Sunday, 17 May 2015

Jakarta oh Jekardah... #Catatan 'Ngantor' di Thamrin

Hampir seminggu terakhir ini saya "ngantor" di Jakarta, tepatnya di daerah Thamrin. Dulu sebelum pindah kantor ke Serpong, unit kerja dimana saya berada di dalamnya memang 'bermarkas' di sana, di jantung kota Jakarta sebelum akhirnya harus pindah ke wilayah pinggiran Tangerang Selatan. Serpong coret, lah ya dibilangnya....
Ketika saya masuk, kebetulan sudah pindah kemari. 

Hampir 2 bulan ini, sepertinya kerjaan saya lebih banyak mengurusi proposal, dari proposal satu ke proposal yang lainnya ceritanya. Sementara, jadi proposal engineer dulu. Ngurusin proposal terus, kapan di propose nya? #Eaaaa... Malah curcol!
Jadi, ngantor di Thamrin beberapa hari terakhir ini masih dalam rangka urusan propose mempropose. Eh, maksudnya proposal. Beneran proposal. Swueeerrrr!

Saya tak hendak membahas tentang proposal. Toh, Alhamdulillah sudah beres terkumpul semua. Walaupun, entah yang mana yang akan goal nantinya. Eh, entah ada yang lolos atau tidak. Yang penting, saya sudah menjalankan dan mengerjakan tugas sebaik-baiknya, semampu yang saya bisa. Yes?! Bukan begitu, seharusnya alibi seorang pegawai baru banget? :)




Yang ingin saya bicarakan adalah kemacetan Jakarta. Topik basi ya! Biarin... Basi, tapi seperti tidak ada habisnya. Salah satu hal yang paling tidak saya sukai dari Jakarta adalah, KEMACETAN! Dan ke-crowded-annya. Bagi saya yang seorang makhluk pecinta damai dan ketenangan ini (ditambah dengan seorang mepet-er) kemacetan dan ke-crowded-an Jakarta seperti horror tersendiri. Saya pernah merasakannya! Ya, walaupun cuma sempat 2 tahunan mencicipinya, cukup untuk memutuskan: sebaiknya tidak untuk terus berada di Kota Jekardah. Tapi boleh lah, untuk sesekali, dua kali, tiga kali atau berkali-kali main maupun berkunjung kesana. :D

Saya dulu sempat 'ngantor' di daerah Gatsu dan pernah juga di bilangan Sudirman. Kawasan perkantoran yang terbilang sibuk.
Seringnya, naik ojeg jadi pilihan kalau sudah kepepet. Baik kepepet waktu untuk absen kalau tidak mau menghadap atasan untuk mendapatkan tanda tangan maupun kepepet bis selalu penuh. Di kantor pertama saya, bagi yang telat melewati waktu toleransi, diharuskan mendapatkan surat ijin dan tanda tangan dari atasan. Dan sumpah, minta tanda tangan atasan karena telat itu bukan suatu hal yang menyenangkan. Sedangkan di kantor kedua saya yang di Sudirman, telat tidak terlalu menjadi permasalahan. Lha iya! Lha wong seringnya disuruh lembur tanpa ada insentif atau uang lembur. Tapi masih lumayan lah dapat makan malam, daripada lumanyun. Iya gak? 

Di kantor yang kedua ini, walaupun telat tidak terlalu menjadi soal, tetap saja ya gak enak aja rasanya gitu di mesin check clock isinya merah semua. Dan juga, kalau sudah kesiangan dikit, bisa dipastikan semakin muacet dan entah berapa lama sampai kantornya. Jadinya, tetap saja ojeg jadi langganan setia saya. Lumayan juga kalau dihitung-hitung, sekali jalan 25 ribu - 30 ribu. Kalau tiap hari sudah berapa. Belum lagi kalau PP ke kantor pakai ojeg. Habis deh gajinya untuk ngojyeg, haha...

Karena macet, jadi banyak waktu yang terbuang dan dihabiskan di jalan. Bagi saya, macet itu pemborosan! Pemborosan waktu, tenaga, energi dan bahan bakar. Bayangkan seandainya tidak ada macet, mungkin mereka-mereka yang terjebak kemacetan itu sudah sampai rumah dan sudah berada ditengah-tengah keluarga. Bisa mengerjakan hal-hal lainnya yang lebih bermanfaat. Memasak untuk keluarga, misalnya. Dan hal-hal lainnya, bahkan bisa istirahat dan bermimpi entah sampai mana, alih-alih stuck di jalan raya. Dan bayangkan juga berapa kilo liter bahan bakar yang terbakar percuma karena kemacetan...
Dua kata, sangat merugikan!

Saya pusing jika terlalu lama menghirup asap knalpot. Ini bukan gaya-gayaan, tapi memang suatu kenyataan. Saya merasa puyeng berada di jalan yang macet. Apalagi kalau misalnya habis hujan, dipastikan kemacetan luar biasa akan terjadi. Padahal, dulu saya kost di daerah Tebet  dan tidak terlalu jauh dari Sudirman. Tapi jangan tanya berapa jam saya sampai di kosan. Jika beruntung, setengah jam sudah bisa sampai. Jika tidak, bisa berjam-jam hanya untuk menempuh jarak yang tidak sampai belasan kilo. Alhasil, sesampai di kosan, saya seperti kehabisan energi. Badan terasa remuk redam dan kepala pusing kliyengan. Maklum, asalnya dari kampung sih ya. Rumah pinggir sawah pula. Mungkin tidak cocok dengan suasana metropolitan, barangkali. Memang, sayanya udik!

Bagi saya, saat-saat berangkat dan pulang kantor kala itu, saat-saat harus menembus kemacetan adalah hal yang paling tidak saya sukai.

Dan bisa dibilang beruntung, sekarang saya berkantor tidak lagi di Jakarta. Beruntung berangkat-pulang kantor terhindar dari kemacetan. Walaupun bisa jadi Serpong coret ini berpotensi macet, setidaknya sekarang masih aman. Walaupun keadaannya seperti 'ala kadar' tidak seperti di Jakarta, setidaknya saya masih bisa berangkat ke kantor pukul setengah 9 tanpa takut telat. Horeee...

Dan Jakarta, macetnya tetap sama. Justru semakin parah. 

Dari ngantor di Jakarta kemarin, baru tahu kalau ongkos Kopaja naik jadi 4 ribu. Terakhir kemarin masih 3 ribu. Eh, kemana aja?!

Pas pulang ke Serpong naik kereta sama saja ya, crowded-nya! Walaupun di gerbong kereta khusus wanita, justru berlaku hukum rimba: dorong-dorongan, yang kuat lah yang bisa masuk. Hahaha... 

Jakarta oh Jekardah....



2 comments:

win said...

whuaaaa.... kangeeeen Thamriiiiiiinnnnnn :D

Idham said...

Baru sebentar di SBY udah kangen ya...
Siap2 rindu berat dong klo udah berangkat ke Yurop sanah xD