Wednesday, 14 January 2015

R.I.P Limiki


Hari ini jadwal les untuk Ken. Datang kesana penuh perjuangan dengan menerjang hujan rintik-rintik yang semakin bertambah deras sesampainya di BSD. Alhasil baju basah kuyup semua dan akhirnya numpang jemur kardigan sama Mbak Umi di belakang. Seperti biasa, ketika saya datang, si Ken biasanya kalau tidak main i-Pad ya main sama kucing-kucing. Dan hari ini dia main sama si Loki "Loreng Kecil". Dugaan saya, i-Pad masih disita dan disembunyikan oleh ibunya seperti hari kemarin. Seperti biasa juga, dia tidak akan mempersiapkan apa-apa sebelum les. Sampai saya aduk-aduk dan bongkar isi tas nya; mengeluarkan buku-buku, jaring-jaring pembelajaran, alat tulis sampai meraut pensil nya juga. Ngajar Ken itu susah-susah gampang. Dia tidak menyukai pelajaran Matematika, dia bilang membenci mata pelajaran itu. Tapi mandat dari ibu nya, saya harus lebih fokus mengajarinya Matematika. Sebelum mulai belajar biasanya 'negosiasi' terlebih dahulu tentang mau belajar apa, belajar apa dulu dan berapa lama. Selama belajar pun harus diselingi istirahat, sedikit waktu untuk main-main, ngobrol, becanda, makan cemilan dan nonton video di i-Pad nya. Hari ini kami belajar Matematika tentang satuan kuantitas dan jarak, waktu &kecepatan serta IPA tentang organ tubuh. Hasil negosiasi yang lebih ke nuruti keinginannya, sejam untuk IPA selebihnya baru belajar Matematika.

Kabar terbaru lagi, saudara Loki yang stres karena induknya mati, tadi siang juga ikut mati. Namanya Limiki, "Little Miki". Limiki tidak kuat menahan kesedihan barangkali ya, kasihan sekali. Akhirnya Loki hanya tinggal berdua saja dengan saudaranya yang ada di rumah sakit, yaitu si Mio. Dengar dari Mbak Umi, ayah Ken sangat sedih sampai tidak nafsu makan karena kucing-kucing di rumahnya banyak yang mati. Total sudah 4 ekor. Ken dan ayah nya, mereka berdua adalah pecinta kucing. Namun, tidak demikian hal nya dengan ibu dan kakak perempuannya, Ra2. Pernah suatu ketika saya menemukan tugas sekolah yang dibuat oleh Ken tentang aturan di rumah, salah satunya dia menulis "Tidak boleh mendekatkan kucing pada ibuku". Dan saya hanya senyum-senyum saja ketika membacanya.

Sedangkan di kantor tadi siang ada kejadian yang cukup menggelikan. Hari ini ada jadwal kunjungan orang Jepang dari perusahaan pembuat alat testing instrumen, terutama kami ingin tahu yang untuk fuel cell. Sudah diberitahukan sebelumnya di media resmi kantor, namanya Mr. Sh*t* Isu. Beberapa orang ditugaskan untuk hadir, termasuk saya. Begini rombongan datang yang notabene ada 2 orang yang bercirikan sama mata sipit dengan garis wajah tipikal orang Jepang. Bedanya yang satu masih terlihat muda dan satunya sudah terlihat cukup berumur. Kami lalu berdiri menyambut; bersalaman dan memperkenalkan diri satu persatu.
Salah seorang memberikan kartu namanya.

"Oh, thank you Mr. Sh*t*. Nice to meet you" ucap saya menerima kartu nama seketika tanpa membaca terlebih dahulu nama yang tertera.

Tiba-tiba beliau menjawab, "Yang orang Jepang bukan saya. Itu yang ada di belakang. Kebetulan suara saya ini lagi habis".



Saya pun sontak kaget dan malu, lalu tertawa. Baru kemudian baca kartu namanya, tertulis nama Indonesia, H*rmanto T. Owalah.... Muka si Bapak nya mirip sekali dengan orang Jepang dan bermata sipit juga. Si Bapak ini adalah rekanan bisnis di Indonesia. Bukan saya saja yang salah mengira, ternyata teman-teman yang lain juga menyangka hal yang sama....

So, hati-hati lah ya kalau mau nyapa-nyapa orang... Kalau perlu lihat kartu namanya terlebih dahulu :D

0 comments: