Tuesday, 16 June 2015

Resensi Buku : Garis Batas, Karya Agustinus Wibowo


Garis Batas, karya Agustinus Wibowo, buku ini mengisahkan perjalanan sang penulis di negeri-negeri Asia Tengah; negeri-negeri berakhiran -Stan pecahan Uni Soviet. Dimulai dari Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan, ditempuh melalui jalur darat. Melalui buku ini, penulis seperti mengajak pembaca berpetualang menjelajah negeri-negeri yang baru terbentuk kurang lebih 20 tahunan yang lalu. Mengamati refleksi berbagai hal, mulai dari bentang alam, bagaimana negara2 tsb bekerja, bagaimana roda2nya berputar, bagaimana pemikiran manusia2nya, bagaimana agama & kepercayaan dijalankan dst dst. Lebih menarik lagi, melihat bagaimana wajah Islam di negeri2 tsb, bagaimana dijalankan dan berasimilasi dengan kultur setempat. Setelah dilarang dan dibungkam selama berpuluh-puluh tahun oleh komunisme, Islam di Asia Tengah pun menunjukkan geliatnya setelah negara-negara ini menyatakan kemerdekaan. Pun, negeri Stan-Stan tersebut sebenarnya masih dalam proses pencarian jati diri masing-masing, yg masih tertatih dan mencoba untuk tetap mempertahankan eksistensi nya.

Garis batas, seperti yang dikisahkan dalam buku ini, telah memisahkan manusia satu dan yang lainnya, bangsa yg satu dan yg lainnya. Melalui garis batas, manusia telah dikotak-kotakkan; berdasarkan suku, bahasa, agama, daerah dst dst. Karena garis batas, manusia merasa superior di antara yang lainnya, bahkan sampai sampai saling merendahkan.

Tajikistan - Negeri orang Tajik, selain memiliki bentang alam yg cantik jg terkenal dg paras para wanita nya yg juga elok. Namun, orang asing yg masuk ke negeri ini akan dipusingkan dgn visa & diplomat yg korup serta birokrasi yg njlimet. Termasuk jg sang penulis. Ternyata kehidupan di negeri ini tidak lah mudah. Banyak penduduk kehilangan pekerjaan dan kemiskinan pun dimana-mana. Pun begitu, orang2 di negeri ini sangat menghormati tamu yg datang.

Kirgizstan - Negara orang Kirgiz, masih saudara dgn Tajikistan, dulunya adalah bangsa nomaden yg kmudian di-'rumah'-kan ketika pendudukan komunis. Di sini, bisa dikatakan 11-12 dengan Tajikistan. Namun pengaruh Uni Soviet masih mengakar dan terasa kuat. Di negeri yg tergolong miskin ini ternyata pendidikan sangat diutamakan. Namun ironisnya, lapangan pekerjaan bisa dikatakan tidak tersedia.

Kazakhstan - Negeri orang Kazakh, tiba-tiba menjadi negeri yg kaya mendadak diantara negeri2 Stan lainnya karena memiliki sumber minyak melimpah ruah. Namun biaya hidup sangatlah mahal di negeri ini seakan gaji tinggi pun tidak ada artinya.

Uzbekistan - Negeri orang Uzbek, disebutkan sebagai 'Bukan Negara Normal'. Nilai mata uang Sum sangat merosot. Hingga dikisahkan untuk membeli tiket pesawat pulang ke Indonesia, sang penulis harus membawa 2 kantung plastik penuh uang.

Turkmenistan - Negeri dimana patung Turkmenbashi tersebar diseluruh negeri dan Ruhnama menjadi 'kitab suci'. Kala itu, rakyat terkungkung dan terisolasi karena negara menarik diri dari luar.

Kisah perjalanan ini sebenarnya pernah saya ikuti dulu ketika masih di bangku kuliah. Dalam salah satu kolom di Kompas, seperti tersihir untuk terus membaca dan terus mengikuti kisah perjalanan Agustinus... Sangat menarik! Dan tidak hanya sekedar backpacker-ing... Lebih dari itu... Membuka pikiran & wawasan, belajar bersyukur dari hasil perjalanan tsb; mensyukuri hidup, pun di luar sana masih banyak negara2 yg tidak jauh lebih baik dari Indonesia, menyaksikan mahakarya dan ciptaan Allah SWT melalui bentang alam yg diciptakan; yang akan semakin menambah keimanan, merenungi arti perjalanan itu sendiri sebagai suatu proses, pencarian jati diri dst dst.

Setelah "Selimut Debu" & "Garis Batas", next adalah "Titik Nol", buku2 Avgustin sangat worthed untuk dikoleksi... Banyak hal yang ditemui dari membaca buku ini hingga terkadang membuat mata terpicing dan terbelalak seolah tidak percaya. Namun mungkin memang seperti itu lah adanya...


Spasibo...

0 comments: