tangkis. Yang kedua, biasanya jadwal kontrol gigi adalah hari Jumat. Jadi bersih dan seger banget mulut dan gigi rasanya. Walaupun rada ngilu-ngilu juga sih. Dan yang bikin bahagia karena besok nya adalah hari libur. Sehingga bisa seharian guling-guling di kasur. Ditambah malam hari nya ada acara Dunia Lain Live. Yang terakhir ini abaikan saja.

Jadi ya, mengawali hari Jumat ini, saya pagi-pagi sudah bikin bento untuk dibawa ke kantor. Itu bento nya seperti yang terlihat di atas. Temanya motif bunga-bunga dengan lauk chicken teriyaki bikinan sendiri. Ada sayur-sayuran yang dikukus dan ditambah buah-buahan biar lebih sehat. Moodbooster bagi saya, salah satunya adalah dengan bikin bento box. Lalu setibanya di kantor, ikut senam aerobik di kantor sebelah.

Sore harinya adalah jadwal ke dokter gigi. Pas kontrol terakhir dr. F*nny nanya ke saya;
"Mbak Idham, ini kalau makan pasti pakai sisi yang sebelah kiri ya?"
"Hehe, iya dok. Kenapa memang dok?"
"Pantesan lebih cepet pergerakannya. Besok-besok sisi sebelah kanan juga harus dipakai ngunyah ya!"

Dan dengan bangga nya sekarang saya laporan ke dokter F*nny;
"Sekarang kalau makan saya pakai sisi yang sebelah kanan terus dong dok!"
"Eh harus seimbang kanan dan kiri Mbak Idham! Gak boleh satu sisi saja. Dua-dua nya harus dipakai!"
"Oh begitu ya, dok!"
"Iya"

Aduh, salah maning deh.

"Dok, gigi taring kanan bawah kok belum gerak sama sekali ya?"
"Oh itu, memang belum ditarik kok Mbak!"

Oh begitu. Kirain. Pantesan gak ada pergerakan sama sekali.

Akhirnya sesi kontrol gigi diakhiri dengan pemasangan karet yang kembali seperti sedia kala, yaitu pakai warna silver lagi yang senada dengan warna brachet nya. Ketika ditanya;
"Lhoh kenapa Mbak? Ini warna tosca bagus kok"
"Hehe... saya gak pede dok" jawab saya.

Sebelum pulang, saya sempatkan untuk periksa kadar gula darah dan kolesterol. Awalnya lumayan ngeri karena saya pikir pakai jarum suntik dan diambil darahnya bertabung-tabung kayak periksa darah waktu itu. Ternyata cuma ditusuk pakai kayak jarum halus diujung jari dan diambil darahnya beberapa tetes. Alhamdulillah, baik kadar gula darah dan kolesterol saya masih normal. Berhubung saya penyuka yang manis-manis, baik makanan maupun minuman, takutnya kadar gula darah tinggi. Ternyata tidak...

Alhamdulillah...

Stay healthy and keep strong, ya my body! Anak kosan dirantau, gak ada yang jagain kalo sampai sakit... Dan gak ada tangan ibu yang bisa ngerokin kalo sampai masuk angin... :D

Okok?! 

Harus OK dong....

#Catatan30Januari2015

Monday, 26 January 2015

Reptil Pemakan Tumbuhan

Suatu ketika di sesi belajar les privat kami (Kami maksudnya saya dan Ken). Kebetulan kami sedang belajar mata pelajaran IPA mengenai jenis-jenis Reptil.

Saya : "Ayo Ken, coba sebutkan jenis Reptil pemakan tumbuh-tumbuhan!"
Ken : "Dinosauruuuuussss!"
Saya : Zzzzzzzzzzzzzz

Udah gitu aja. Ini kamu, siapa yang ngajarin ya, Ken?! *_*

Permintaan Bantuan Yang Aneh

A : idam... apa kabar?
B : Alhamdulillah kabarnya baik :) Apa kabar juga kah?
A : syukurlah kalau baik. oiya, idam, aku mau minta bantuan boleh? kalo berkenan aja sih...
B : bantuan apa ya?
A : mungkin ga dalam waktu dekat ya. ya insya Allah. gini....waktu dulu, aku nikah, aku udah undang dirimu. nanti kalo giliran dirimu yang nikah, tolong undang aku juga ya. jangan lupa...
B : hehe... Nikahnya saja masih belum tahu kapan T_T


B adalah saya...

