Sunday, 26 April 2015

Tuhan itu Baik

Kapan hari, entah dimana pernah membaca kisah seorang suami yang setia merawat istri nya yang sakit selama bertahun-tahun. Dengan telaten dikisahkan beliau merawat, mengganti pakaian dan menyiapkan semua kebutuhan sang istri.

Dan kemarin, saya menyaksikan sendiri. Walaupun ceritanya belum 'sehebat' kisah yang pernah saya baca yaitu sudah bertahun-tahun, namun tetap saja, membuat saya terharu hingga meneteskan air mata. Adalah senior di kantor saya, satu bidang. Umur beliau sudah 65 tahun, mendekati pensiun. Karena kanker payudara, sang istri terbaring koma dan dirawat dirumah dengan seperangkat ICU. Sang istri baru berumur 56 tahun.

Tahun kemarin, sang istri masih segar dan kuat, beliau mengisahkan dan menunjukkan foto-foto ketika mereka mengunjungi anak dan cucu mereka di Belanda. Saya ikut membuka-buka album foto, dan benar sang istri masih sehat, segar dan cantik. Masih terpancar cahaya dari mata dan wajah beliau. Sangat jauh berbeda dengan sosok yang saya lihat terbaring lemah, muka pucat tirus mata terpejam dengan selang di hidung beliau. Walaupun saya belum pernah bertemu dengan beliau sebelumnya, namun ketika saya masuk ke ruangan dan melihat kondisi beliau, tanpa terasa air mata saya menetes. Saya pun menangis haru. Beliau masih bisa mendengar walaupun sudah tidak bisa lagi melihat karena kanker telah menyebar sampai ke mata.

Teringat, menjelang akhir tahun 2014 kemarin, saya dan senior saya tersebut pernah bersama-sama dalam suatu kesempatan perjalanan dinas. Dan ketika perjalanan pulang, beliau mencari pepes ikan pesanan sang istri sampai muter-muter kota Tasik. Sang istri masih sehat kala itu. Begitu cepat penyakit kanker telah membuat beliau jadi anval. Sebenarnya sudah semenjak lama beliau menjalani kemoterapi hingga harus memakai wig.

Disela-sela waktu kunjungan kami, senior saya mengisahkan saat-saat berat ketika harus merawat sang istri dan harus ke kantor juga. Sementara mereka hanya hidup berdua saja tanpa asisten dan putri mereka satu-satunya tinggal di Belanda. Setiap hari, beliau bangun pagi-pagi pukul setengah 4 lalu menyiapkan makanan dan berbagai jus untuk istri nya yang memang harus mengkonsumsi makanan dengan nilai gizi tertentu. Sementara senior saya tadi juga harus mengejar waktu agar tidak ketinggalan bis jemputan kantor. Bekasi-Serpong, bukan jarak yang dekat ditambah dengan kemacetan lalu lintas. Apalagi dengan usia beliau yang tidak lagi muda. Setelah sang istri sakit otomatis semua pekerjaan rumah beliau yang mengerjakan dari mulai memasak, menyapu, mengepel, mencuci dll dengan rumah yang tergolong sangat luas sekitar 500 meter persegi. Sebelum akhirnya terbaring koma, tiap 2 jam sekali sang istri harus ke kamar mandi dan beliau harus selalu siap siaga. Oleh karena begadang hampir tiap malam dengan banyak hal yang harus dikerjakan, beliau menuturkan betapa berat perjuangan kala itu. Pernah sampai ke titik dimana beliau mengeluh sama Tuhan (kebetulan beliau sekeluarga seorang Nasrani). Namun beliau mengisahkan justru sang istri marah, tidak seharusnya sebagai manusia mengeluh karena Tuhan itu baik. Dikisahkan juga sang istri tidak pernah sekalipun mengeluh atas penyakitnya. Dan betapa senior saya tadi salut atas keimanan sang istri.

Rumah mereka rapi, tertata dan terawat dengan baik. Walaupun tidak ada asisten karena mereka berdua bertekad semenjak masih muda dulu untuk tidak memiliki asisten rumah tangga. Semua dikerjakan oleh mereka sendiri.

Selepas dari kunjungan itu, banyak hal yang bisa saya dapatkan dan ambil hikmah nya. Selain rasa haru yang menyelimuti dada kala itu dan beberapa bulir-bulir air mata yang tak kuasa untuk ditahan, teriring rasa hormat dan salut dari saya. Terselip doa agar Ibu diberikan yang terbaik....

Terima kasih Ibu, telah memberikan pelajaran bahwa sesulit dan seberat apapun cobaan, jangan pernah meragukan dan menyalahkan Tuhan sedikitpun. 
Terima kasih Ibu, telah mengajarkan bahwa merasa sesakit apapun, untuk tidak (selalu) mengeluh...
Sementara, teringat beberapa saat yang lalu, malu jika hanya sakit nyeri karena arthritis, saya kemudian sampai menangis. 

Pun, sampai sekarang saya masih merinding dan terharu jika mengingat saat saya memasuki ruangan kamar ICU tersebut dan melihat wajah beliau... 
Karena menurut dokter, sepertinya sudah tidak ada jalan. Yang bisa diperbuat hanya menjaga beliau tetap nyaman dan tidak merasa kesakitan.

Wednesday, 15 April 2015

Catatan Galau

Dear Saphe, 

Ah lama sekali rasa nya tidak meng-update mu, ya! Life is very busy recently. Rasanya waktu 24 jam sehari serasa kurang dan tidak cukup untuk melakukan segala yang harus dikerjakan dan ingin dikerjakan. Apa kabar quiling project ku, ya?! Belum tersentuh sama sekali. Beli kertas quiling masih rapi dalam kotak penyimpanannya. Apa kabar cooking project ku ya?! Sepertinya semakin jarang menjamah dapur. Bento-ing ku apa kabar, sudah vakum beberapa saat lamanya.  Project buka toko bento tools juga. Sudah kulakan banyak bento tools, masih jadi tumpukkan saja. Bahkan niat untuk sering-sering menulisi halaman-mu pun ternyata jadi tidak konkrit deh, Saphe. Ingin melakukan ini, melakukan itu, ingin ini, ingin itu banyak sekali. Seandainya ada Doraemon dan kantong ajaib-nya...

Ngomong-ngomong, dalam bulan ini aku berulang tahun, lhoh, Saphe. Sudah lewat sih. Tidak terasa ya, umur semakin bertambah dan sudah tidak lagi muda. Ibu, memberikan ucapan selamat ulang tahun yang pertama kali. Dan seperti biasa, "cepetan nikah" masih menjadi jurus andalan. Aku jadi kelabakan. 

Ditambah, beliau mengabariku bahwa adik ku lamaran dan dalam beberapa bulan ke depan akan melangsungkan pernikahan. Adik lelaki ku, anak nomer 4. Sedangkan aku sendiri anak nomer 2. 

Antara mudah saja dan tidak mudah ya. Di umur ku yang sudah sekian, dimana teman-teman seusia nya sudah menikah dan punya anak, bahkan ada yang sudah 2 atau 3, sepupu-sepupu sudah pada menikah dan punya anak. Disitu kadang saya merasa sedih. Tapi sebenarnya juga tidak sedih-sedih amat sih. Yang Di Atas pasti punya rencana tersendiri dan aku sangat percaya akan hal itu. Mungkin juga Yang Di Atas masih memberiku waktu untuk lebih memperbaiki diri. Walaupun, sudah lewat 3 tahun dari waktu yang diimpikan. Dulu, aku bermimpi menikah di umur 25 tahun :)

Beberapa orang mengira aku terlalu banyak memilih. Mengira aku begini, aku begitu; terutama mengenai kriteria. Mungkin mereka belum begitu mengenalku... Simply, I'm so simple.

Teringat di salah satu halaman sebuah buku yang tidak sengaja aku temukan tempo hari, redaksi tepat nya aku tidak ingat tapi kurang lebih nya seperti ini : Mari serahkan urusan jodoh hanya kepada-Nya. Karena Dia lah yang menciptakan kita, maka sesungguhnya Dia lah juga yang paling mengetahui seseorang yang terbaik untuk disandingkan dengan kita...

Aku memilih percaya. Berdoa... Dan terus berdoa...