Hmm... Ini termasuk permintaan bantuan yang 'aneh' menurut saya. Biasanya sih orang minta bantuan atau tolong ke saya, misalnya 'Idham cariin data ini', 'Idham, benerin ini!', 'Idham, translate in ini', 'Angkatin ini dong', 'Bikinin ini', 'Ajarin ini' sampai 'Pinjem duit', Pinjem contekan' dan sejenisnya begitu-begitu. Tapi ini lain...


Doakan saja saya segera menikah, ya! Sedemikian rupa sehingga saya dapat segera mengundang-undang...

*Soundtrack lagu Wali yang "itu", mode ON*


Saturday, 24 January 2015

Bento Sederhana

Ini bento yang saya buat beberapa waktu lalu. Iseng-iseng aja buat. Bento dengan menu dan hiasan sederhana. Maksudnya bukan kyaraben, jadi bikinnya lebih cepet, kurang dari 5 menitan jadi. Yang agak lama mungkin proses memasaknya. 
Bunga-bunga di bento yang pertama dicetak pakai cetakan hiasan kue. Menunya telor goreng dan capcay. Sedangkan bento kedua, motif bunga-bunga saya buat sendiri secara manual. Menunya tahu goreng dan sejenis masakan yang saya contek dari buku resep, lupa namanya apaan... *maafkeun*
Di Indonesia mencari bento tools tidak semudah dan sebanyak di Korea, apalagi di Jepang *Yaiyalah*. Salah satu kendala selain harganya yang relatif mahal. Sayang sekali, menyesal kenapa peralatan bento sewaktu di Korea tidak saya bawa pulang. Penyesalan memang datang belakangan ya. Kalau di depan, namanya mah pendaftaran *_*



Tante, Aku Kangen Sama Kamu Tante!

Kemarin sepulang kerja, sore saya sudah di rumah karena memang tidak mengajar les. Tiba-tiba ada panggilan masuk di hp dari nomer kakak saya. Setelah saya angkat, dari seberang sana terdengar suara;
"Assalamu 'alaikum Tante Idham"
Oh rupanya keponakan saya yang masih berumur 4-5 tahunan, si Arka, dengan suaranya yang khas. Kemarin kakak saya memang sms, si Arka minta ditelponkan dengan saya. (Percakapan dalam Bahasa Jawa, translate)
"Waalaikum salam wr.wb. Ini Arka ya! Ada apa Ka telpon Tante?"
"Tante, aku kangen sama kamu Tante! Kemarin Tante pulang nya cuma sebentar kok."
"Oh begitu. Hehe... Iya. Kemarin kamu juga cuma sebentar juga kok main di rumah tante nya."
"Tante pulang lagi kapan Tante?"
"Tante pulang InsyaAllah bulan 4 nanti"
"Tanteee.... Tante lagi apa?"
"Tante baru pulang kerja Ka."
"Capek ya Tante? Tante makan dulu Tante!"
Saya becandain, "Tante tidak ada nasi nih mau makan. Gimana dong?!"
"Ya masak Tante. Atau beli"
"Tante enggak punya uang. Kirimin makanan dong dari sana"
"Soalnya jauh kok Tante"
"Hehe..."
"Ya udah, Tante makan dulu ya Tante ya" ciri khas nya dia, kalau bicara di ulang-ulang kata 'Tante' dan penekanan 'Ya' nya keluar.
"Iya. Arka yang pinter dan jangan nakal ya"
"Sudah dulu ya Tante. Hati-hati Tante. Tante makan dulu ya Tante ya. Assalamu 'alaikum Tante.
"Waalaikum salam wr.wb"
Dan telpon pun ditutup.

Oh.... Terima kasih sudah kangen dan peduli dengan menyuruh saya makan, ya keponakan.
Salah satu yang bikin saya kangen untuk pulang dan sebagai penghibur kalau saya di rumah Lasem, si Arka. Anak ini bicara nya banyak sekali, mirip seperti burung Beo, tidak bisa berhenti. Bicaranya lucu dan menggemaskan. Walaupun kadangkala juga dia suka bandel. Orang-orang suka me-'nanggap' dia bicara. Kesukaannya adalah makanan ringan atau snack, kalau ada kejuaraan makan snack sekampung mungkin dia bisa keluar jadi pemenangnya. Tapi ini juga sering menimbulkan permasalahan, perebutan snack sering terjadi dan tidak lain adalah dengan Tante nya sendiri yang lain, yaitu adik bungsu saya. Si Arka, badannya kecil dan kurus. Giginya depannya hampir habis, kalau ditanya katanya dimakan ulat karena malas gosok gigi.
Kadang dia minta ditelponkan dengan saya, dan bisa dipastikan dia akan bilang kangen dan tanya kapan pulang kalau telpon saya.
Kangen beneran atau kangen Tante bawain sekantong snack, ya Ka? :D


#Catatan 23 Januari 2015

Friday, 23 January 2015

Purwokerto Trip (1) : Hari Pertama

#Catatan 18 Januari 2015#

Hari ini berangkat ke Purwokerto dalam rangka menghadiri kondangan nikahan temen sekantor, seangkatan masuk dan seruangan. Kami bersepuluh orang berangkat dari stasiun Pasar Senen. Saya berangkat dari kontrakan sekitar jam setengah 6 menuju stasiun Rawa Buntu. Jadwal kereta kami berangkat pukul 7.30. Itu saja saya masih kesiangan. Karena untuk menuju ke Stasiun Senen harus ke Tanah Abang dulu lalu transit ke kereta jurusan Jatinegara. Karena baru pertama kali naik kereta dari Tanah Abang ke Pasar Senen, saya jadi baru tahu kalau ternyata kereta tidak berhenti di stasiun Pasar Senen. Jadi harus turun dulu di Kemayoran lalu naik ojeg atau bajaj. Atau bisa juga naik kereta turun setelah stasiun Pasar Senen yaitu Sentiong, dari situ kembali lagi ikut kereta ke arah yang berlawanan dan turun di Pasar Senen. Kereta ke arah Jatinegara dari Tanah Abang tidak berhenti di Senen tapi arah sebaliknya kereta berhenti. Naik ojeg dari Stasiun Kemayoran ke Pasar Senen bayar 15 ribu. 

Akhirnya sekitar pukul 7.15 sampai juga di Stasiun Pasar Senen. Temen-temen yang lain sudah menunggu di depan pintu masuk. Merasa bersalah karena saya yang terakhir sampai dan sudah membuat mereka lama menunggu saya.

Tiba saatnya kereta berangkat tepat pukul 07.30. Karena rombongan, beberapa kursi ada yang kami puter sebagai "family seat". Di sepanjang perjalanan, ada dari kami yang tidur, ngobrol sambil sesekali menikmati pemandangan di luar yang tampak menghijau dimana-mana karena memang musim penghujan. Pukul 11 kereta sampai di Stasiun Cirebon.

Di akhir waktu perjalanan, kami berempat menghabiskan waktu dengan bermain onet di hp. Kami berpasangan dan ceritanya pura-pura battle. Karena mungkin terlihat asyik dan agak berisik, sampai-sampai beberapa kali kami didatangai oleh anak perempuan kecil yang ingin sekedar melihat apa yang sedang kami lakukan. Sayangnya dia tidak mau ketika saya ajak ikut bermain serta. Di akhir-akhir perjalanan juga, salah seorang penumpang dari gerbong kami kedapatan oleh polisi khusus kereta merokok di sambungan kereta. Si penumpang tersebut mendapat peringatan keras dan apabila sekali lagi ketahuan merokok akan langsung diturunkan di stasiun terdekat. Setelah ditanya dia ternyata akan turun si Jogjakarta. KTP nya pun langsung diamankan oleh petugas.



Pukul 13.00 tiba di Stasiun Purwokerto. Si penumpang tadi tiba-tiba didatangi oleh polisi khusus kereta dan disuruh turun di Stasiun Purwokerto. Pak polisi meminta maaf sebelumnya karena sudah berdasarkan peraturan memang seperti itu. Seharusnya dia diturunkan di stasiun terdekat dari tadi. Tapi berhubung kebijaksanaan dari mereka karena di stasiun terdekat tadi tidak ada kereta yang berhenti, maka tidak langsung diturunkan sampai tiba di Stasiun Purwokerto. Padahal penumpang yang merokok tadi bersama dengan seorang wanita, sepertinya kekasihnya melihat gelagat mereka berdua. Si mbak nya dipersilahkan lanjut sampai Jogja tapi tidak bersama si penumpang yang kedapatan merokok. Apabila tetap ingin bersama, dengan terpaksa Mbak nya juga harus ikut turun dan kemudian mereka berdua membeli tiket kembali. So, be careful ya guys. Jangan merokok sembarangan apalagi di kereta. Padahal sudah jelas di tiket tertera aturan larangan merokok di point nomer 13. Dan jelas-jelas juga di tempat dia merokok ditempel larangan jangan merokok.

Sesampainya di Purwokerto kami langsung mencari makan siang. Berdasarkan rekomendasi dari sopir mobil sewaan, kami menuju ke Soto Haji Loso Jalan Bank. Soto khas Purwokerto, dimakan dengan ketupat dengan porsi yang sedikit, taburan sejenis kerupuk panjang-panjang dan sambal kacang. Tempat makan soto ini sepertinya cukup terkenal, banyak foto artis yang singgah terpajang rapi di dinding rumah makan, seperti depot Soto G*brak. Menurut saya rasanya lumayan enak walaupun tidak seperti yang dibayangkan. Sayangnya juga kuahnya kurang panas dan ketupatnya terlalu sedikit :P Baru kali ini mungkin menikmati cita rasa soto seperti ini dan dengan sambal kacang.

Setelah makan siang, kita langsung menuju ke Batur Raden. Ternyata melewati kampus Unsoed. Kira-kira setengah jam perjalanan ke daerah wisata Batur Raden. Tiket masuk seharga Rp 14.000. Tapi sayangnya cuaca agak mendung. Sekitar sejam an kami foto-foto dan menikmati air terjun dengan aliran air  nya yang sangat jernih. Belum sempat meng-eksplor seluruh area, tiba-tiba turun hujan yang lama kelamaan semakin lebat. Kami pun segera kembali ke mobil jemputan kami. Waktu menunjukkan baru pukul 4 sore. Namun kami terpaksa harus kembali ke Purwokerto menuju hotel yang telah dipesan.



Dan kira-kira pukul setengah delapan malam kami menuju ke undangan makan malam dari sang mempelai. Sampai pukul 9 malam, kami pamit undur diri mengingat mempelai perlu untuk beristirahat untuk acara keesokan hari.

Ah, masih belum puas di Batur Raden nya...



Little Chick Bento On The Nest



Like you see, it's made of boiled egg. The mouth is from corn, the eyes from nori sheet while the chick from tomato sauce. The nest itself is spaghetti with (instant) sauce. It's cheese for daisy flowers around. Ups, it's hard to manually cut the nori sheet into smaller size than that so the eyes look too big @_@

Rilakkuma Bento



\

It is made up from fried rice both of head and ears. I used plastic bag to make it into that shape. The white part on the mouth is from cheese. I just put slices of carrot on the top of ears. As usual, the nose and eyes are made of nori or seaweed sheet. I cut it manually since I don't have nori puncher. Unfortunatelly, the vegetables were overcooked, but it's okay I eat it up by myself .

Saturday, 17 January 2015

Dan Kenapa Harus Saya?

Memang ya, tidak semua kebaikan yang kita lakukan terhadap orang lain itu akan mendapatkan balasan yang sama. Alih-alih dibalas dengan suatu kebaikan juga, tapi bisa jadi justru sebaliknya, suatu keburukan sebagai balasannya. Kebaikan kita malah seperti 'dimanfaatkan'. Tidak sedikit, tapi banyak dan saya sering mengalaminya. Sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali. Memang benar, seharusnya kita melakukan suatu hal atau kebaikan terhadap orang lain itu tanpa mengharapkan balasan apapun. Harus ikhlas tanpa pamrih. Lillahita'ala. Saya pun sependapat dengan hal itu. Sebisa mungkin, saya mencoba untuk menerapkannya. Saya tidak ingin imbalan apa-apa, terutama dari yang bersangkutan, selain ridho dari Allah semata. 

Tapi oh tapi, salahkah saya jika berharap seperti ini; saya sudah berbuat baik terhadap Anda, saya tidak mengharapkan Anda untuk membalasnya dengan hal yang sama, tapi tolong jangan berbuat suatu hal yang buruk dan jahat terhadap saya, bisa kah? Tolong jangan membalasnya dengan suatu keburukan apalagi kejahatan. Tolong jangan menyakiti saya karena saya tidak pernah menyakiti Anda.

Namun saya percaya, tidak ada hal apapun di dunia ini yang sia-sia. Semua pasti ada perhitungan dan balasannya masing-masing. Termasuk hal-hal baik yang telah kita lakukan. Saya tidak akan berhenti untuk tetap berbuat baik terhadap Anda, atau bahkan balik membalas Anda dengan keburukan dan kejahatan. Tidak! Saya doakan agar Anda segera disadarkan.

Tapi memang benar ya, terkadang kesabaran manusia ada batasnya. Terkadang saya menjadi tidak sabar untuk tidak bertanya, kok jadi begini? Kok tega ya? Salah saya apa? Dan sederet pertanyaan lainnya. Kalau kita sudah berbuat baik saja balasannya seperti ini, apalagi jika kita berbuat tidak baik? 

Dan kenapa harus saya?

Friday, 16 January 2015

Selayang Kabar dari Negeri Pakistan

Beberapa tahun yang lalu sewaktu masih di Korea, saya mengenal satu keluarga yang berasal dari Pakistan. Brother H*mmad Khan beserta istri, Sister Hina Khan dan kedua anak laki-lakinya yang lucu dan menggemaskan, Ahaz dan Hazig. Perkenalan yang tidak disengaja berujung pada jalinan silaturahmi hingga saat ini. Ceritanya dulu Brother Hammad mau ambil Postdoc di Universitas saya. Sebelumnya, beliau tamatan Ph.D dari salah satu universitas di Korea juga, yaitu di KIST. Entah bagaimana beliau menemukan facebook saya, akhirnya beliau nanya-nanya terlebih dahulu sebelum datang ke Gyeongsan via facebook message. Mulai dari apakah ada student Pakistan yang disana, bagaimana kehidupan muslim nya, makanan halal, tempat ibadah dst. Awalnya saya pikir hanya salah satu message spam dan tidak saya balas hingga akhirnya beliau mengirimkan message yang kedua kalinya, baru kemudian saya balas.

Singkat cerita, beliau sekeluarga datang ke Gyeongsan dan kami pun bisa bertemu tatap muka. Ternyata lab nya  berada satu lantai di atas lab saya. Kebetulan juga istrinya kenal dengan salah sayu housemate saya, mereka berkenalan di salah satu taman di Sampung-dong. Sejak saat itu, kami sering diundang makan malam di rumah mereka. Biasanya Sister H*na Khan menyajikan menu-menu masakan India/Pakistan lengkap dengan hidangan penutupnya yang sangat manis. Seperti di film-film India dan masakannya sangat enak menurut saya. Entah apa saja nama masakannya, saya lupa. Beberapa yang bisa saya ingat, ada kari dan roti canai.

Anak-anak mereka sangat lucu, putih dan berhidung mancung, keduanya cowok. Sepertinya darah Sister H*na Khan lebih dominan menurun ke anak-anak mereka. Ahaz anak pertama, sudah cukup besar waktu itu. Ahaz sangat suka berbicara dan bersosialisasi dengan tamu yang datang ke rumahnya. Dia pandai berbicara dalam bahasa Inggris. Sewaktu kesana, kami sering menggodanya atau "nanggap" kalau bahasa Jawanya. Dan yang masih bayi, namanya Hazig. Kala itu masih menyusu ibunya. 

Ketika saya kembali ke Indonesia, Brother H*mmad Khan masih disana menempuh postdoc nya. Bahkan beliau berusaha membantu saya mencarikan Ph.D di KIST begitu tahu saya ingin mengambil S3. Namun karena memang belum rejeki dan belum saatnya, jalan hidup mengharuskan saya untuk pulang terlebih dahulu ke Indonesia. Sebelum pulang ke Indonesia, saya pamitan datang ke rumah mereka dan membawakan "little gift" mengingat kebaikan mereka selama ini, walaupun tidak terbayar.



Setelah beberapa tahun, kemaren kami bisa saling berkomunikasi kembali. Tentunya lewat facebook juga, berawal dari komen beliau di salah satu postingan saya. Dan berlanjut lewat japri menanyakan kabar masing. Alhamdulillah mereka sekeluarga baik-baik saja. Brother H*mmad menjadi senior researcher di Pakistan. Hazig sekarang sudah kelas tiga dan Ahaz tentu sudah bisa berbicara, bahkan banyak bicara seperti burung Beo katanya. Ah, ternyata Hazig tidak jauh berbeda dengan kakaknya.

Dan ternyata Brother H*mmad masih ingat dan peduli dengan rencana Ph.D saya. Beliau bertanya, "How about your Ph.D and family progress? Please remember in your prayers!"

Untuk pertanyaan kedua, terpaksa saya jawab diplomatis walaupun dengan rada miris...

May Allah shower His blessing to all of you!

#Update

Beberapa hari yang lalu Sister H*na Khan meng-upload foto Ahaz dan Hazig di FB ketika saya bilang kangen mereka. Ternyata memang mereka sudah besar, tapi tetap lucu dan menggemaskan...




AUTO l.i.n.e.r order was coming


Dua hari yang lalu saya pesan eye liner dan eyebrow pencil Et*de H*use dari salah satu toko online di El*vania. Kebetulan sedang ada diskon, jadi ceritanya ini "modis" alias modal diskon : D. Beli eye liner baru gegara eye liner saya patah ketika dibawa pergi ke Salatiga kemarin. Padahal tidak diapa-apain, begitu saya keluarkan dari wadah tiba-tiba sudah patah. Pas dibawa sih masih baik-baik saja. Merk kosmetik dari Korea juga, yaitu F*ce Shop. Memang ya, kalau auto liner itu resiko nya lebih mudah patah. Jadi baik pakai maupun menyimpannya mesti ekstra hati-hati. Jatuh sedikit kemungkinan juga bisa patah. Pernah saya beli auto liner merk Or*flame, baru sampai di tangan saya sebentar, belum juga dipakai sudah patah duluan. Kalau ini memang kesalahan saya juga sih, soalnya saya puter-puter keluarin isinya terlalu panjang. Kalau di Korea dulu, saya suka pakai eye liner dari Sk*n Food. Design nya kokoh, tabung isinya kuat dan tidak rapuh. Ukurannya juga tidak terlalu kecil seperti Or*flame saya yang pernah patah. Awet dalam artian tidak patah, sampai isinya benar-benar habis. Sebenarnya mungkin lebih enak pakai yang bentuk eye liner pencil kali ya, lebih tidak mudah patah. Dulu juga pernah pakai, tapi masalahnya, lama-kelamaan saya jadi malas untuk merautnya. Apalagi kalau sedang buru-buru dan eye liner dalam kondisi tumpul, malasnya jadi berlipat-lipat deh.

Dan hari ini, pesenan saya sudah sampai dong. Cepat sekali. Eye liner hitam dan eye brow pencil warna greyish-brown. Beli pensil alis ceritanya coba-coba. Karena saya sebelumnya jarang, bisa dikatakan hampir tidak pernah pakai pensil alis. Ini dikarenakan alis saya sudah cukup tebal dari sana nya, walaupun memang kurang rapi. Pilih warna greyish brown karena untuk yang berkulit gelap seperti saya ini sebaiknya dihindari pakai pensil alis warna hitam. Karena akan menimbulkan kesan keras dan galak, apalagi mata saya ini tipe mata galak kalau kata orang. Setelah dicoba, eye liner nya cukup memuaskan menurut saya; tekstur nya creamy dan lembut serta mudah untuk diaplikasikan. Sekali gores, sudah muncul dan terlihat warnanya. Beberapa eye liner yang pernah saya coba bahkan harus sampai ditekan kuat-kuat dan harus berkali-kali agar warnanya muncul dan menempel di kulit. Dan ini, salah satunya bikin mata sakit selain tidak efektif dan efisien. Cieleh, bahasa saya.

Untuk pensil alis nya, cukup lumayan juga lah ya. Walaupun tidak seperti yang saya bayangkan. Atau barangkali saya saja yang belum terlalu bisa memakainya. Maklum, memang hampir tidak pernah pakai sih. Di ujung pensil ada brush, jadi lebih mudah dan enak untuk ngerapihinnya. Tidak tahu dan tidak yakin kapan mau digunakan, tapi yang penting sudah ada lah ya kalau mau pakai.

Hmm... Sepertinya bisa dipakai perdana untuk kondangan temen sekantor saya hari Senin mendatang... Awas ya, siap-siap ketemu dengan pendekar beralis tebal :D






Wednesday, 14 January 2015

R.I.P Limiki


Hari ini jadwal les untuk Ken. Datang kesana penuh perjuangan dengan menerjang hujan rintik-rintik yang semakin bertambah deras sesampainya di BSD. Alhasil baju basah kuyup semua dan akhirnya numpang jemur kardigan sama Mbak Umi di belakang. Seperti biasa, ketika saya datang, si Ken biasanya kalau tidak main i-Pad ya main sama kucing-kucing. Dan hari ini dia main sama si Loki "Loreng Kecil". Dugaan saya, i-Pad masih disita dan disembunyikan oleh ibunya seperti hari kemarin. Seperti biasa juga, dia tidak akan mempersiapkan apa-apa sebelum les. Sampai saya aduk-aduk dan bongkar isi tas nya; mengeluarkan buku-buku, jaring-jaring pembelajaran, alat tulis sampai meraut pensil nya juga. Ngajar Ken itu susah-susah gampang. Dia tidak menyukai pelajaran Matematika, dia bilang membenci mata pelajaran itu. Tapi mandat dari ibu nya, saya harus lebih fokus mengajarinya Matematika. Sebelum mulai belajar biasanya 'negosiasi' terlebih dahulu tentang mau belajar apa, belajar apa dulu dan berapa lama. Selama belajar pun harus diselingi istirahat, sedikit waktu untuk main-main, ngobrol, becanda, makan cemilan dan nonton video di i-Pad nya. Hari ini kami belajar Matematika tentang satuan kuantitas dan jarak, waktu &kecepatan serta IPA tentang organ tubuh. Hasil negosiasi yang lebih ke nuruti keinginannya, sejam untuk IPA selebihnya baru belajar Matematika.

Kabar terbaru lagi, saudara Loki yang stres karena induknya mati, tadi siang juga ikut mati. Namanya Limiki, "Little Miki". Limiki tidak kuat menahan kesedihan barangkali ya, kasihan sekali. Akhirnya Loki hanya tinggal berdua saja dengan saudaranya yang ada di rumah sakit, yaitu si Mio. Dengar dari Mbak Umi, ayah Ken sangat sedih sampai tidak nafsu makan karena kucing-kucing di rumahnya banyak yang mati. Total sudah 4 ekor. Ken dan ayah nya, mereka berdua adalah pecinta kucing. Namun, tidak demikian hal nya dengan ibu dan kakak perempuannya, Ra2. Pernah suatu ketika saya menemukan tugas sekolah yang dibuat oleh Ken tentang aturan di rumah, salah satunya dia menulis "Tidak boleh mendekatkan kucing pada ibuku". Dan saya hanya senyum-senyum saja ketika membacanya.

Sedangkan di kantor tadi siang ada kejadian yang cukup menggelikan. Hari ini ada jadwal kunjungan orang Jepang dari perusahaan pembuat alat testing instrumen, terutama kami ingin tahu yang untuk fuel cell. Sudah diberitahukan sebelumnya di media resmi kantor, namanya Mr. Sh*t* Isu. Beberapa orang ditugaskan untuk hadir, termasuk saya. Begini rombongan datang yang notabene ada 2 orang yang bercirikan sama mata sipit dengan garis wajah tipikal orang Jepang. Bedanya yang satu masih terlihat muda dan satunya sudah terlihat cukup berumur. Kami lalu berdiri menyambut; bersalaman dan memperkenalkan diri satu persatu.
Salah seorang memberikan kartu namanya.

"Oh, thank you Mr. Sh*t*. Nice to meet you" ucap saya menerima kartu nama seketika tanpa membaca terlebih dahulu nama yang tertera.

Tiba-tiba beliau menjawab, "Yang orang Jepang bukan saya. Itu yang ada di belakang. Kebetulan suara saya ini lagi habis".



Saya pun sontak kaget dan malu, lalu tertawa. Baru kemudian baca kartu namanya, tertulis nama Indonesia, H*rmanto T. Owalah.... Muka si Bapak nya mirip sekali dengan orang Jepang dan bermata sipit juga. Si Bapak ini adalah rekanan bisnis di Indonesia. Bukan saya saja yang salah mengira, ternyata teman-teman yang lain juga menyangka hal yang sama....

So, hati-hati lah ya kalau mau nyapa-nyapa orang... Kalau perlu lihat kartu namanya terlebih dahulu :D

Tuesday, 13 January 2015

Mulai Nge-Les-in Lagi


Hari ini mulai ngajar les privat lagi setelah beberapa minggu vakum karena liburan sekolah. Baik Ken maupun Ra2 sudah masuk kembali sejak hari Jumat kemarin. Mereka berdua adalah kakak beradik. Ken masih kelas 5 SD sedangkan Ra2 kelas 1 SMP. Walaupun berdua kakak beradik, menurut saya mereka sangat jauh berbeda, bagaikan bumi dan langit. Ra2 yang lebih pendiam dan rajin versus Ken2 yang tidak mau diam dan agak susah untuk belajar. Biasanya anak cewek yang lebih cerewet, tapi ini sebaliknya. Kalau untuk urusan belajar, Ra2 sangat mandiri. Sedangkan Ken, perlu effort yang lebih untuk mengajaknya belajar.  

Di rumah mereka ada banyak kucing. Salah satunya Loki, anak kucing yang kemarin baru dilahirkan telah menjadi piatu karena induknya meninggal lantaran sakit seminggu yang lalu. Ini kabar baru karena sebelum libur les, saya masih melihat induk Loki lengkap dengan keempat anaknya yang masih mungil-mungil. Si Loki terlihat duduk anteng dan manis di sofa samping kami belajar. Dia seperti kehilangan semangat dan lesu. Kadang saya elus-elus kepalanya, dan sepertinya dia menyukainya. Beberapa kali sering kedapatan dia diganggu oleh Hipu, si hitam putih yang bermata satu. Konon, Hipu ditemukan Ken dijalan lalu dibawa pulang. Karena terkena debu, masih menurut Ken, matanya sering digaruk-garuk dan akhirnya sakit parah. Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter hewan memutuskan bahwa matanya harus dioperasi dan jadilah Hipu sekarang yang bermata satu. Hipu sangat aktif sekali, lari dan loncat kesana kemari. Tak jarang juga dia mengganggu si kecil Loki, 'nguwel-nguwel' bahkan mencakar. Mungkin maksudnya mengajak bermain. Atau memang sengaja mengganggu mentang-mentang Hipu lebih besar dan Loki sudah tidak punya induk yang menjaganya lagi. Entahlah, saya tidak tahu. Tapi yang pasti, sepertinya Loki tidak menyukainya.  



Loki 4 bersaudara ketika dilahirkan. Dan sekarang tinggal 2 saja yang ada di rumah. Saudaranya yang satu telah mati karena sakit, sama seperti induknya. Ketika saya tanya Ken dimana yang satunya lagi, dia bilang lagi sembunyi dan tidak mau keluar karena stres ditinggal mati oleh induknya.
"Lalu saudara Loki yang satunya lagi kemana Ken?"
"Masih di rumah sakit" jawabnya.
"Rumah sakit? Bilang aja di dokter hewan gitu kali Ken", sahut Ra2 sambil ketawa. Ra2 sendiri kurang begitu suka dengan kucing, begitu didekati kucing-kucing tersebut dia akan sibuk untuk mengusir dan teriak-teriak memanggil Ken.

Get well soon, Loki's brother/sister!!